KUPANG, mediantt.com – Komunitas Sastra Dusun Flobamora bersiap menggelar kembali ajang dua tahunan Festival Sastra Santarang (FSS) 2026 pada 28 – 29 Agustus 2026, di Rumah Dusun Flobamora, Jalan Mutis Tuan, Naimata, Kupang. Perhelatan kali ini mengusung tema Kota dan Kita sekaligus menandai perayaan 15 tahun perjalanan komunitas tersebut di belantara sastra Nusa Tenggara Timur.
Festival ini bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI ini dirancang untuk menelisik hubungan antara Kota Kupang sebagai ruang faktual dengan bagaimana realitas perkotaan tersebut direkam, ditafsirkan, dan dimaknai melalui karya seni.
Ketua Panitia Pelaksana FSS 2026, Saddam HP, mengatakan, tema “Kota dan Kita” dipilih untuk melihat hubungan antara kota sebagai ruang faktual dengan bagaimana kota hadir, direkam, ditafsirkan, dan dimaknai melalui karya seni, khususnya sastra.
“Guna mendapatkan multi-pemaknaan, FSS 2026 menghadirkan pameran arsip Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Pameran ini tidak hanya menjadi sesi kegiatan tambahan, tetapi memperkuat tema festival,” kata Saddam.
Ia menjelaskan, pameran arsip tersebut menjadi upaya untuk melihat perjalanan komunitas dalam memaknai Kota Kupang sebagai ruang tumbuh, sekaligus merekam perjalanan kerja kolektif komunitas sastra di Kota Kupang.
Secara khusus, FSS 2026 bertujuan menemukan gambaran kota dalam karya seni dan kaitannya dengan kondisi Kota Kupang saat ini.
Festival ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan dan mempersatukan orang-orang dari berbagai kalangan di Kota Kupang melalui seni, sekaligus menandai 15 tahun berdirinya Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kota Kupang.
Saddam juga menjelaskan, Festival Sastra Santarang 2026 dilaksanakan dalam dua bentuk kegiatan, yakni seminar sastra dan pameran arsip komunitas.
Seminar sastra bertujuan mendalami tema “Kota dan Kita” serta melihat bagaimana tema tersebut hadir dalam karya sastra.
Para pemateri akan mengeksplorasi sejarah Kota Kupang dan perkembangannya pada masa kini, kemudian melihat irisannya dengan modus mimesis “Kota Kupang” dalam karya seni. Pembahasan tersebut terutama diarahkan untuk melihat ruang yang mungkin meniru ataupun membelokkan realitas menjadi pemaknaan yang baru.
Seminar tersebut berlangsung dua hari dengan total empat sesi diskusi, masing-masing dua sesi pada hari pertama dan dua sesi pada hari kedua. Kegiatan ini menghadirkan 11 narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain seniman, peneliti, akademisi, guru, dan pegiat komunitas.
Selain seminar, FSS 2026 menghadirkan pameran arsip komunitas yang menampilkan berbagai dokumentasi perjalanan Komunitas Sastra Dusun Flobamora.
Arsip yang dipamerkan meliputi foto, kliping koran, jurnal sastra, serta buku-buku yang diterbitkan Penerbit Dusun Flobamora. Koleksi tersebut merekam ingatan tentang awal berdirinya Komunitas Sastra Dusun Flobamora, proses pertumbuhannya dari tahun ke tahun, serta berbagai kegiatan dan karya yang telah dihasilkan hingga saat ini.
15 Tahun Komunitas Sastra Dusun Flobamora
Festival Sastra Santarang pertama kali dilaksanakan pada 2015. Festival ini menjadi bagian dari perayaan kerja kolektif Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang secara berkelanjutan menerbitkan Majalah Sastra Santarang. Nama “Santarang” merupakan akronim dari Sabana Lontar Karang.
Memasuki tahun ke-15 perjalanan Komunitas Sastra Dusun Flobamora, FSS 2026 tidak hanya menjadi ruang perayaan sastra, tetapi juga momentum untuk melihat kembali perjalanan komunitas, hubungan seni dengan kota, serta bagaimana masyarakat memaknai ruang hidupnya melalui karya.
FSS 2026 turut mengundang komunitas lintas seni, sekolah, serta berbagai kalangan masyarakat untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan. Pameran arsip komunitas juga terbuka bagi masyarakat umum sebagai ruang untuk mengenal perjalanan Komunitas Sastra Dusun Flobamora sekaligus melihat kembali hubungan seni, komunitas, dan Kota Kupang. (roy)
