Menjiwai Kegelisahan Lamalera dalam ‘Lamafa Sebuah Novel’

by -299 views

Kembalikan Kampung-ku Lamalera

Kembalikan Neme Fate

Kembalikan Tena Laja

Kembalikan ajarannya penuh kebajikan hidup

Kembalikan koteklema

Kembalikan

Bawah dia kembali Lamalera Ibu-ku

Kembalikan kepadaku Lamalera Bapa-ku

ITULAH salah satu bait puisi ‘Kembalikan Lamalera-ku!, karya anak Lamalera di Nagoya, Jepang, Yoseph Bruno Ulanaga Dasion, SVD, yang menghentak sekaligus mengharu biru seluruh peserta bedah dan launching buku “Lamafa Sebuah Novel”, karya Fince Bataona. Puisi yang menggambarkan kegundahan seorang Bruno Dasion akan kampungnya ini, dibawahkan dengan sangat emosional oleh kolaborasi sastrawan asal Sabu Dr Lanny Koroh dan putra Lamalera, Alfian Lamaberaf. Semua hanyut dan tanpa sadar harus meneteskan air mata terhadap derita yang dialami Nelayan Lamalera.

Situasi di Kampung Lamalera sungguh dihadirkan penulis di panggung launching dan bedah “Lamafa sebuah Novel”, Aula Kopdit Ankara. Ada blapa (tempat orang Lamalera meletakan ikan hasil tangkapan), dan ada pelita dari minyak ikan paus, juga atribut dan asesoris khas Lamalera, dengan fokus utama pada peran sakral seorang Lamafa dan Pnete Alep; kaum ibu yang menjual hasil tangkapan ke gunung dengan cara barter.

Karena Lamafa tema pokok, maka penulis menghdirkan dua Lamafa, Alo Geneser Tapoona dan Goris Dengekae Krova, untuk memberikan testimoni nyata tentang filosofi seesungguhnya seorang Lamafa dalam seluruh prosesi kehidupan di Lamalera, baik di laut maupun di darat. Pun, dua Pnete Alep, janda Maria Ero Keraf (64), dan Agnes Beto (65).

Menariknya, hampir semua aspek dibedah, mulai dari mata pencaharian, sakralitas budaya, sosiologis (bfene; relasi dengan orang lain), antropologis, sampai pada religiositas seorang Lamafa, yang menjadi pusat perhatian. Karena ia melakukan tugas yang sakral. Artinya, ketika seorang Lamafa menggenggam tempuling, maka ia memikul harapan, tidak hanya untuk keluarganya tapi kehidupan seluruh kampung.

“Ikan itu punya badan di laut, tapi jiwanya di darat. Jiwa ikan akan jinak pada Lamafa yang hidup baik sesuai budaya tradisi dan iman. Moral menjadi tanggung jawab Lamafa untuk menjinakan ikan sejak dari darat. Sebab, ikan adalah titipan leluhur yang diambil oleh orang yang pantas, sebab Lamafa adalah kehidupan,” begitu testimoni Alo Gneser.

Aloysius mengaku, sejak berabad-abad yang lalu, seluruh kehidupan warga Lamalera sangat bergantung pada hasil perburuan ikan paus, termasuk untuk menyekolahkan anak. “Saya ini Lamafa. Bagi kami, laut itu ibu kami. Ibu yang memberi makan kepada anaknya. Alam semesta juga tahu kalau kami hidup dari laut,” tutur Aloysius.

Menurut dia, hasil perburuan ikan paus selalu diutamakan bagi kaum janda dan fakir miskin yang ada di Lamalera. “Sejak turun temurun kami hidup dari laut. Karena itu jangan ganggu kami,” pintanya.

Kegalauan ini berawal dari upaya pemerintah memberlakukan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, serta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus).

Testimoni senada diungkapkan Goris Dengekae Krova. Bagi dia, Lamafa adalah jalan yang menghubungkan suara dan harapan kideknuke dengan ikan di laut. Dan, harapan itu bisa menjadi nyata dan punya hasil kalau Lamafa itu siap mental dan iman.

Menurut Goris, konservasi laut sebenarnya telah dijalankan oleh para nelayan Lamalera sejak zaman nenek moyang. Artinya, batas konservasi sudah dilakukan sejak dahulu kala. “Batas kami adalah Gereja, jika melaut dan kami tidak bisa lagi melihat gereja, maka kami harus pulang. Sejak zaman nenek moyang kami, kami juga di larang menikam ikan paus biru, karena menurut kepercayaan kami, itu adalah nenek moyang kami. Kami juga tidak boleh membunuh ikan paus yang lagi bunting atau anak ikan paus,” tegas Goris.

