Prisia Nasution Ulurkan Tangan ke Pelosok Indonesia

by -168 views

TIDAK banyak yang tahu apa sebenarnya kesukaan aktris Prisia Nasution (31). Tidak seperti wanita lain yang gemar memanjakan dirinya, pemeran utama dalam film Sang Penari ini justru memiliki kesukaan membantu orang lain.

Saat ditemui Suara Pembaruan dalam acara sosial mengunjungi wanita-wanita Inspirasi Kopernik di Kupang dan Lembata, Prisia mengaku bersedia mengulurkan tangannya tanpa dibayar oleh perusahaan atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Syaratnya hanya satu, yakni kegiatan tersebut bisa bermanfaat dan membantu banyak orang, khususnya anak-anak di wilayah tersebut.

“Dari dulu aku memang suka kegiatan sosial. Bahkan sampai ke pelosok-pelosok aku datangi. Sampai sekarang pun aku mengajar anak-anak yang tinggal di daerah gunung, dekat sungai Cisadane, Bogor,” cerita Prisia.

Lalu mengapa Prisia suka membantu sesama? Jawabannya sederhana saja. Prinsip dari wanita yang sebenarnya berperawakan tomboi ini adalah action not talk only. Dikatakan Prisia, sedari dulu banyak orang yang hanya berbicara ingin membantu sesama. Namun faktanya, mereka hanya sekadar bicara saja.

Sebaliknya, Prisia justru tidak mau banyak bicara, karena yang terpenting baginya adalah bertindak.

“Hal-hal kecil yang biasa aku ajarkan kepada anak-anak. Seperti bagaimana mereka harus mencintai lingkungan dan kampung tempat dimana mereka tinggal. Bagiku, hal kecil seperti itu yang kini jarang diajarkan kepada mereka,” paparnya.

Selain membantu sesama, kesukaan Prisia mendatangi pelosok-pelosok adalah bisa bertemu dengan banyak orang hebat. Seperti yang ia temui di Kupang dan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bersama dengan kegiatan “Indonesian Women for Energy” Prisia bertemu beberapa perempuan hebat. Perempuan yang mau berjuang demi desa dan keluarga mereka.

Namun sayangnya setiap datang ke pelosok, ia hanya sering bertemu dengan orang-orang tua yang masih melestarikan budaya Indonesia. Sebut saja di Sumba, di sana Prisia hanya melihat orang tua yang menenun. Sementara anak muda pergi merantau.

Dampak dari pergi merantau itu, anak-anak muda asli daerah tidak mengerti cara melestarikan budaya mereka. Alhasil, budaya asli Indonesia kian tergerus dengan budaya barat.

“Misi aku melakukan aksi sosial dengan membantu orang-orang di daerah adalah bertemu dan memberi pencerahan kepada generasi muda. Aku tidak mau sampai anak-anak muda di daerah lupa pada budaya mereka. Masa orang bule saja bisa menghargai budaya kita, tetapi kita sendiri tidak perduli. Itu miris sekali kan?” ungkap wanita yang gemar berburu kuliner di daerah-daerah. (sp/jk)