WASHINGTON – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Dick Cheney mereaksi laporan Komite Intelijen Senat tentang CIA. Rabu petang waktu setempat (10/12), dia menyatakan bahwa laporan setebal sekitar 500 halaman itu adalah omong kosong. Dia pun menyebut mantan Presiden George W. Bush tahu segalanya sejak awal.

’’Laporan itu penuh kebohongan,’’ tegas politikus 73 tahun tersebut dalam wawancara dengan Fox News.

Tokoh yang menjadi wakil Bush pada periode 2001–2009 itu menyatakan, laporan yang menyudutkan CIA dan pemerintahan Partai Republik tersebut tidak benar. Dia menuding Komite Intelijen Senat sengaja memutarbalikkan fakta dan merekayasa laporan tersebut untuk kepentingan politik.

Cheney menegaskan, taktik kasar yang diterapkan CIA dalam interogasi para tersangka teror membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Yakni, tertangkapnya para teroris yang terlibat dalam serangan 11 September 2001 alias 9/11. Karena tujuan interogasi tercapai, menurut pria yang juga pebisnis itu, salah atau benar metode yang digunakan CIA tidaklah penting.

’’Faktanya, semua praktik itu menghasilkan informasi intelijen yang bisa ditindaklanjuti dan berguna untuk mengamankan bangsa ini dari ancaman yang lebih mengerikan,’’ paparnya.

Tapi, lebih lanjut, Cheney mengaku belum membaca laporan yang total terdiri atas 6.000 halaman tersebut. Bahkan, dia juga hanya membaca sekilas ringkasan yang setebal sekitar 500 halaman itu.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga membantah laporan bahwa Bush baru mengetahui praktik menyimpang CIA itu pada 2006. Sebagai wakil presiden, Cheney mengklaim pemimpin 68 tahun tersebut tahu segala bentuk teknik interogasi kontroversial CIA sejak awal. ’’Tidak ada yang perlu disesalkan. Saya rasa, kita sudah melakukan apa yang sudah seharusnya terjadi,’’ ujarnya.

Sementara itu, negara-negara sekutu AS mengecam praktik kontroversial CIA tersebut. Di sisi lain, mereka memuji Komite Intelijen Senat yang berani memublikasikan laporan tersebut. ’’Itu merupakan pelanggaran terhadap norma-norma liberal dan demokrasi yang selama ini kita junjung tinggi. Tindakan semacam itu tidak boleh terulang,’’ tegas Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier.

Jubir Komisi Eropa Catherine Ray mengapresiasi Dianne Feinstein dan Komite Intelijen Senat yang dipimpinnya karena mengungkapkan kebenaran yang pahit. ’’Laporan tersebut membuka mata dunia terhadap AS yang ternyata juga melakukan pelanggaran HAM,’’ ungkapnya. Padahal, selama ini, AS memosisikan diri sebagai negara yang paling membela HAM. (AP/AFP/CNN/jp)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of