General Manager PT PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono sedang memberi penjelasan.
KUPANG, mediantt.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur (NTT) menjelaskan bahwa gangguan kelistrikan yang terjadi di sejumlah wilayah di NTT umumnya dipicu oleh sambaran petir pada jaringan transmisi serta gangguan pohon pada jaringan distribusi, terutama saat musim hujan.
Penjelasan tersebut disampaikan General Manager PT PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, kepada wartawan dalam kegiatan Media Gathering yang digelar di Rooftop Kantor PLN UIW NTT, Senin (15/12).
Eko mengatakan, sistem kelistrikan PLN telah dilengkapi dengan mekanisme pengamanan otomatis yang akan bekerja saat terjadi gangguan, seperti sambaran petir, demi melindungi aset pembangkit dan menjaga keselamatan masyarakat.
“Jaringan transmisi itu ibarat jalan tol yang menghubungkan pasokan listrik dari pembangkit hingga ke ujung Timor dan Atambua. Ketika terjadi sambaran petir di jaringan tegangan tinggi atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), sistem proteksi akan secara otomatis memutus aliran listrik untuk mencegah kerusakan besar pada pembangkit,” jelas Eko.
Menurutnya, petir merupakan fenomena alam yang tidak bisa dilawan, melainkan hanya dapat dimitigasi. Karena itu, PLN memasang berbagai peralatan proteksi guna menyalurkan energi petir langsung ke tanah.
“Energi petir sangat besar. Jika tidak segera diputus, sambaran ini bisa merusak turbin atau peralatan pembangkit yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Oleh sebab itu, pemadaman sesaat pada kondisi tertentu justru diperlukan untuk mengamankan sistem,” ujarnya.
Eko menambahkan, mekanisme pengamanan tersebut serupa dengan fungsi Miniature Circuit Breaker (MCB) di rumah pelanggan. Saat terjadi arus pendek, aliran listrik akan otomatis terputus guna mencegah kebakaran atau bahaya lainnya.
Sementara itu, Senior Manager Transmisi dan Distribusi PT PLN UIW NTT, Suparje Wardiyono, menjelaskan bahwa gangguan pada jaringan transmisi paling sering dipicu oleh sambaran petir. Adapun gangguan pada jaringan distribusi umumnya disebabkan oleh pohon yang terlalu dekat dengan jaringan listrik.
“Untuk mengantisipasi petir, kami memasang Lightning Arrester atau penangkal petir di tower transmisi. Alat ini berfungsi menangkap sambaran petir, memotong arusnya, lalu menyalurkannya ke tanah melalui sistem grounding,” tegas Suparje.
Selain itu, PLN juga memasang Optical Power Ground Wire (OPGW) di bagian atas tower sebagai jalur pengaman tambahan agar sambaran petir tidak menyebar ke jaringan lainnya.
Untuk jaringan distribusi, PLN secara rutin melakukan pemangkasan pohon, khususnya yang berada dalam radius tiga meter dari jaringan listrik. Namun, pelaksanaan pemangkasan tersebut membutuhkan izin dan dukungan dari pemilik lahan.
“Banyak gangguan terjadi karena ranting pohon menyentuh jaringan listrik saat tertiup angin. Karena itu, kami sangat mengharapkan dukungan masyarakat untuk mengizinkan pemangkasan demi menjaga keandalan listrik dan keselamatan bersama,” tambahnya.
PLN menegaskan, setiap pemadaman yang terjadi akibat gangguan dilakukan sesuai dengan prosedur keselamatan dan bertujuan melindungi sistem kelistrikan, aset negara, serta mencegah risiko yang lebih besar bagi masyarakat. (*/jdz)
