Anak Yang Cerdas ‘Didesain’ dari Keluarga

by -28 views

Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memberi perhatian khusus terhadap anak, Unicef, telah mengingatkan betapa pentingnya partisipasi keluarga dalam proses pendidikan anak sejak dini. Keluarga harus menjadi oase yang memegang peran penting dalam proses pendidikan anak. Trisentra pendidikan yang dicetuskan Ki Hajar Dewantara; keluarga, sekolah dan masyarakat, mesti bahu-membahu merawat ekosistem untuk tumbuh kembang anak. Sudahkah keluarga kita memberi penguatan terhadap pencerdasan anak-anak?

PERSOALAN dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat kompleks. Karena itu, perlu diurai satu per satu sesuai periode perkembangan anak. Paling ideal adalah saat anak masih berusia dini. Di sinilah keterlibatan penuh keluarga, dalam hal ini orang tua, untuk memberi sentuhan dalam proses pendidikan anak. Masa depan anak yang cerah, tentu harus dimulai dari keluarga. Ini pun sudah menjadi komitmen Unicef, lembaga PBB yang mengurus anak, yang mengingatkan pentingnya partisipasi orangtua dalam proses pendidikan anak sejak dini.

Perpektif pendidikan keluarga ini pun sudah diingatkan Mendikbud Anies Baswedan, bahwa orangtua perlu melakukan pendekatan baru dalam mendidik dan mengasuh anak yang diharuskan mengalami penyesuaian sosial. Sering kali orangtua menerapkan rumus yang sama dengan era yang dialami mereka dalam mendidik anak, Padahal, setiap anak lahir sebagai pembelajar dan akan belajar dari semua yang ia temui, dan mencoba untuk tahu semua hal itu. Karena itu, orangtua diharapkan menuntun bukan menuntut anak. Sesuatu yang sederhana, tapi implikasinya dalam proses pendidikan anak sangat besar.

Di simpul ini, orangtua dan keluarga berperan sangat penting dalam menentukan tumbuh kembang anak. Menjadi pendidik itu terpenting, tapi orangtua sering kali tidak siap memerankan fungsi itu. “Seluruh masyarakat mesti bersiap menjadi orangtua yang mampu menjalankan peran sebagai pendidik,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Drs Sinun Petrus Manuk di Kupang, April 2016.

Menurut Piter, kalau bertitik tolak dari UU Sisdiknas, maka ada tiga pilar strategis dalam proses pendidikan anak, yakni pemerintah, orangtua dan masyarakat. Harus diakui bahwa anak itu punya waktu lebih banyak di rumah. Artinya, dari segi waktu, peran keluarga lebih besar dan kuat, walaupun banyak orang tua yang menganggap sekolah lebih berperan.

“Memang ‘kewibawaan’ guru rasanya lebih besar di depan anak daripada orangtua, artinya anak lebih dengar guru daripada orangtua. Padahal peran orang tua sangat sentral sehingga orangtua harus menunjukkan wibawa di depan anak agar anak mendengar nasehat yang disampaikan, dan bisa meneladani orangtuanya,” kata mantan guru ini.

Ia juga mengingatkan, peran orang tua itu harus lebih fokus pada pendidikan anak usia dini. Sebab, usia balita adalah usia emas yang perlu dipersiapkan secara baik. “Jadi mengolah kecerdasan dan karakter anak harus dimulai dari balita, baik melalui kelompok bermain (pay group) atau PAUD dan TKK. Di sini peran orangtua sangat besar selain guru,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Sosial NTT ini juga menjelaskan, Dinas Dikbud NTT punya program Gong Belajar yang dicanangkan tahun 2012. Sejatinya, ini adalah gerakan moral untuk membangun karakter peserta didik untuk lebih disiplin menggunakan waktu belajar. Pun, membudayakan anak untuk belajar pada waktu yang sudah disepakati. “Program Gong Belajar ini sesungguhnya untuk mengatur waktu belajar anak didik, sementara orang tua dan masyarakat diminta mengawasi kegiatan belajar pada waktu yang disepakati. Pagi pukul 06.00 Wita gong belajar ditabuh agar anak-anak siap ke sekolah dan berproses di sekolah dalam tanggungjawab guru. Sedangkan sore hari, gong belajar ditabuh pukul 16.30 Wita dan pada pukul 17.00 Wita, para peserta didik sudah harus berada di rumah untuk mulai melakukan aktifitas belajar. Ini juga penting untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa pendidikan bukan hanya tanggungjawab sekolah, tetapi tanggungjawab bersama antara orangtua dan masyarakat,” tegasnya.

