Gara-gara Sound System, Gubernur Viktor Hukum Karo Tatapem & Staf

by -34 views

Sedikit masalah itu biasa, tidak ada orang yang sempurna, tetapi kalau tidak sempurna itu harus dihukum, supaya besok bisa sempurna”

Kupang, mediantt com – Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menghukum Kepala Biro Tatapem Doris Rihi dan staf hanya gara-gara sound system yang tidak berfungsi dengan baik alias error. Yang tidak enak, hukuman verupa squat jj lt itu dilakukan di hadapan sekitar tiga ribuan undangan, baik itu bupati, walikota, camat dan lurah dan kepala desa se-NTT, di GOR Flobamora, Kupang, Kamis (25/10).

Seperti disaksikan media, amarah Viktor meledak gara-gara mikrofon yang digunakan dalam pertemuan akbar bersama ribuan kades/lurah, camat dan para bupati itu, tidak berfungsi dengan baik.

Kurang lebih 2300-an Kepala Desa dari seluruh NTT, SKPD, dan para Kepala Daerah ikut menyaksikan hukuman tersebut sembari tertawa riuh.

Sebagian undangan juga tampak tepuk tangan saat menyaksikan para bawahan Gubernur NTT itu melakukan squat jump.

Hukuman itu diperintah Gubernur NTT usai Kepala Biro Pemerintahan Setda NTT, Doris Rihi memberikan laporan kepanitiaan di atas mimbar.

Dalam sambutannya Viktor mengatakan, hukuman yang diberikan bukan karena ia benci tetapi untuk latihan. Menurutnya, kerja itu pasti ada kesalahan, tidak ada yang sempurna.

“Sedikit masalah itu biasa, tidak ada orang yang sempurna, tetapi kalau tidak sempurna itu harus dihukum, supaya besok bisa sempurna,” tegas Viktor.

“Hidup ini butuh proses, belajarlah dari proses menuju kesempurnaan,” sambung Viktor.

Sehari sebelumnya, pada Rabu (23/10), Kadis PMD NTT, Peter Manuk menjelaskan kegiatan akbar tersebut diinisiasi oleh Biro PEM dan difasilitasi oleh Dinas PMD NTT.

Pertemuan dihadiri seluruh Kepala Desa se-NTT, lurah, waliota serta para bupati.

“Jarak antara gubernur dan desa itu jauh. Forum esok itu (hari ini) kepala desa mendengar pesan langsung dari Gubernur NTT. Forum pencerahan kepada kepala desa Kades punya kiat lebih membawa desanya lebih maju,” jelas Petter Manuk di Ruang Humas NTT (23/10).

Menurutnya, sangat banyak desa di NTT yang masuk dalam kategori desa tertinggal. Untuk itu, sebanyak 7 kepala desa yang akan hadir memberikan presentasi keberhasilan pembangunan di desa dan BUMDes.

“Desa Boru kecamatan Wulanggitang di Flores Timur menjadi Desa Mandiri. Dominan di NTT masuk kategori desa tertinggal. Ada sekitar 700-an desa tertinggal,” kata dia.

Testimoni

Ada 7 kepala desa yang dihadirkan menyampaikan testumoni (kesakaian) tentang keberhasilan pembangunan di desa, diantaranya, Kades Desa Mata Air, Kabupaten Kupang, Benyamin Kanuk yang berhasil membangun BumDes untuk memberdayakan Desa Mata Air.

Keberhasilan kepala desa tersebut salah satunya dengan membangun kawasan wisata desa yakni Pantai Sulamanda.

“Ada juga kafe yakni 3 Kafe, J19 dan DH Cafe. Kami menanam Bakau 2800 pohon juga membangum Posyandu Disabilitas. Gizi buruk dan Stunting tidak ada di desa saya,” jelas Kades Desa Mata Air, Benyamin.

Ada juga James R. Sumba, Kepala Desa Oenggaut Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote. Lewat BUMDes, James membangun kawasan wisata pantai Lifu yang dilengkapi flying bike, spot foto dan tempat santai.

Dengan modal alokasi dana desa, wisata apantai Lifu mendapat pemasukan Rp 48 juta selama 3 bulan.

Sementara Laurensius Seran, Kepala Desa Kufe’u, Kecamatan Io Kufeu Kabupaten Malaka berhasil menanam Marungge organik.

Pun, Yustinus Berelelo Kepala Desa Lakmaras, Kecamatan Lamaknen Selatan, Belu, berhasil membudidayakan Kopi Lakmaras dengan jumlah lahan 77 Hektar. (jdz)