Warga Lamalera Merindukan Jaringan 3G

by -43 views

Gerakan digitalisasi desa-desa ternyata belum merata diterapkan di Lembata. Sebab, masih banyak desa yang blank spot atau tidak memiliki koneksi internet. Desa Lamalera sudah masuk kategori desa digital itu karena sudah ada blank spot, namun jaringannya masih sangat buruk. Masyarakat menjadi sulit mengakses internet.

Masyarakat di Kecamatan Wulandoni, khususnya di Desa Lamalera A dan B, sedang tidak nyaman berkomunikasi. Meski sudah ada tower tapi jaringan Telkomsel amat buruk. Kondisi ini sudah berlangsung lama. Pihak Telkomsel diminta bertanggung jawab agar kerinduan warga untuk mendapat jaringan yang normal dan memadai bisa segera terwujud.

Sejumlah warga di Desa Lamalera A menggerutu kesal karena jaringan telepon seluler yang buruk. Di tengah pesatnya kemajuan dunia digital yang telah menjangkau hingga ke seluruh pelosok, ternyata masih juga ada kendala jaringan, Warga kesulitan berkomunikasi dengan keluarga atau sanak keluarga yang jauh. “Sudah ada tower tapi jaringan di Lamalera sangat parah. Kita beli pulsa data percuma saja karena tidak bisa terpakai secara baik. Jaringan sangat lambat dan kalau loading bisa berjam-jam,” gerutu Kobus Glau, warga Lamalera A.

Kehadiran Tower Telkomsel tentu sangat membantu masyarakat untuk bisa berkomunikasi, juga mengakses informasi bagi mereka yang menggunakan handphone Android. Dan, memang hampir sebagian masyarakat di pedesaan sudah memiliki handphone pintar Android, yang terbilang mahal harganya itu. Namun tidak bisa dimanfaatkan secara optimal karena jaringan yang sangat buruk.

“Masyarakat di pedesaan dengan semangat menggunakan alat komunikasi berupa handphon dan sebagian besar handphone yang digunakan adalah tipe Android yang mahal harganya. Karena kami ingin berkomunikasi dengan keluarga yang ada di berbagai wilayah dan langsung tahu keadaan hidup mereka,” tutur warga lainnya, Ande Tufan.

Selain itu, menurut dia, dengan jaringan yang jerni-bagus, mereka juga bisa berkomunikasih langsung dengan anak-anak yang sedang belajar atau kuliah di tempat jauh/ “Dengan jaringan yang baik kita mau video call dengan anak-anak yang jauh sehingga dapat mengetahui dengan jelas keadaan mereka,” ujarnya.

Soal pulsa data, sebut dia, tidak menjadi masalah, yang terpenting bisa berkomunikasi dengan keluarga atau anak-anak yang jauh. “Kami setiap bulannya membeli pulsa data dengan harga puluhan ribu rupiah, tapi pada 9 bulan terakhir ini kami merasa sangat tidak berguna karena jaringan yang buruk. Pengelolah pun tidak bisa memberikan pelayanan yang baik. Jadi kami minta agar di Lamalera bisa dipasang jaringan 3G,” harap warga lainnya.

Di Kecamatan Wulandoni, ada dua tower yang sudah terpasang sejak beberapa tahun silam, yakni di Desa Lamalera A dan Desa Pantai Harapan, yang melayani 11 desa, namun jaringannya amat buruk.

“Kiranya 2 tower Telkomsel di Kecamatan Wulandoni, khususnya di Desa Lamalera A dan Desa Pantai Harapan yang melayani sarana komunikasi di 11 desa, dapat dipasang alat yang lebih canggih misalnya 3G, agar kebutuhan administrasi di sekolah-sekolah dapat terakses dengan baik dan tidak harus akses di kabupaten,” harap Anjas, warga lainnya.

Penjabat Kepala Desa Lamalera A, Eman Lambo, ketika dimintai komentar di Kupang menuturkan, pihak desa sudah bersurat ke manajemen Telkomsel untuk menaikan kapasitas jaringan ke 3G namun hingga saat ini belum ada jawaban. “Kami berharap pihak Telkomsel segera menjawab permintaan kita agar jaringan telkomsel bisa normal,” kata Lambo yang berada di Kupang mengikuti Rakor bersama Gubernur Viktor Laiskodat. (frans keraf)