Warga Konsumsi Ubi Hutan Tiga Kali Dalam Satu Hari

by -124 views

MAUMERE – Sebanyak 16 kepala keluarga di Desa Natarmage, Kecamatan Waiblama, diketahui selama satu bulan terakhir ini telah mengonsumsi ubi hutan beracun atau dalam bahasa setempat disebut magar.

Mereka mengonsumsi sebanyak tiga kali dalam satu hari. Kondisi tragis ini dipicu oleh bencana kekeringan, angin kencang, dan serangan hama penyakit yang menyerang Waiblama sejak awal tahun 2017 lalu. Bahkan dikabarkan bencana ini telah meluas sampai ke seluruh wilayah di daerah ini.

Tercacat sudah 33 desa yang tersebar pada 11 kecamatan telah melaporkan kondisi rawan pangan ke Dinas Ketahanan Kabupaten Sikka.

Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera yang ditemui usai mengikuti Launching Pemilihan Umum Bupati dan Wakil Bupati Sikka Tahun 2018 di KPU Sikka, Rabu (4/10), mengakui Kabupaten Sikka sedang dilanda bencana rawan pangan.

“Jadi memang akibat dari bencana, angin dan lain-lain, sehingga banyak tanaman produksi yang tidak berhasil. Pada September lalu kita pantau di lapangan, dan kita temukan beberapa keluarga di Tuabao dan Natarmage, mereka sudah ambil ubi hutan dan mengonsumsinya,” terang Ansar Rera.

Ansar Rera menambahkan, informasi yang dia terima bahwa masyarakat beralasan makan ubi hutan adalah kebiasaan. Namun dalam pantauan, katanya, ternyata masyarakat sudah mengonsumsi tiga kali dalam satu hari. Kondisi ini menunjukkan hal terebut tidak bisa disebut lagi sebagai kebiasaan. Karena faktanya masyarakat sudah tidak memiliki stok pangan guna mencukupi kebutuhan hidup.

Meskipun ada sejumlah kepala keluarga di dua desa yang sudah mengonsumsi ubi hutan beracun, Ansar Rera mengatakan kondisi ini masih tergolong rawan pangan karena masalah ketersediaan pangan. Dia mengelak bahwa kondisi sekarang sudah pada tahap kelaparan.

Ansar Rera menjelaskan, pemerintah sudah melakukan intervensi teknis berupa beras rawan pangan. Dia menyebutkan bantuan berasa rawan pangan sudah diantar beberapa waktu lalu, terutama untuk 16 kepala keluarga di Desa Natarmage. Selain intervensi berupa beras rawan pangan, Ansar Rera juga sudah memerintahkan instansi terkait seperti rumah sakit dan Dinas Kesehatan untuk memantau kondisi kesehatan warga yang terkena dampak rawan pangan.

Pada bagian lain, dia megaku sedang menunggu pembahasan di Banggar DPRD Sikka yang kini tengah berlangsung. Pembahasan dalam mekanisme anggaran mendahuklui perubahan, katanya, untuk mendapatkan alokasi dana guna menambah stok beras rawan pangan bagi masyarakat yang terkena dampak rawan pangan.

Sementara itu Rabu pagi, Dinas Ketahahan Pangan Sikka menyalurkan bantuan beras sebanyak 10 ton kepada masyarakat di empat desa, yakni tiga desa di Kecamatan Waiblama, dan 1 desa di Kecamatan Tanawawo. Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mauritz da Cunha, Waiblama dan Tanawawo merupakan dua kecamatan yang sementara ini tergolong cukup parah. (vicky da gomez)