Tangis dan harapan menyatu di Posko Dampek, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis (20/8/2026). Saat tiba di lokasi pengungsian, Gubernur Melki Laka Lena langsung disambut seruan pilu seorang penyintas gempa. “Pak, bantu kami, Pak. Kami masyarakat yang terkena gempa. Bantu kami, Pak!” ujar warga itu sambil memeluk sang gubernur. Momen haru tersebut menggambarkan kondisi ribuan warga Flores yang masih berjuang bangkit dari dampak bencana.
LAMBALEDA – Pelukan erat seorang penyintas gempa kepada Gubernur NTT Melki Laka Lena menjadi salah satu potret paling menyentuh dalam kunjungan ke Posko Dampek, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis (20/8/2026).
Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian yang masih dirasakan warga, seruan sederhana namun penuh harapan itu menggema di lokasi pengungsian.
“Pak, bantu kami, Pak. Kami masyarakat yang terkena gempa. Bantu kami, Pak!” kata seorang warga sambil memeluk Gubernur Melki.
Alih-alih sekadar meninjau, Gubernur Melki memilih duduk dan berbincang langsung dengan masyarakat. Ia mendengarkan berbagai keluhan, kebutuhan, serta harapan warga yang hingga kini masih berupaya memulihkan kehidupan mereka pascagempa.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Melki didampingi Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal. Kehadiran dua kepala daerah itu menjadi simbol kuat solidaritas antardaerah bagi masyarakat Flores yang sedang menghadapi masa sulit.
Di Posko Dampek, Pemerintah Provinsi NTB menghadirkan dapur umum dan posko medis yang melayani kebutuhan masyarakat terdampak. Kehadiran dua fasilitas tersebut membantu memastikan kebutuhan pangan dan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat.
Gubernur Melki menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Pemerintah Provinsi NTB dan Bali.
“Kehadiran layanan dapur umum dan posko medis ini sangat membantu memenuhi kebutuhan dasar dan pelayanan kesehatan masyarakat terdampak,” ujar Melki.
Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat Flores, ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Bali dan Gubernur NTB yang bergerak cepat mengirim bantuan.
“Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa dana, tetapi juga tenaga kesehatan serta berbagai kebutuhan logistik yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini,” katanya.
Pemulihan Masih Panjang
Meski penanganan darurat terus berjalan, Gubernur Melki mengingatkan bahwa tantangan berikutnya jauh lebih besar. Setelah masa tanggap darurat berakhir, Flores masih harus menghadapi proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang membutuhkan waktu, tenaga, dan dukungan berbagai pihak.
“Penanganan gempa Flores tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Setelah fase ini berakhir, pekerjaan besar masih menanti, terutama rehabilitasi dan rekonstruksi,” tegasnya.
Menurut Melki, kerusakan akibat gempa tidak hanya menimpa rumah-rumah warga, tetapi juga kantor pemerintahan, rumah ibadah, sekolah, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Karena itu, proses pemulihan tidak mungkin dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah.
Pemerintah Provinsi NTT, kata dia, terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten, pemerintah pusat, TNI-Polri, lembaga terkait, serta pemerintah provinsi tetangga agar penanganan bencana berjalan cepat, terpadu, dan tepat sasaran.
“Sinergi pemerintah daerah, pemerintah pusat, TNI-Polri, masyarakat, serta provinsi tetangga akan terus kita perkuat agar Flores dapat segera bangkit dan masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman dan layak,” ujarnya.
Bagi warga yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian, bantuan hari ini memang sangat penting. Namun yang tidak kalah penting adalah kepastian bahwa mereka dapat kembali memiliki rumah, pekerjaan, dan kehidupan yang layak.
Karena itu, kunjungan ke Posko
Dampek bukan sekadar agenda peninjauan. Di balik pelukan seorang penyintas kepada gubernurnya, tersimpan harapan besar agar Flores tidak hanya mampu melewati masa darurat, tetapi juga bangkit lebih kuat setelah bencana. (oan/jdz)


