Ayo, Ciptakan Anak Didik Berkualitas

by -153 views

KUPANG – Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya mengakui bahwa masih ada berbagai masalah di bidang pendidikan yang harus terus dikerjakan dan diselesaikan. Saat ini, pemerintah sedang berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Rendahnya mutu  pendidikan di NTT, sering hanya disoroti dari prosentase kelulusan saja. “Untuk itu, kita tidak boleh pesimis, harus optimis dalam meningkatkan prosentase kelulusan. Proses belajar-mengajar harus menjadi perhatian serius dengan menonjolkan proses yang  berkualitas,” kata Lebu Raya.ketika membuka Seminar sehari bertajuk  “Kebijakan Lima Hari Sekolah, Masalah atau Solusi” yang digagas Dewan Pendidikan NTT, di Aula Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTT, Selasa (8/8).

Ia mengatakan, memajukan pendidikan pasti ada input, proses dan output. Karenanya, proses itu harus dilaksanakan secara berkualitas dan menghasilkan output yang sesuai harapan semua pihak. Gubernur Lebu Raya mencotohkan pengalamannya dalam mengamati proses pendidikan yang selama ini diterapkan bila menghadapi ujian akhir yaitu dengan mempelajari soal-soal ujian tahun lalu, fotocopy bahan pelajaran dan hafalan.

“Apakah itu cara terbaik? Menurut saya tidak. Kita harus berupaya agar proses kegiatan belajar-mengajar harus kita kerjakan sebaik-baiknya, selama tiga tahun berturut-turut atau enam tahun berturut-turut untuk tingkat sekolah dasar, dalam membentuk karakter dan disiplin anak-anak sehingga kita yakin betul dapat menghasilkan anak didik yang lebih berkualitas, melalui proses belajar dan mengajar secara berkualitas pula,” tegas Gubernur.

Menurut dia, munculnya gagasan lima hari sekolah memang menjadi polemik, apakah tetap enam hari atau lima hari sekolah. “Kita tidak boleh larut dalam perdebatan polemik ini,  mari kita ambil hikmahnya yang lebih baik. Peraturan lima hari sekolah tentu tidak bisa serentak dilaksanakan di seluruh NTT. Kita harus sesuaikan dengan kondisi setempat,” ujarnya.

Soal karakter anak bangsa, menurut Lebu Raya, dalam kegiatan proses belajar dan mengajar harus membentuk karakter anak didik yang berjiwa Pancasilais, sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa ini dihadapkan dengan tantangan yang luar biasa, yaitu dengan adanya sekelompok orang yang ingin mengganti ideologi negara, Pancasila.

“Saya berulangkali tegaskan bahwa Pancasila harga mati dan NTT menolak keras yang namanya radikalisme, menolak seluruh Ormas anti Pancasila,” tegasnya.

Ketua Dewan Pendidikan NTT, Simon Riwu Kaho, selaku ketua panitia penyelenggara, mengatakan, agenda pertama adalah pembahasan kebijakan lima hari sekolah yang dalam implementasinya apakah merupakan solusi dalam rangka pendidikan bermutu atau akan menimbulkan masalah baru. Pada dasarnya setiap anak bangsa berhak mendapatkan akses pendidikan yang merata dan berkualias serta berdaya saing sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki.

Menurut Riwu Kaho, maksud dan tujuan seminar tersebut adalah untuk menjelaskan kebijakan lima hari sekolah sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang akan diterapkan pada tahun ajaran 2017/2018. Selanjutnya, lewat seminar ini diharapkan bisa dijaring aspirasi nasyarakat bagi perbaikan pendidikan di NTT.

Seminar sehari bidang pendidikan ini menghadirkan pembicara, antara lain, Simon Riwu Kaho (Ketua Dewan Pendidikan NTT), Johanna E. Lisapaly (Kadis Pendidikan NTT) dan dosen FKIP/PPs Undana, Feliks Tans. Sedangkan peserta berasal dari DPRD NTT, anggota Dewan Pendidikan NTT, Dinas Pendidikan NTT dan Pengawas Pendidikan se- NTT. (hms/son)