Latest Posts

KKN Warmadewa Hadirkan Inovasi Budidaya Lele dan Krisan di Warloka Pesisir

DESA WARLOKA Pesisir, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ekonomi produktif berbasis sumber daya lokal. Desa ini saat ini berstatus sebagai desa persiapan yang masih dalam proses pemekaran dari desa induknya, yaitu Desa Warloka.

Berada di kawasan Kecamatan Komodo yang menjadi salah satu wilayah penyangga destinasi pariwisata unggulan Labuan Bajo, Desa Warloka Pesisir memiliki karakteristik wilayah pesisir dengan potensi sumber daya alam, aktivitas masyarakat pesisir, serta peluang pengembangan sektor ekonomi yang cukup beragam.

Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian mahasiswa KKN Nasional periode II Universitas Warmadewa dalam merancang program yang tidak hanya memberikan manfaat selama kegiatan KKN berlangsung, tetapi juga memiliki peluang untuk dilanjutkan dan dikembangkan oleh masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Nasional Periode II Universitas Warmadewa menghadirkan program kerja “Budidaya Ikan Lele Tumpang Sari Bunga Krisan”. Program ini menggabungkan dua komoditas berbeda, yaitu ikan lele dan bunga krisan, dalam satu sistem budidaya yang dirancang untuk memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Melihat Peluang dari Tingginya Permintaan Ikan Lele

Pemilihan ikan lele sebagai salah satu komoditas dalam program ini tidak terlepas dari adanya kebutuhan masyarakat terhadap ikan konsumsi. Berdasarkan informasi dan pengamatan tim KKN di lapangan, permintaan terhadap ikan lele di NTT cukup tinggi, termasuk untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Namun, salah satu persoalan yang ditemukan adalah tingginya biaya penyediaan bibit lele di wilayah Labuan Bajo.

Berdasarkan informasi yang diperoleh tim, bibit lele berukuran sekitar 6 – 7 cm di Bali dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp300 per ekor, sedangkan bibit dengan ukuran yang relatif sama di Labuan Bajo berkisar antara Rp1.500 – Rp2.000 per ekor.
Perbedaan harga tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang ingin memulai usaha budidaya lele karena biaya bibit merupakan salah satu komponen modal awal yang cukup penting.
Namun, kondisi tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai hambatan. Mahasiswa KKN melihat adanya peluang ekonomi di balik tingginya harga bibit lele di Labuan Bajo.

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah membangun jaringan pasokan bibit dari daerah yang memiliki harga lebih rendah. Dengan memperoleh bibit dari luar daerah melalui jalur distribusi yang efisien, pembudidaya dapat berupaya menekan biaya modal awal, sementara hasil panen dapat dipasarkan mengikuti harga yang berlaku di pasar Labuan Bajo. Dengan demikian, kebutuhan ikan lele yang tinggi dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya, sekaligus membuka kemungkinan munculnya usaha pendukung seperti penyediaan atau distribusi bibit lele.

Krisan: Kebutuhan Tinggi, Petani Lokal Masih Terbatas

Selain ikan lele, bunga krisan dipilih karena melihat adanya peluang lain yang cukup besar di Nusa Tenggara Timur, khususnya berkaitan dengan kebutuhan bunga untuk berbagai keperluan masyarakat. Kebutuhan terhadap bunga di NTT dinilai cukup tinggi, baik untuk dekorasi, florist, kegiatan keagamaan, maupun berbagai kegiatan masyarakat lainnya. Namun, di sisi lain, jumlah petani atau pelaku budidaya bunga di wilayah NTT masih relatif terbatas.

Kondisi tersebut membuat sebagian kebutuhan bunga harus didatangkan dari luar daerah. Bahkan, masyarakat atau pelaku usaha tertentu harus melakukan pemesanan bunga dari Pulau Jawa maupun Bali dengan biaya yang lebih tinggi karena adanya tambahan biaya distribusi dan transportasi.

Keterbatasan produksi bunga lokal tersebut pada akhirnya membuat penggunaan bunga segar menjadi lebih sulit dijangkau. Dalam beberapa kebutuhan dekorasi maupun kegiatan masyarakat, bunga plastik bahkan masih menjadi salah satu alternatif karena lebih mudah diperoleh dan dapat digunakan berulang kali. Situasi tersebut justru menunjukkan adanya celah pasar yang dapat dikembangkan. Apabila budidaya bunga dapat dilakukan secara lokal dan berkelanjutan, masyarakat tidak hanya dapat memenuhi sebagian kebutuhan bunga di wilayahnya sendiri, tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Melalui budidaya krisan, mahasiswa KKN melihat peluang untuk memperkenalkan komoditas florikultura yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi. Kehadiran produksi bunga lokal diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendorong berkembangnya kegiatan usaha baru seperti budidaya bunga, florist, hingga penyediaan bunga untuk berbagai kegiatan masyarakat.