Untuk menghasilkan peserta didik yang berkualitas, menurut dia, dibutuhkan kerja keras dan komitmen bersama untuk membangun pendidikan di NTT sehingga bisa keluar dari kesulitan.
“Kalau kita tidak mau bekerja keras dan tidak memiliki komitmen bersama membangun pendidikan di NTT, itu sama dengan kita membunuh masa depan anak-anak NTT,” tegasnya.
Ia juga berharap, dengan adanya gong belajar, karakter peserta didik bisa dibangun untuk semakin disiplin menggunakan waktu belajar dan membudayakan belajar sebagai sebuah kebiasaan. “Hanya dengan belajar terus-menerus, peserta didik bisa berprestasi baik di sekolah,” ujarnya.

Partisipasi Keluarga

Pakar pendidikan NTT, Drs Bene Labre, berpendapat, karena sistem pendidikan di Indonesia masih berkutat pada persoalan visi pendidikan nasional yang terus berganti sesuai pergantian rezim pemerintahan, maka berdampak langsung pada kualitas pendidikan, yang jauh tertinggal. “Karena itu, sangat penting mengembalikan peran keluarga sebagai fondasi pendidikan anak,” kata dosen FKIP Unika Kupang ini.

Bagi dia, persoalan dalam dunia pendidikan Indonesia sangat kompleks. Meski demikian, kompleksitas itu harus diurai satu per satu dan dimulai pada periode perkembangan anak, saat anak masih berusia dini. “Nah, di sini perlu meningkatkan peran keluarga,” saran dia.

Menurut dia, keterlibatan orangtua berkorelasi erat dengan keberhasilan pendidikan anak. Sejumlah penelitian menunjukkan, sebut dia, keterlibatan orangtua yang lebih besar dalam proses belajar berdampak positif pada keberhasilan anak di sekolah. “Keterlibatan orangtua juga mendukung prestasi akademik anak pada pendidikan yang lebih tinggi serta berpengaruh juga pada perkembangan emosi dan sosial anak,” Bene Labre, mengingatkan.

Ia menyebutkan ada berbagai upaya keluarga untuk mendukung pendidikan anak. Salah satunya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif di rumah. “Artinya perlu menerapkan waktu khusus belajar bagi anak dan orangtua melakukan pendampingan saat anak belajar. Selain itu, mengalokasikan anggaran khusus untuk meningkatkan kemampuan anak, seperti les tambahan,” imbuh Bene Labre.

Orangtua dan keluarga, sebut dia, berperan sangat penting dalam menentukan tumbuh kembang anak. “Kecerdasan anak juga sangat ditentukan oleh peran keluarga,” tegasnya.

Bermain
Pengamat pendidikan lainnya, Ataburan Klemens Kedang, M.Pd berpendapat, kecerdasan seorang anak amat ditentukan suasana di rumah. Anak usia empat tahun, menurut dia, adalah usia emas yang menentukan kemampuan inteleknya. Jadi, empat tahun pertama itu adalah the golden age (usia emas) setiap anak manusia.

Menurut dia, salah mengisi the golden age itu akan sangat merepotkan anak di kemudian hari. Salah satu yang selalu dianjurkan adalah membiarkan anak bermain. Sebab, usia empat tahun pertama adalah umur ketika anak berhadapan dengan dunia bermain. Kerap kali, orangtua keliru mengartikan umur ini dengan misalnya menjejali anaknya dengan begitu banyak pengetahuan sistematis seperti membaca, matematika dan seterusnya.

Ia mengatakan, dunia anak sejatinya adalah bermain. Pada masa anak-anak kisaran usia 1-6 tahun, aktivitas paling dominan dan menyita perhatian mereka adalah bermain. Hidup seolah hanya bermain dan bermain. Banyak orangtua terganggu melihat anak-anak yang terlalu sering dan terlalu banyak bermain. Mereka ingin anak-anaknya tidur pulas dalam gendongan, duduk manis di pangkuan dan tidak boleh menginjak tanah mengeksplorasi dunia dalam lingkupnya.

Mengutip Prof Dr. Conny R Semiawan, demikian dosen Unika Kupang ini, bermain bagi anak adalah kegiatan serius namun mengasyikkan. Melalui bermain secara bebas, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui permainan anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik fisik maupun mental intelektual dan spiritual.

Bermain adalah medium, dimana anak mencobakan diri, bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajah dunianya, dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya hingga mampu melakukannya.
“Keluarga adalah kesatuan unit terkecil di dalam masyarakat, dan lingkungan pertama, tempat persemaian paling subur bagi tumbuh dan berkembang seorang anak menuju masa depannya. Jangan biarkan anak salah menemukan lingkungan keluarga, tempat persemaian pertamanya. Sebaliknya, siapkanlah lingkungan yang kondusif, biarkanlah rumah menjadi tempat paling nyaman dan menyenangkan buat anak-anak bermain guna merasang otaknya,” tambah Bene Labre. (josh diaz beraona)

Foto : Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Sinun Petrus Manuk (kiri), bersama Gubernur NTT, Drs Frans Lebu Raya (kanan).