Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, sejatinya sedang mengaplikasikan Nawacita Jokowi-JK, yakni membanagun Indonesia dari perbatasan, termasuk tapal batas Kabupaten Kupang dan Oekusi, Timor Leste. Upaya itu dengan membangun Jalan Poros Tengah, untuk meretas isolasi di wilayah itu. Tapi mengapa jalur itu belum bisa dilanjutkan?

MERUJUK pada point ketiga Nawacita itu, Bupati Titu Eki sesungguhnya mau menghadirkan kembali negara di tengah warga negara, dengan frasa “membangun Indonesia dari pinggiran”. “Artinya, pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan, melainkan harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok (desentralisasi), termasuk di Kabupaten Kupang, yang juga berbatasan dengan negara Timor Leste. Dan Pak Bupati (Titu Eki) telah memulai dengan membangun Jalan Poros Tengah, tapi mengapa belum tuntas? Ini yang akan terus diperjuangkan Pa Bupati,” kata Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Kupang, Stefanus Baha, kepada mediantt.com.

Tapi niat luhur Bupati Kupang, Ayub Titu Eki, yang telah merintis sebuah terobosan strategis dan luar biasa; membangun jalur jalan Poros Tengah, untuk meretas isolasi di wilayah kantong ekonomi, juga sebagai penghubung ke negara tetangga, Timor Leste, khususnya di Distrik Oekusee, tak bergayung-sambut. Jalur jalan itu sepertinya terabaikan. Hingga kini baru berhasil dibangun sekitar 40 km dari panjang seluruhnya 159,2 km.

Dua bulan setelah dilantik menjadi Bupati Kupang periode kedua, Maret 2013, Bupati Ayub Titu Eki langsung merapatkan instansi terkait untuk mulai membangun Jalan Poros Tengah. Maka, pada 15 Maret 2014, Bupati Titu Eki membuka secara resmi pengerjaan Jalan Poros Tengah tahap pertama, dengan titik star di Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu Tengah. Dana yang dikucurkan untuk tahap satu ini lumayan fantastis, Rp 700 miliar, yang bersumber dari dana APBN Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

“Niat untuk membuat jalan Poros Tengah telah ada dalam benak saya sejak tahun 2008 ketika baru mencalonkan diri menjadi Bupati Kupang periode 2009-2014,” cerita Titu Eki.

Ia menuturkan, saat mulai memimpin Kabupaten Kupang, ia mengajak masyarakat untuk membuka jalan Poros Tengah dengan cara swadaya. Hutan ditebas, gunung didaki hanya untuk membuka jalan tanah bersama masyarakat. Dan. ketika jalan tanah telah dibuat, respon pemerintah pusat belum juga nampak. Karena itu, ia bersama Sekda dan Kadis Dinas PU berangkat ke Jakarta untuk melobi Menteri PU.

“Upaya Pemkab Kupang untuk membuat jalan poros tengah mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Terbukti, tahun 2012, tokoh masyarakat dan pemilik tanah bersepakat untuk menyerahkan tanah termasuk beberapa rumah yang akan dilewati ruas jalan ini kepada Pemkab Kupang agar jalan ini bisa diaspal. Karena itu, kontraktor yang mengerjakan jalan ini saya ingatkan untuk tidak memberikan fee atau imbalan kepada oknum-oknum tertentu yang datang mengaku sebagai pejuang jalan poros tengah. Sebab jalan ini merupakan usaha murni masyarakat,” tegas Bupati dua periode ini, mengingatkan.

Bupati Titu Eki berharap, setelah jalan ini diaspal maka tingkat ekonomi masyarakat setempat juga harus meningkat. Sebab selama ini masyarakat beralasan tidak dapat menjual hasil kebunnya ke pasar di kota akibat tidak adanya arus transportasi di wilayah tersebut, lantaran rusaknya jalan. “Karena itu, setelah jalan diperbaiki masyarakat harus mau bekerja keras untuk menanam sehingga hasilnya bisa dijual ke pasar dan uangnya dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” imbuh Titu Eki.

Diabaikan

Keinginan dan niat baik Bupati Ayub Titu Eki ternyata belum bergayung-sambut. Kebijakan Presiden Joko Widodo melalui Kepres agar jalan Poros Tengah ini tuntas tahun 2019, sepertinya tak akan terwujud. Apalagi, dalam tahun 2017 ini, jalan Poros Tengah itu hanya mendapat jatah 2 km pengerjaan. “Nah, kalau hanya dua kilo ini kapan selesainya. Omong kosong itu. Target untuk tuntas di tahun 2019 pasti tidak akan terjadi,” gerutu Titu Eki.

