Kebijakan Lima Hari Sekolah Masih Dievaluasi

by -113 views
KUPANG – Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Aloysius Min mengatakan, penerapan lima hari sekolah yang dicanangkan pemerintah pusat masih dalam tahapan uji coba dan akan dievaluasi.”Pemerintah pusat sudah memutuskan bahwa mulai 1 Juli atau tahun ajaran baru 2017/2018, kebijakan lima hari sekolah mulai dilaksanakan, sehingga semua sekolah harus siap. Setelah berjalan baru dievaluasi,” kata Aloysius Min kepada Antara di Kupang, Rabu (14/6).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan reaksi orang tua/wali yang merasa keberatan dengan kebijakan sekolah lima hari.

Soter Parera, orang tua murid mengatakan penerapan program lima hari sekolah untuk saat ini belum waktunya diterapkan di NTT. Kalaupun mau diterapkan kalau bisa diujicoba dahulu pada sekolah-sekolah yang fasilitas pembelajarannya sudah cukup memadai.

Apalagi di NTT banyak sekolah di pelosok-pelosok anak-anak harus membantu orangtua pada sore hari untuk mengembalakan ternak atau mengambil air yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman penduduk.

Soter Parera mengatakan, dirinya bukan tidak setuju mengenai penerapan lima hari sekolah, tetapi untuk saat ini belum bisa diterapkan di NTT. Penerapan lima hari sekolah itu lebih cocok di daerah yang sudah masuk pola hidup modern.

Khusus di NTT, dengan pola pembelajaran yang belum berjalan baik, sangat sulit buat siswa untuk menyerap bahan ajar dari pendidik.

“Daya tangkap pelajaran usia anak-anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Jangan karena di kantor-kantor terapkan 5 hari kerja lalu sekolah juga mau ikut. Kalau di lingkungan Perguruan Tinggi saya kira wajar-wajar saja, tetapi di sekolah dasar sampai menengah perlu dikaji kembali,” kata mantan Kepala BKKBN NTT ini.

Hal yang sama juga disampaikan Marthen Salu. Dikatakannya, penerapan lima hari sekolah memang baik juga karena ada sisa waktu buat anak-anak berkumpul bersama keluarga.

Tetapi kendalanya, daya serap pelajaran semakin menurun karena daya tahan fisik setiap siswa berbeda. Penerapan lima hari sekolah cocok buat mahasiswa dan di perkantoran karena fisik bisa bertahan.

Selain itu, tidak semua daerah di NTT bisa menerapkan karena sebagian sekolah di pelosok-pelosok dengan fasilitas yang belum memadai mereka tidak akan betah belajar, katanya.

Aloysius Min mengatakan, kebijakan lima hari sekolah merupakan kebijakan nasional dan tidak ada pilihan lain selain harus dilaksanakan. “Yang pasti bahwa, mulai tahun ajaran baru ini harus dilaksanakan. Nanti akan ada evaluasi,” katanya.

Apalagi, pak gubernur juga sudah sampaikan bahwa akan menyurati pemerintah pusat untuk mempertimbangkan kembali kebijakan lima hari sekolah di NTT, kata Aloysius Min.

Efektifkan

Aloysius Min juga meminta pihak sekolah untuk menerapkan kebijakan lima hari sekolah secara efektif dan efisien agar berhasil guna dan berdaya guna.

“Selain itu, pada hari Sabtu, baik siswa maupun guru harus diberikan tanggung jawab, sehingga hari Sabtu bukan hanya menjadi hari libur biasa, tetapi ada aktivitas yang menunjang pendidikan,” katanya.

Pemerintah pusat akan menerapkan kebijakan lima hari sekolah, yang mulai efektif dilaksanakan pada 1 Juli atau tahun ajaran baru 2017/2018.

“Lima hari sekolah tetapi pada hari Sabtu, baik siswa maupun guru harus ada tanggung jawab. Jadi ada jadwal kegiatan guru dan siswa pada hari Sabtu dan dilaporkan pada setiap hari Senin,” katanya.

Pada hari Sabtu misalnya, anak-anak diajak orang tua untuk berwisata, maka anak harus menulis tentang kegiatan wisata atau kegiatan membantu orang tua di rumah dan disampaikan ke sekolah pada hari Senin.

Begitupun guru, harus membuat laporan tentang kegiatan pada hari Sabtu, sehingga hari Sabtu tetap menjadi bagian dari kegiatan ekstra kurikulum.

Menurut dia, jika kegiatan ekstra kurikulum ini tidak dilaksanakan maka, hari Sabtu akan menjadi hari libur total, padahal guru dan siswa sudah memiliki hari libur yang lebih dari cukup sepanjang tahun.

“Jadi guru dan siswa tidak bisa disamakan dengan ASN, karena guru ada libur tengah semester dan libur kenaikan kelas. Kalau ditambah dengan libur hari Sabtu, maka bisa dihitung berapa banyak hari libur untuk guru dan siswa,” katanya.

Karena itu, penerapan lima hari sekolah harus diikuti dengan aktivitas-aktivitas guru maupun murid di rumah untuk meningkatkan kemampuan mereka sendiri.

“Jangan sampai hari Sabtu menjadi hari libur yang panjang dan dimanfaatkan oleh anak-anak untuk nongkrong di pingir jalanan, sehingga tidak memberi manfaat apa-apa untuk masa depan mereka,” katanya menambahkan.

Artinya, harus ada kegiatan yang bisa menunjang pendidikan pada hari Sabtu, sehingga hari Sabtu tidak dijadikan sebagai hari libur total bagi guru dan anak-anak didik, katanya menjelaskan. (ant/jk)

Foto : Alo Min