Menggugah Kesadaran Umum

by -57 views

Oleh : Saur Hutabarat
Dewan Redaksi Media Indonesia

MUSUH terbesar dalam krisis kiranya bukan semata virus korona, sang causa prima, melainkan juga ketakutan yang bersemi di dalam batin. Dalam keadaan normal, orang hidup jauh dari bayang-bayang kematian. Dalam krisis, orang hidup seperti dekat dengan kematian. Maka merebaklah kepanikan, kecemasan, ketakutan.

Semua yang buruk itu berada di dalam batin. Bukan batin yang kosong. Di situ semula bersemayam kegigihan, kini kerisauan. Semula di situ hadir keberanian, kini ketakutan. Semula di situ ketenangan, kini kecemasan.

Kesadaran umum akan badan yang sehat dan pentingnya kekebalan tubuh meningkat. Vitamin C dan E habis di pasar. Orang rajin berjemur untuk memicu sistem kekebalan tubuh melalui kulit. Beredar pedoman yang salah, berjemur pada pukul 10.00-12.00 WIB. Yang benar pukul 08.00-09.30. Perlu kesadaran umum jangan sampai terjadi sekarang terselamatkan dari pandemi, kelak berpenyakit kulit.

Juga perlu kesadaran umum untuk merawat kesehatan mental. Berkepanjangan berada di dalam rumah bakal datang bosan, jemu, bahkan batin menjerit merasakan hidup bagaikan burung dalam sangkar. Sangkar emas sekalipun tetaplah sangkar yang mengurung badan. Apa yang seyogianya dilakukan agar tidak terjadi di dalam tubuh yang sehat terdapat batin yang sakit?

Kiranya tak ada yang kuasa mengungkung fantasi, mengekang imajinasi. Kreativitas ialah anak kandung imajinasi, buah fantasi. Yang selama ini tak sempat bermain musik, bermusiklah. Yang selama ini tak sempat melukis, melukislah. Yang selama ini tak tertarik puisi, bacalah sajak sajak Rendra, Sutardji, Goenawan Mohamad. Enjoying the passage of time, bersama seni dan sastra.

Jangan lupa perkara-perkara kecil. Bila selama ini enggan memasak karena dimudahkan pesan makanan online (daring), sekarang nikmatilah kembali kerepotan di dapur. Jangan tiru pemerintah Malaysia, mungkin saking bingungnya, selama masa lockdown dan bekerja di rumah minta perempuan jangan mencereweti suaminya. Di rumah sekalipun perempuan pun diminta berpakaian rapi dan bermake up. Pemerintah diserang netizen, apa kaitan make up dengan korona? Pemerintah minta maaf.

Tak kalah penting bila ada buku yang selama ini tak sempat dibaca, mulailah buka lembar pertama. Bagi yang suka melihat keburukan pemerintah, kiranya turut menyebarluaskan kesadaran umum. Bukankah Republik ini tanggung jawab bersama?

Kesadaran umum yang sederhana ialah dalam keadaan sulit, jangan lupa dalam keadaan senang. Dalam senang, jangan lupa keadaan sulit. Biarlah tiap hari punya kesulitannya sendiri, kegembiraannya sendiri.

Pakar matematika/statistika UI, ITB, UGM membuat prediksi. Pandemi korona berakhir pertengahan April, atau sekitar 29 Mei, atau awal Juni. Semua itu hasil menggunakan model matematika canggih, tetapi tidak berurusan dengan pesimistis dalam berpikir, optimistis dalam bertindak, yang merupakan substansi pokok dalam menghadapi krisis.

Pesimistis dalam berpikir berbunyi: barangkali krisis berakhir di akhir tahun. Barangkali setahun lagi. Karena itu, perlu kesadaran umum akan pentingnya batin yang kuat.

Sejauh ini hanya Menteri Keuangan yang pesimistis dalam berpikir. Katanya dalam skenario berat, nilai tukar rupiah bisa mencapai 17.500 per dolar AS. Kemungkinan terburuk rupiah bisa menembus level 20 ribu per dolar AS. Padahal, yang dipatok dalam APBN Rp14.400 per dolar AS.

Skenario berat pertumbuhan ekonomi tahun ini 2,3%. Skenario terburuk pertumbuhan negatif, minus 0,4%. Economist Intelligence Unit memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini 1%. Masih kalah pesimistis dalam berpikir jika dibandingkan dengan Menteri Keuangan yang berpikir pertumbuhan minus.

Pemerintah optimistis dalam bertindak antara lain merelaksasi pajak. Tapi apa arti pemerintah bila tanpa kesadaran umum? Kesadaran umum penting bukan hanya untuk menyelamatkan pribadi atau dunia usaha, melainkan juga untuk menyelamatkan Republik.

Republik ini teruji oleh pemberontakan berbasis agama ataupun ideologi. Republik ini punya dasar yang kuat. Republik ini belum pernah diuji pandemi sekejam sekarang. Kiranya kita pun belum pernah punya kesadaran umum sehebat sekarang, sedahsyat sekarang. (*)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments