Gagal Urus Mente, Penangkar Bibit Itu Jadi Bupati Flotim

PRIA bertubuh gempal ini terkenal murah senyum. Dia menyapa semua kalangan, familiar di komunitas orang muda, pun melebur di tengah manusia yang sudah uzur. Dia apik memainkan peran dan posisi di mana saja dia berada. Dia tahu menempatkan diri dan bagaimana harus berelasi tanpa pandang bulu.

Ini karakter bawaan, hasil tempaan pasangan orangtuanya. Lambertus Tulen Hadjon, ayahnya, laki-laki tua yang juga familiar di tengah keriuhan dinamika Kabupaten Flotim. Dia tidak saja dikenal sebagai guru, tapi juga seorang pengajar yang cerdas dan pendidik yang beraura. Dia juga terkenal karena perjuangan politik, melekatkan komitmen dan konsistensi yang tinggi bagi kesejahteraan masyarakat Flotim.

Maria Getrudis Letor, seorang ibu rumah tangga yang cakap dan bertanggungjawab. Perempuan yang terkenal sabar dan ulet. Dia terampil mengedukasikan karakter perempuan yang memiliki semangat kerja yang pantang menyerah.
Kini, usia mereka sudah separuh baya, tapi semangat mereka masih terus berapi-api. Pasangan yang terus meneladani semangat Katolik kepada 11 orang anak mereka.

Petani Mente

Antonius Hubertus Gege Hadjon, begitu sudah pria gempal yang biasa disapa Anton Hadjon. Usianya masih muda, 45 tahun, dilahirkan di Larantuka pada 13 Juni 1972. Hari-hari ini namanya mengawang-awang di langit Flores Timur. Gaungnya menyeruak pada 439 tempat pemungutan suara (TPS) di 19 kecamatan. Auranya menggetarkan tiga wilyah yang selama ini sering terkapling: Larantuka, Adonara, Solor. Anton Hadjon muncul sebagai ikon baru generasi Flotim, melebur-satukan Lewotana.

Bukan sebuah kebetulan jika suami Lusia Barek Hayon ini menapaki tangga puncak kepemimpinan eksekutif di Flotim. Penikmat musik balada ini ternyata sejak kecil diam-diam memendam idealisme yang besar. Dia menggantungkan cita-cita kecil Si Anak pada pundaknya, pada otaknya, pada kreatifitasnya, pada perjuangannya.

“Siapa tahu nanti aku kan terpilih menjadi Kepala Desa, ‘kan kubangkitkan semangat rakyatku dan kubangun desaku,” kutipan lirik Ebiet G Ade, yang terus memprovokasi langkah hidupnya.

Karena itu, usai tamat dari Sekolah Tinggi Teknologi Dirgantara di Jakarta, Anton Hadjon kembali ke kampung, di sudut Desa Riangkoli, Kecamatan Tanjung Bunga. Dua tahun lebih dia bergumul dengan kebun mente milik keluarga.

Sebagai anak muda, dia memulai tantangan ini untuk merasakan bagaimana pahit getirnya masyarakat petani bermimpi akan kesejahteraan.

Ternyata dia mendapatkan tantangan lebih dari keluarga. Ada sikap ‘protes’ yang mendorong agar dia merangsek dunia yang lebih luas. Tahun 1998, dia tinggalkan kebun mente, dan mencoba nasib di jalur jurnalistik. Dia menuju Pos Kupang, dan mendapatkan pendidikan kewartawanan selama tiga minggu. Rupanya dia punya naluri di jalur ini. Anton kemudian menjalani tiga bulan masa percobaan di Kota Kupang.

Redaksi mengeluarkan kebijakan dengan mempercayakan Anton bertugas di Kabupaten Manggarai. Namun, semangat Lewotana masih lebih kuat di hatinya. Anton hanya siap jika ditempatkan di Larantuka atau Kupang. Praktis dia pun menolak tugas, dan akhirnya harus keluar dari perusahaan media ini. Kembali ke Larantuka, Anton Hadjon mengasah jiwa jurnalistiknya melalui Sasando Pos dengan wilayah kerja Flotim dan Lembata.

