Bupati Sikka Nyatakan Rawan Pangan Sebagai Bencana

by -82 views

MAUMERE –  Indikasi rawan pangan yang mendera seluruh wilayah di Kabupaten Sikka, kini sudah bergeser menjadi bencana. Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera sudah menyatakan rawan pangan sebagai bencana. Itu tertuang melalui surat pernyataan bencana rawan pangan yang ditandatanganinya, Rabu (4/10).

“Tadi saya sudah tanda tangan pernyataan darurat bencana, supaya kita bisa dapatkan pengadaan beras untuk rawan pangan, ini sedang dibahas melalui APBD Perubahan,” jelas Ansar Rera, Rabu (4/10), usai mengikuti Launching Tahapan/Jadwal Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sikka di Kantor KPU Jalan Eltari Dalam, Kelurahan Kota Uneng. Kepala Dinas Ketahahan Pangan Mauritz da Cunha, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Mohammad Daeng Bakir, dan Kepala Dinas Sosial Emmy Laka, yang dikonfirmasi terpisah, Kamis (5/19) usai perayaan HUT TNI di Lapangan Kota Baru, mengakui sudah mengetahui adanya peryataan bencana rawan pangan.

Secara teknis instansi terkait ini akan menindaklanjuti dengan intervensi beras rawan pangan kepada masyarakat yang terkena dampak. Mohammad Daeng Bakir menjelaskan, pernyataan bencana rawan pangan berlaku hanya untuk dua minggu selama 1-14 Oktober 2017. Selama dua minggu ini, BPBD bersama-sama dengan Dinas Sosial dan Dinas Ketahanan Pangan akan mendistribusikan beras kepada masyarakat yang terkena dampak rawan pangan.

“Jadi dua minggu ke depan ini harus ada intervensi beras rawan pangan. Sesungguhnya kami sudah bergerak, kemarin di Desa Natarmage, Werang, dan Tuabao. Hari ini rencananya Dinas Sosial akan turun juga,” tutur Daeng Bakir.

Mauritz da Cunha menjelaskan, pada Rabu (4/10), pihaknya sudah mendistribusikan beras kepada masyarakat di Desa Natarmage dan Tuabao di Kecamatan Waiblama. Rencananya hari ini, Kamis (5/10), dilanjutkan lagi distribusi untuk masyarakat di Desa Detubinga dan Bu Selatan di Kecamatan Tanawawo.

Emmy Laka menyebutkan memiliki stok beras sebanyak 70 ton yang nantinya akan diintervensi kepada masyarakat yang terkena dampak rawan pangan. Namun seluruh stok yang ada tidak diintervensi semuanya, karena tergantung data dari Dinas Ketahanan Pangan.

Sesuai prosedural, tambah dia, setiap jiwa mendapatkan 400 gram untuk waktu dua minggu.

Sebagaimana diberitakan, satu bulan terakhir ini Kabupaten Sikka mengalami krisis rawan pangan. Setidaknya sudah 7.151 kepala keluarga pada 33 desa yang tersebar di 11 kecamaan melaporkan kondisi ini. Bahkan terdapat 16 kepala keluarga di Desa Natarmage Kecamatan Waiblama yang terpaksa mengonsumsi ubi hutan beracun, atau dalam bahasa setempat disebut magar. Tim Penanggulangan Dini Dinas Ketahahan Pangan langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi tersebut. Dari hasil temuan lapangan, diperkirakan berkisar 3.000-4.000 kepala keluarga yang terkena dampak rawan pangan. (vicky da gomez)