Goris percaya, ikan paus tidak akan punah. “Siapa yang bilang ikan akan habis. Kecuali dunia kiamat. Peneliti jangan hanya meneliti di laut saja, ayo ke darat juga. Biar tahu sepenuhnya tentang kehidupan orang Lamalera,” ujarnya.

Lamafa Itu Harapan

Janda Maria Ero Keraf Nudek dalam testimoninya berkata, Lamafa adalah harapan dan laut adalah kehidupan. “Kami janda dan fakir miskin bisa menghidupkan keluarga karena kami punya harapan pada laut dan Leva Alep (orang yang melaut). Mereka membawa titipan leluhur dan meski hanya berbekal soro lama (beli ikan dengan sepiring jagung), kami bisa hidup sampai sekarang,” tutur Janda Maria Nudek.

Maria juga berderita, sejak suaminya meninggal 35 tahun lalu, ia seorang diri menghidupi tiga anaknya dengan barter daging ikan paus. “Kami para janda, mengingatkan semua orang untuk tidak mengganggu laut kami. Karena kami hidup dari laut. Jangan ganggu kampung kami. Kami sangat menggantungkan hidup kami kepada para lelaki (pemburu ikan paus),” katanya.

Sementara Agnes Beto bersaksi, Pnete Alep dan Leva Alep itu satu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. “Leva Alep dapat ikan tapi kalau tidak ada pnete alep, itu sia-sia belaka,” ujarnya. Hal yang sama dipertegas oleh Mery Korohama. Menurut dia, pnete alep itu adalah gambaran tentang pejuang wanita. “Bagaimana wanita Lamalera berpikir tentang ekonomi bukan bisnis. Bagaimana wanita Lamalera harua berjuang untuk menghidupi keluarga hanya punya modal hasil laut. Bagaimana wanita Lamalera tanpa lelah pergi barter ke gunung, mencari ‘preffo’ (langgangan) dan menjadi sahabat dalam barter. Ini gambaran yang sangat erat antara Leva Alep dan Pnete Alep. Leva alep ambil titipan, dan pnete alep menukarnya pada preffo,” kata Mery.

Sementara itu, Penulis Lamafa Sebuah Novel, Fince Bataona, mengatakan, sosialisasi tentang konservasi seperti meneror para nelayan Lamalera. “Bagi nelayan Lamalera, bicara soal konservasi, sangat menegangkan. Apalagi ketika salah seorang nelayan di Lamalera ditangkap polisi (terkait kasus perdagangan insang ikan pari). Dia dijebak. Masyarakat resah. Kalau sudah begini, mereka mau hidup dari mana lagi,” tutur suami dari Fredy Wahon ini.

Mantan Wartawati Pos Kupang ini juga menegaskan, “Sebagai jurnalis, saya sudah menulis banyak tentang Lamalera. Jika saya akhirnya tertantang menulis Lamalera dalam sebuah novel, itu karena saya ingin orang lebih memahami Lamalera dengan hati. Bukan desakan nafsu”.

Diakuinya, dengan menulis dalam bentuk novel, ia ingin lebih menyentuh hati para pemimpin agar tidak melihat aktivitas masyarakat nelayan Lamalera dengan nafsu tetapi dengan hati. “Saya menulis novel ini dengan sepenuh jiwa karena saya ikut merasakan apa yang dirasakan dan kegelisahan para nelayan Lamalera,” kata Fince.

Launching ditandai dengan penyerahan novel kepada Aloysius Genesar Tapoona, Goris Krova, Agnes Beto (64), Maria Ero Keraf (65), kaum divabel yang diwakili oleh Polta Jon liarian, Pemkab Lembata yang diwakili Asisten II Gabriel Warat, dan DPRD NTT yang diwakili Alex Ofong.

Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Gabriel Warat, mengatakan, pemerintah menyampaikan profisiat kepada Fince Bataona yang telah sukses menerbitkan buku ‘Lamafa Sebuah Novel’.

“Novel yang ditulis ini adalah novel dalam bingkai literasi. Karena itu, program literasi harus menjadi program yang dikampanyekan bersama. Ibu Fince sudah mulai ini. Mari kita sama-sama menyukseskan Lembata sebagai Kabupaten literasi di 2018,” katanya.