Bagi dia, pembangunan Jalan Poros Tengah ini sejatinya bukan untuk kepentingan bupati atau kabupaten Kupang, tapi ini menyangkut wibawa dan kehormatan bangsa. Karena jalur strategis itu membuka isolasi enam kecamatan di Kabupaten Kupang. Keenam kecamatan itu adalah Takari, Amfoang Tengah, Amfoang Barat Laut, Amfoang Utara dan Amfoang Tengah serta Amfoang Timur yang perbatasan langsung dengan wilayah kantung (enclave) Timor Leste, Oecusse.

Yang terpenting, lanjut Titu Eki, jalan poros tengah sepanjang 159 km itu membuka akses menuju wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste, melintasi wilayah Naktuka, Kecamatan Amfoang Timur, yang sedang dalam sengketa Indonesia dengan Timor Leste.

“Kalau awalnya belum ada ijin pinjam pakai kawasan hutam, tapi kenapa sekarang sudah ada ijin pakai kawasan hutan itu, ko panjang jalannya dipotong. Ada apa? Pernah ada kunjungan DPR RI di Amfoang Tengah. Waktu itu anggota dewan yang ngomong banyak itu dari Demokrat dan PDIP, yang intinya bahwa Jalan Poros Tengah harus dikerjakan hanya dalam satu tahun anggaran. Tidak perlu multiyear. Tapi nyatanya, hingga hari ini baru kurang lebih 40 km. Apa mungkin bisa tuntas di tahun 2019. Omong kosong,” kritik Ayub Titu Eki.

Jalur jalan Poros Tengah memang sudah mulai dikerjakan sejak Maret 2014. Menurut Sekretaris Dinas PU Kabupaten Kupang, Stef Lay, pembangunan jalan Poros Tengah dilakukan lima tahap dan untuk tahun 2014 dikerjakan tahap satu dengan panjang jalan mencapai 20 km, di mana 11 km akan dikerjakan oleh PT Hutama Mitra Nusantara dam 9 km dikerjakan PT Karya Buana dengan lebar total hotmix mencapai 10 meter.

“Anggaran yang digunakan untuk pembuatan jalan Poros Tengah  ini sebesar Rp 700 miliar yang bersumber dari APBN dengan waktu kerja 90 hari, dan menggunakan tenaga kerja lokal sehingga masyarakat dilibatkan,” kata Stef Lay.

Saat mulai dikerjakan itu, Ketua DPRD Oktory Gaspers, juga berharap konraktor yang mengerjalan jalan poros tengah dapat memperhatian kualitas jalan. Sebab tanpa memperhatikan kualitas maka jalan yang dkerjakan akan cepat rusak.

Ia mencontohkan jalan yang ada di Fatuleu Tengah saat ini bisa selesai dikerjakan 2 tahun tetapi keadaannya saat ini sudah rusak parah. Karena itu, ketika melewati jalan itu ia amat marah, sebab kualitas yang dikerjakan tidak sesuai harapan para wakil rakyat Kabupaten Kupang.

Camat Fatuleu, Amos Manane, mengungkapkan, masyarajat Fatuleu Tengah amat gembira dengan dimulainya pengerjaan jalan yang akan mulai dikerjakan dari Kecamatan Fatuleu melewati Fatuleu Tengah menuju Kecamatan Takari, selanjuntnya menuju Amfoang. Sebab dengan jalan yang telah diaspal, masyarakat setempat yakin bahwa tidak lama lagi wilayah tersebut akan dilalui kendaraan. Dengan banyaknya kendaraan yang melintas, maka hasil panenan masyarakat akan laku terjual. “Atas nama masyarakat Fatuleu Tengah, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Kupang dibawah pimpinan Ayub Titu Eki,” kata Amos.

Tapi sayang, harapan besar itu belum juga memberi kelegaan sesuai harapan. Sebab, progress pengerjaan Jalan Poros Tengah belum seberapa. Belum sesuuai target, apalagi berharap tuntas di tahun 2019. Perlu kerja keras menekan Pemerintah Pusat untuk menaikan status jalan strategis nasional ini menjadi Jalan Nasional, agar dengan APBN, jalur maut itu bisa diselesaikan untuk meretas isolasi di wilayah tersebut, khususnya dengan tapal batas Indonesia-Timor Leste.

“Untuk percepatan pembangunan ruas jalan poros tengah, Pemerintah Kabupaten Kupang akan memperjuangkan agar status jalan itu ditingkatkan menjadi jalan nasional,” kata Kepala Dinas PU Kabupaten Kupang, Joni Nomeseo. (jdz)

Ket Foto : Ruas Jalan Poros Tengah yang tengah dikerjakan pada tahun 2013.