KUPANG – Anggota DPR/MPR RI dan juga Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Golkar, Emanuel Melkiades Laka Lena menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika), bagi kaum milenial di Kota Kupang, di Aula DPD I Partai Golkar NTT, Sabtu (30/11/2019).

Melki Laka Lena mengatakan, alasan kegiatan ini dibuat di gedung Golkar karena gedung ini adalah rumah bersama. Hal ini dimaksud agar masyarakat juga generasi masa kini bisa beradaptasi dengan partai politik.

Sosialisasi empat pilar kebangsaan ini dihadiri oleh tiga pemateri, yakni Emanuel Melkiades Laka Lena (Anggota DPR RI Fraksi Golkar sekaligus Wakil Ketua Komisi IX DPR RI), Rahmawati Saban (KOHATI Kota Kupang) dan Ningsih Bunga (Kompak).

Korps HMI-WATI (KOHATI) Kota Kupang yang merupakan Perhimpunan Kader-Kader Perempuan Muslim Rahmawati Saban mengatakan, kaum milenial NTT harus mengedepankan toleransi yang baik karena Indonesia negara yang majemuk.

Menurutnya, dalam berbagai hal, manusia juga diciptakan dengan keberagaman yang berbeda antara satu sama lain. Selain itu, sebagai ciptaan Tuhan manusia memiliki perbedaan seperti rasa emosional, sikap, dan cara pandang individu terhadap sesuatu hal. Dengan beragamnya perbedaan tersebut, sebagai insan yang berperilaku dan moral yang baik harus mampu menciptakan sebuah keberagaman maupun pluralitas di dalam Indonesia itu sendiri.

“Masih banyak pekerjaan rumah terkait ketidakadilan bagi rakyat Indonesia, seperti diskriminasi terkait pendidikan dan kesehatan. Sebagai generasi milenial harus bisa menyikapi semua masalah ataupun dinamika yang terjadi saat ini dengan sebijak mungkin khususnya di media sosial,” ujar Rahmawati.

Hal senada disampaikan Ketua Bidang Organisasi Komunitas Pemuda Peace Maker (Kompak) Kupang Ningsih Bunga dalam pemaparannya menjelaskan tentang pandangan orang muda tentang 4 pilar kebangsaan.

Ningsih juga mengutip apa yang disampaikan Melkiades Laka Lena dalam sambutannya bahwa masyarakat harus menjadikan partai politik sebagai rumah bersama. Artinya, seharusnya 4 pilar kebangsaan ini sebagai tiang fondasi negara yang kuat. Kaum milenial harus punya tanggungjawab terkait 4 pilar kebangsaan tersebut.

Ia juga mengatakan, penanaman nilai-nilai toleransi dan menciptakan iklim toleran pada setiap generasi untuk selalu belajar dalam perbedaan, membangun rasa saling percaya, memelihara sikap saling pengertian, menjunjung tinggi sikap saling mengasihi sangatlah penting.

“Dalam mengimplementasikan nilai-nilai keberagamaan tersebut harus dilakukan terus menerus agar milenial memiliki paradigma pemahaman keberagamaan yang moderat,” ujarnya.

Ningsih berharap, kegiatan ini dapat menjadi informasi, bahan pemikiran, pengetahuan, serta sumbangsih bagi kaum muda agar terciptanya sebuah proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan kesadaran dikalangan anak muda untuk hidup damai, penuh toleransi tanpa adanya konflik.

Sedangkan Emanuel Melkiades Laka Lena atau biasa disapa Abang Melki dalam pemaparannya dimulai dengan hal unik, yakni meminta dua siswa SMAN 8 Kota Kupang (Rio dan Ivon) untuk menyampaikan pendapatnya terkait toleransi.

Rio berpendapat, di kelasnya di SMA Negeri 8 Kota Kupang ada beragam suku, namun tidak ada pembedaan antara suku yang satu dan lainnya, semuanya hidup rukun setiap hari.

Menurut Rio, dengan banyaknya campuran suku di dalam kelas, menuntut para siswa untuk bisa memahami karakter setiap suku. Selain itu dengan adanya perbedaan tersebut, siswa juga diharapkan bisa saling menghargai satu dengan yang lain.

Ivon juga ikut menceritakan kondisi kelas dalam pengertian toleransi. Di mana banyak hal yang didapatkan ketika dalam pergaulan di kelas dan di sekolah tidak memilih teman, karena hal itu dapat memudahkan pelajar dalam setiap aktivitas di sekolah.

Melki Laka Lena pun memberikan alasan kenapa memulai pemaparannya dengan meminta pemikiran kaum muda khususnya para pelajar, karena milenial saat ini sangat berbeda dengan generasi lainnya. Karakter milenial terkoneksi langsung dengan teknologi. Artinya dengan era teknologi yang sangat kuat ini, apakah kaum muda masih memahami 4 pilar kebangsaan dan tidak terjangkit penyakit radikalisme.

“Kita punya ideologi Pancasila. Pola penanaman nilai-nilai Empat Pilar harus sesuai kebutuhan milenial. Kelompok milenial suka dengan hal yang praktis dan sederhana. Cara yang tepat adalah sosialisasi bagi generasi muda milenial seperti ini secara terus menerus, agar pemahaman dini terkait empat pilar ini sudah ada dalam pemikiran kaum muda,” paparnya.

Dalam pertengahan materinya, Melki Laka Lena meminta salah satu siswa untuk berdiri dan mengucapkan secara cepat dan tepat 5 sila dalam pancasila, karena menurut Melki pentingnya menghafal, memahami dan menindaklanjuti Pancasila, dinilai dan makna dari Pancasila itu sangat luar biasa pentingnya.

“Jangan pernah capek berpikir dan bertindak dalam mempraktekkan empat pilar kebangsaan ini, karena empat pilar ini akan kita pegang sebagai bangsa Indonesia sampai kita mati,” pungkas Melki.

Selain pemaparan materi terkait 4 pilar, ada juga sesi tanya jawab antara anggota forum bersama para pemateri. Sosialisi 4 Pilar Kebangsaan ini diikuti ratusan peserta yakni siswa siswi SMA Negeri 8 Kota Kupang, mahasiswa ekstra kampus dan intra kampus serta kaum muda Kota Kupang. (mira)