Sasando Pos “tenggelam”, Anton kemudian menjajaki dunia usaha. Pada 2003, dia merintis berdirinya CV 234, perusahaan yang bergerak pada penangkaran bibit. Sebagai pelaku awam, ternyata hasilnya tidak main-main. Kebun bibitnya meluas, melebarkan sayap sampai ke Pulau Solor dan Lembata. Buat dia, inilah dunia sesungguhnya yang dia tapaki.

Darah Politik

Hidup besar dan tumbuh di arus politik, menjadikan Anton tidak bisa mengingkari aliran darah ini. Ditambah pengalaman berorganisasi di PMKRI Menteng saat kuliah, political will Anton pun tumbuh dengan sendirinya. Dia memulai langkah itu bersama Mathias Djawa dan kawan-kawan, dengan membentuk PDI Pro Mega pada tahun 1998 ketika krisis politik secara nasional mendera partai banteng ini. Wakil Sekretaris, itulah jabatan pertamanya pada organisasi politik. Jabatan ini terus dipercayakan ketika partai itu berubah menjadi PDI Perjuangan.

Kerja sebagai “petugas partai” akhirnya membentuk Anton Hadjon sebagai politisi yang terampil, cerdas, dan sarat idealisme. Perlahan-lahan dia merengkuh jabatan strategis di partai itu, menjadi Wakil Ketua, Sekretaris, dan akhirnya dipercayakan sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flotim Periode 2010-2015, dan kembali menjabat untuk periode yang kedua 2015-2020.

Pengalaman telah membentuk integritas seorang Anton Hadjon. Sebagai kader yang loyal dan militan, dia pun berhasil menjejakan kaki di ruang wakil rakyat untuk masa bakti 2009-2014, dengan posisi sebagai Wakil Ketua DPRD. Pemilu 2014 kembali mengantar dia sebagai Wakil Ketua DPRD, dengan perolehan suara terbanyak se Kabupaten Flores Timur.

Guratan Ebiet G Ade sepertinya terus memberikan spirit bagi ayah lima anak ini. Partai menugaskan dia untuk bertarung merebut pimpinan tertinggi eksekutif di Flotim. Dalam proses ini, PDI Perjuangan berkoalisi dengan Partai Gerindra dan PAN, dan mengusung pasangan calon Antonis Hubertus Gege Hadjon-Agustinus Payong Boli dengan tagline Bereun. Kolaborasi dua anak muda yang penuh optimis dan kepercayaan diri yang tinggi. Hasil perhitungan cepat yang dilakukan Sekretariat Bereun menunjukkan Bereun mendapuk singgasana eksekutif itu untuk mewujudkan visi besar kesejahteraan bagi masyarakat Flotim. (vicky da gomez)

File Pribadi

Nama          : Antonius Hubertus Gege Hadjon
Lahir           : Larantuka, 13 Juni 1971
Istri             : Lusia Barek Hayon
Anak           : 5 orang: 2 perempuan, 3 laki-laki

SDK Waibalun 1 (1977-1984)
SMP Ratu Damai Waibalun (1984-1987)
SMAN 468 Larantuka (1987-1990)
Sekolah Tinggi Teknologi Dirgantara Jakarta (1991-1997)

Riwayat Pekerjaan
Petani Mente (1996-1998)
Wartawan HU Pos Kupang (1998)
Wartawan HU Sasando Pos (2000-2002)
Direktur CV 234 (2003-2009)
Sekretaris Gapensi Kabupaten Flotim (2005-2009)

Riwayat Politik
Wakil Sekretaris DPC PDI Pro Mega Kabupaten Flotim (1998)
Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flotim (1998-2003)
Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flotim (2003-2008)
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flotim (2008-2010)
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Flotim (2009-2014)
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flotim (2010-2015, 2015-2020)
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Flotim (2014-2017) .