KUPANG, mediantt.com – Komitmen untuk perawatan anak dengan sumbing bibir dan/atau langit-langit tidak berhenti pada operasi gratis. Smile Train Indonesia bersama RS St. Carolus Borromeus Kupang (RSCB) menggelar Speech Camp, pada Jumat – Minggu (18-20/9/2026) di Gedung Rawat Jalan Terpadu RSCB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Smile Train untuk menyediakan pelayanan sumbing komprehensif atau comprehensive cleft care (CCC).
Smile Train adalah organisasi nirlaba global berpusat di New York, Amerika Serikat, yang fokus bermitra dengan penyedia layanan lokal untuk pasien dengan sumbing bibir dan/atau langit-langit.
Smile Train telah membantu lebih dari 90.000 pasien di Indonesia sejak 2002, menegaskan model berkelanjutannya dengan memberdayakan rumah sakit dan tenaga medis lokal agar anak-anak dengan sumbing bibir dan/atau langit-langit dapat terlayani dan dapat meraih masa depan yang lebih baik.
Dalam kegiatan ini, dihadirkan dua speech therapist mitra Smile Train, Upik Supiaty dan Dwi Krisyanti. Keduanya menangani pasien secara intensif bersama orang tua atau pendamping pasien.
Di hari pertama, pasien dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing enam pasien per terapis untuk dilakukan asesmen awal. Asesmen awal ini berupa sesi wawancara dan observasi yang direkam video untuk di-upload ke database global Smile Train.
Asesmen awal ini dilanjutkan dengan speech therapy berdasarkan kelompok target bunyi dan ditutup dengan fun games. Di akhir hari, diberikan tugas untuk latihan mandiri bersama orang tua.
Di hari kedua, terapi difokuskan pada latihan intensif untuk target bunyi berbeda, dan bunyi lainnya yang sulit diucapkan. Puncaknya di hari ketiga, Minggu (20/9), dilaksanakan terapi lanjutan, pemeriksaan hasil latihan penugasan mandiri, dan perekaman video asesmen akhir untuk database global Smile Train. Asesmen akhir ini sekaligus menjadi media pengukuran capaian kegiatan selama tiga hari.
Perwakilan Manajemen RSCB, dr. Vivi Kurniati Tjahjadi, M.Si, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih untuk Smile Train yang bersama dengan RSCB terus memberikan perhatian kepada anak dengan sumbing bibir dan/atau langit-langit.
“Kita tahu anak dengan sumbing langit-langit setelah operasi masih butuh terapi wicara lanjutan. Kalau tidak, bunyinya sengau dan tidak jelas. Melalui speech camp intensif ini kita kebut perkembangannya,” ujar dr Vivi.
dr Vivi mengharapkan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih banyak mengetahui komitmen CCC ini sehingga anak yang mengalami sumbing bibir dan/langit-langit bisa dibantu melalui kegiatan serupa.
“Saya berharap banyak masyarakat yang tahu kegiatan ini agar bisa membawa keluarga yang mengalami sumbing bibir dan/atau langit-langit untuk bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif,“ katanya.
Sementara itu, dr. Robertus Arian Datusanantyo, Sp.B.P.R.E., Subsp.K.M.(K), dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi & estetik sekaligus konsultan bedah kraniomaksilofasial menjelaskan, target utama speech camp adalah anak-anak minimal berusia tiga tahun dengan sumbing langit-langit yang telah menjalani operasi penutupan sumbing langit-langit atau biasa disebut operasi palatoplasty.
“Untuk anak-anak yang diikutkan di Speech Camp itu adalah anak-anak dengan sumbing langit-langit baik segmeb keras maupun lunak, terlepas ada sumbing bibir atau tidak,” ujarnya.
Menurut dr. Arian yang sudah melayani operasi sumbing bibir dan/atau langit-langit di NTT sejak 2020, operasi palatoplasty harus dilanjutkan dengan terapi wicara agar kemampuan bicara anak optimal. Karena belum ada cukup aumber daya untuk melakukannya secara rutin, maka diadakan speech camp.
Ia berharap, semakin luas diketahui dan disadari bahwa tata laksana sumbing bibir dan/atau langit-langit tidak hanya operasi saja.
“Selain operasi, perlu pelayanan gizi, pemeriksaan pendengaran, terapi bicara, dan dukungan sosial. Operasinya pun tidak hanya penutupan sumbing, tetapi juga perbaikan hidung dan revisi bila masih ada masalah setelah terapi bicara. Penting juga adalah pelayanan ortodonsi atau pembentukan lengkung rahang oleh dokter gigi, namun belum sepenuhnya bisa dilayani di NTT,” katanya. (roi)
