Ke Sekolah Nyeberang Sungai, Ini Kado Hardiknas dari Ojang

by -69 views

MAUMERE – Dusun Lewomudat yang terletak di Desa Ojang, Kecamatan Talibura, boleh dibilang merupakan salah satu dusun terpencil. Di dusun ini tidak ada sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah. Terpaksa anak-anak harus bersekolah di SDN Kolit yang masih masuk dalam wilayah Desa Ojang, atau di SDN Kajowain yang sudah masuk wilayah Desa Wailamung.

Untuk bersekolah di dua tempat ini, bukanlah sebuah pekerjaan mudah. SDN Kajowain misalnya, letaknya kurang lebih 3 kilometer dari Lewomudat. Menuju ke sekolah ini, hanya melewati jalan setapak, di antara hutan pepohonan jambu mente. Kendaraan roda dua sulit melintas, karena persis keluar dari Lewomudat, jalan setapak itu harus berbatasan dengan jurang terjal. Tidak ada pilihan, anak-anak sekolah pun harus berjalan kaki saja.

Jika memilih bersekolah di SDN Kolit, ini pun pilihan serba sulit, karena harus menempuh perjalanan 3 kilometer. Kendaraan roda dua tidak bisa diharapkan, karena infrastruktur jalan sangat tidak mendukung. Topografi yang buruk dengan batu-batu cadas yang keluar dari tanah, hampir bisa dipastikan kendaraan bermotor bukanlah sebuah solusi.

Apalagi setelah 500 meter dari Lewomudat, sudah harus berhadapan dengan Kali Tilu Ping, kurang lebih 6 meter lebarnya. Tidak ada crossway atau jembatan penyeberangan. Untung saja debit air sangat rendah. Para pelajar pun harus turun menyeberangi sungai, berjalan di atas batu-batu besar yang dijadikan pijakan. Jika tidak hati-hati, bisa jatuh dan terbentur batu-batu besar lainnya.

Lepas dari Kali Tilu Ping, kurang lebih 200 meter lagi ke depan, di sana sudah menunggu lagi sebuah sungai, Kali Kopakema. Lebar kali ini antara 25-30 meter. Lagi-lagi tidak ada jembatan penyeberangan. Air sungai cukup deras, dan anak-anak sekolah harus rela menyeberang. Biasanya usai sekolah, anak-anak langsung menceburkan diri di sungai.

Seperti yang disaksikan mediantt.com, Jumat (28/4), sekitar pukul 13.00 Wita, puluhan anak SDN Kolit hendak kembali ke rumah mereka di Lewomudat. Mereka berjalan berbanjar, dan kemudian menyeberangi Kopakema. Beberapa orang tua yang sudah menunggu, membantu menyeberangi anak-anak itu. Beberapa guru pun ikut membantu.

Tampak anak-anak sekolah ini tetap semangat dan pantang menyerah. Berjalan sejauh 3 kilometer, atau pergi pulang sepanjang 6 kilometer, bukan aral penghambat. Apalagi kemudian harus dihadang dua sungai, tidak menyurutkan gairah mereka untuk mengenyam bangku sekolah.

Inilah potret kusam pendidikan di daerah terpencil. Mungkin ini sudah kado yang paling pantas mereka berikan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2017. Dan tentu saja hanya ada satu harapan, agar pemerintah segera berpikir membangun sebuah jembatan penyeberangan yang layak dan pantas untuk memudahkan arus transportasi.

Andreas, Maria, Roy, tiga di antara para pelajar, tidak tanggung-tanggung meminta perhatian Presiden Jokowi untuk membangun jembatan penyeberangan. “Bapak Presiden Jokowi, tolong bangun kasih kami jembatan penyeberangan supaya kami pergi sekolah dengan aman dan nyaman. Ini untung saja musim panas, sehingga air tidak terlalu deras. Kalau musim hujan, debit air tinggi, kami terpaksa tidak sekolah,” ujar mereka malu-malu.

Menurut Kepala Desa Ojang, kondisi ini sudah terjadi kurang lebih 5 tahun terakhir. Dua sungai itu membelah Kolit dan Lewomudat, sehingga aktifitas transportasi antara dua dusun ini benar-benar lumpuh. Selain para pelajar, jalur jalan dan dua sungai itu juga dimanfaatkan oleh masyarakat, perangkat desa dan dusun, tenaga medis, termasuk rohaniwan, baik untuk kepentingan pribadi, kelompok masyarakat, maupun urusan pemerintahan dan agama. (vicky da gomez)

Ket Foto: Setiap hari puluhan anak dari Desa Ojang terpaksa harus menyeberangi dua sungai demi menuntut ilmu di SDN Kolit, di seberang sungai. Tampak anak-anak dibantu guru, Jumat (28/4), sedang menyeberangi salah satu sungai yaitu Kali Kopakema.