Jangan Ganggu Laut Lamalera

Sastrawan Lanny Koroh berpendapat, novel Lamafa adalah maha karya yang sangat luar biasa. “Inilah kehidupan orang Lamalera yang sebenarnya. Saya asal Sabu. Saya merasa diberkati ketika mengunjungi Lamalera. Disana saya melihat langsung  lima ekor ikan paus ‘menyerah’ kepada Lamafa. Ikan bunting tidak dibunuh, ikan anak tidak dibunuh. Ini bagian dari konservasi dan pelestarian ikan paus. Kita patut menjaga budaya ini. Karena surga tersembunyi di Lembata itu ada di Lamalera,” kata Doktor Sastra Jebolan Universitas Udayana Bali ini.

Wakil Ketua DPRD NTT Alex ofong, mengatakan, budaya Lamafa adalah budaya mempertahankan hidup. Ini adalah kedaulatan pangan orang Lamalera. Orang Lamalera menyandarkan hidup mereka di laut. Untuk mempertahankan ini, Sumber Daya Manusia harus diperkuat. Orang janda dan fakir miskin didahulukan. Ini nilai sosial yang bisa dipetik dari budaya Lamafa. “Novel ini adalah upaya mempertahankan tradisi dari ancaman globalisasi,” katanya.

Menurut politisi Nasdem ini, bisnis dan uang adalah ancaman merubah tradisi. Ini yang mesti dilawan. “Novel ini adalah bentuk perlawanan. Kita mesti merubah, yakni membuat pembaharuan dan memperkuat tradisi ini. Semoga suatu saat Lamafa disandang oleh orang yang berpendidikan tinggi, sehingga tradisi ini bisa lebih kuat dijaga kelestariannya,” katanya.

Karena itu, “Rekomendasi saya kepada pemerintah adalah harus ada perlindungan terhadap budaya ini. Pemerintah dan DPRD Provinsi NTT sudah komit bahwa tradisi ini harus dipertahankan,” tegasnya.

Pater Charles Beraf mengatakan, novel tersebut meminjam kata-kata filosof Nietzche ditulis dengan darah, berangkat dari pengalaman ‘mati hidup’ orang-orang Lamalera yang sama sekali tidak tunduk pada apa yang oleh banyak orang diaebut sebagai ‘takdir’, melainkan yang selalu nelihat perjuangan mati hidup sebagai bagian yang tak bisa ditolak. Ema (Ibu), tokoh dalam novel tidak hanya secara lurus merepsentasikan figur para perempuan tangguh Lamalera, tetapi juga menunjukkan betapa spirit dan komitmen seorang lelaki Lamalera tak bisa begitu saja pupus oleh perkara-perkara sentimental sifatnya.

Novel itu, sebut dia, tidak hanya mengaduk-aduk perasaan tentang kekerasan hidup di Lamalera, tetapi juga merekam tentang pentingnya korban dan perjuangan yang barangkali sedang terancam dilupakan di tengah derap kemajuan yang menggampangkan.

“Laut adalah rahimnya orang Lamalera. Laut melahirkan, membesarkan dan memberi mereka hidup. Leva sudah dihidupkan sejak era para leluhur,” tegas Pastor Paroki Detukeli, Ende ini.

Paulus Sinakai mengatakan, sesuai kepercayaan orang Lamalera, ikan paus adalah kiriman Tuhan melalui leluhur. Diambil melalui cara yang sakral. Didahului dengan doa secara Katolik. Pintu rumah besar dalam keadaan terbuka. Mulai tanggal 1 Mei kampung dalam keadaan gelap gulita.

“Daging satu ekor ikan paus diberi makan untuk orang sekampung. Ini budaya Lamalera. Memburu tidak untuk menghabisi. Membiarkan paus biru melewati laut adalah bagian dari konservasi. Ditengah polemik soal konservasi, saat ini orang Lamalera sedang galau. Saya berharap orang Lamalera diberi dispensasi seperti budaya menangkap Penyu ketika musim adat di Bali,” kata mantan Camat Wulandoni ini.

Salah seorang peserta, Romo Yermin Rongan, Pr, sempat menantang dengan menegaskan, “Lamalera bukan sekadar kampung berbudaya yang habis untuk diceritakan di sini. Tapi pemerintah harus tegas menyatakan sikap bahwa laut sakral Lamalera tidak boleh diganggu,” tegasnya. (adi ubas tapoona/jdz)