Menggabungkan Dua Komoditas dalam Satu Sistem

Berangkat dari dua potensi tersebut, mahasiswa KKN kemudian merancang konsep tumpang sari ikan lele dan bunga krisan. Berbeda dengan tumpang sari tanaman pada umumnya, sistem yang diterapkan mengintegrasikan kegiatan budidaya ikan dengan tanaman sehingga sumber daya dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya.

Untuk merealisasikan program tersebut, mahasiswa KKN membawa berbagai kelengkapan budidaya, salah satunya berupa kolam terpal berbentuk bundar berukuran 2 x 1 meter yang dilengkapi dengan kebutuhan pendukung budidaya ikan lele. Tanaman krisan kemudian ditempatkan di sekitar kolam dan dilengkapi dengan sistem irigasi tetes. Salah satu inovasi utama dari sistem ini adalah pemanfaatan kembali air kolam lele.

Ketika dilakukan pengurangan atau pergantian air kolam, air lama tidak langsung dibuang seperti yang umumnya dilakukan dalam kegiatan budidaya ikan. Air tersebut terlebih dahulu ditampung untuk kemudian dipompa menuju jaringan irigasi tetes yang mengairi tanaman krisan di sekitar kolam.

Air kolam yang sebelumnya berpotensi menjadi buangan dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem budidaya. Dengan cara tersebut, kegiatan budidaya ikan dan tanaman dapat saling terhubung melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

Konsep inilah yang menjadi salah satu inti dari program Budidaya Ikan Lele Tumpang Sari Bunga Krisan, yaitu mengembangkan dua komoditas dengan karakteristik berbeda dalam satu kawasan dan mengoptimalkan hubungan antarkomponen di dalamnya.

Teknologi Otomatis untuk Menjawab Keterbatasan Waktu Masyarakat

Mahasiswa KKN juga mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat dalam merancang sistem budidaya. Sebagian masyarakat Desa Warloka Pesisir memiliki pekerjaan utama sebagai nelayan maupun pekerjaan lainnya, sehingga tidak selalu memiliki waktu untuk melakukan pengelolaan budidaya secara intensif setiap hari. Karena itu, program ini tidak hanya menghadirkan sistem budidaya, tetapi juga memanfaatkan teknologi sederhana berupa timer otomatis.

Dua timer otomatis digunakan untuk fungsi yang berbeda. Timer pertama dihubungkan dengan pompa air untuk mengatur waktu penyiraman tanaman melalui sistem irigasi tetes. Timer kedua digunakan untuk mengatur waktu penyalaan dan pemadaman lampu sesuai dengan kebutuhan tanaman krisan. Dengan teknologi tersebut, masyarakat dapat mengatur jadwal penyiraman dan pencahayaan tanpa harus selalu mengoperasikan peralatan secara manual. Sistem ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin menjalankan kegiatan budidaya tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama mereka.

Untuk mendukung kebutuhan oksigen ikan, mahasiswa juga menyiapkan dua unit aerator sebagai sumber oksigen tambahan bagi ikan lele. Penggunaan teknologi sederhana tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat karena dinilai dapat mempermudah proses pemeliharaan. Masyarakat tidak harus selalu berada di lokasi untuk menjalankan setiap komponen sistem karena beberapa kegiatan dapat diatur secara otomatis.

Persiapan Dilakukan Bersama Masyarakat

Dalam proses pembangunan program, mahasiswa KKN tidak bekerja sendiri. Proses persiapan lahan, pemasangan kolam, penataan tanaman, serta instalasi sistem dilakukan bersama masyarakat Desa Warloka Pesisir. Keterlibatan masyarakat sejak tahap awal menjadi bagian penting dari program karena mahasiswa berharap masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memahami cara kerja sistem sehingga dapat mengoperasikan, merawat, dan mengembangkannya setelah kegiatan KKN berakhir.

Antusiasme masyarakat terlihat selama proses persiapan berlangsung. Warga menunjukkan ketertarikan terhadap konsep budidaya yang diperkenalkan karena melihat adanya peluang untuk mengembangkan kegiatan tersebut sebagai salah satu alternatif usaha produktif di desa.

Sosialisasi Dihadiri Perangkat Desa dan Masyarakat

Setelah proses persiapan dan pembangunan sistem, kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada Minggu, 9 Agustus 2026 di Desa Warloka Pesisir. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah perangkat dan unsur masyarakat Desa Warloka Pesisir, di antaranya Sekretaris Desa, Kepala Dusun I, Kepala Dusun II, Ketua Pokdarwis Desa Warloka Pesisir, Ketua UMKM Desa Warloka Pesisir, serta masyarakat Desa Warloka Pesisir.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa menjelaskan konsep budidaya lele dan krisan secara terpadu, mulai dari pemeliharaan ikan, pemanfaatan air kolam, sistem irigasi tetes, penggunaan timer otomatis, hingga penggunaan aerator. Masyarakat juga diberikan gambaran mengenai potensi ekonomi dari kedua komoditas tersebut serta bagaimana sistem yang telah dibangun dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan sosialisasi menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat secara langsung penerapan teknologi dan sistem budidaya yang sebelumnya mungkin belum familiar bagi sebagian warga.

Apresiasi Pemerintah Desa terhadap Inovasi Mahasiswa

Ahmad selaku Sekretaris Desa Warloka Pesisir menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada mahasiswa KKN Nasional Periode II Universitas Warmadewa atas kehadiran dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat. Dia mengapresiasi mahasiswa yang telah hadir membantu masyarakat sekaligus membawa inovasi dan peluang usaha baru yang dapat dikembangkan di Desa Warloka Pesisir.

Kehadiran program tersebut diharapkan tidak hanya memberikan tambahan pengetahuan, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal dan pengembangan kegiatan ekonomi produktif.

Harapan agar Program Terus Berjalan

Sementara itu, Chiko selaku Koordinator Desa Kelompok KKN Warloka Pesisir berharap, program yang telah dibangun bersama masyarakat tidak berhenti ketika masa KKN berakhir. “Kami berharap program ini tidak hanya berjalan ketika kami berada di desa dan kemudian berhenti saat kami kembali ke Bali. Kami berharap program yang sudah kami bangun bersama masyarakat ini dapat terus dilanjutkan, dirawat, dan bahkan dikembangkan lagi oleh pihak desa, baik perangkat desa, UMKM, Pokdarwis, maupun masyarakat itu sendiri,” katanya.

Harapan tersebut menjadi salah satu tujuan utama dari pelaksanaan program Budidaya Ikan Lele Tumpang Sari Bunga Krisan. Mahasiswa tidak hanya ingin meninggalkan fasilitas budidaya, tetapi juga memperkenalkan sebuah sistem yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif masyarakat.

Ke depan, pengembangan program dapat diarahkan tidak hanya pada kegiatan pembesaran ikan dan produksi bunga, tetapi juga pada penguatan rantai usaha. Kebutuhan bibit lele, misalnya, dapat menjadi peluang untuk membangun jaringan pasokan yang lebih efisien, sementara tingginya kebutuhan bunga dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk mulai mengembangkan produksi bunga lokal dan usaha turunannya.

Dengan demikian, program ini diharapkan dapat menjadi titik awal bagi lahirnya kegiatan ekonomi baru yang sesuai dengan potensi Desa Warloka Pesisir.

Dari Potensi Lokal Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Melalui Budidaya Ikan Lele Tumpang Sari Bunga Krisan, mahasiswa KKN Nasional Periode II Universitas Warmadewa berupaya memperkenalkan konsep pertanian terpadu yang menggabungkan budidaya ikan, budidaya tanaman, pemanfaatan kembali air, serta teknologi otomatisasi dalam satu sistem.

Program ini juga menunjukkan bahwa keterbatasan yang ada di suatu daerah dapat dilihat dari sudut pandang berbeda. Tingginya harga bibit lele di Labuan Bajo dapat menjadi tantangan bagi pembudidaya, tetapi sekaligus membuka peluang usaha dalam penyediaan dan distribusi bibit. Begitu pula dengan keterbatasan petani bunga di NTT di tengah tingginya kebutuhan bunga, yang dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan florikultura lokal.

Dengan memanfaatkan potensi tersebut secara tepat dan didukung kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, kelompok usaha, serta pihak lainnya, Desa Warloka Pesisir memiliki peluang untuk terus mengembangkan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya.

Bagi mahasiswa KKN, program ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membawa pengetahuan, teknologi, serta gagasan baru ke desa. Sementara bagi masyarakat Warloka Pesisir, sistem yang telah diperkenalkan diharapkan dapat menjadi awal dari pengembangan usaha baru yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Dari kolam lele hingga bunga krisan, dari teknologi sederhana hingga peluang usaha, program ini diharapkan menjadi langkah kecil yang dapat tumbuh menjadi manfaat besar bagi Desa Warloka Pesisir. (*/jdz)

Latest Posts

spot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.