Kisah Guru Honorer Bergaji Rp 100.000 di Pedalaman NTT

by -178 views

SoE, mediantt.com — Kesejahteraan guru honorer yang mengabdi di sekolah di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, memang masih jauh dari harapan.
Beberapa guru yang menjalani nasib itu adalah Adrianus Maneno, Petronela Kenjam, dan Meliana Eba.
Tiga orang guru muda yang mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kristen Huetalan di Desa Huetalan, Kecamatan Tobu, setiap bulan hanya menerima gaji sebesar Rp 100.000.
Namun demikian, meski gaji mereka hanya setara dengan beras 10 kilogram, semangat ketiganya untuk mengajar tidak surut.
Kebanyakan, murid yang mereka ajar berasal dari latar belakang keluarga yang tidak mampu.
Ketiganya, saat ditemui Kompas.com, Selasa (24/11/2015), mengaku menikmati pekerjaan mereka. Meski demikian, gaji yang mereka terima berbeda jauh jika dibandingkan dengan gaji pembantu rumah tangga dan buruh bangunan.
“Setiap bulan kami hanya terima gaji Rp 100.000. Karena sekolah kami ini swasta, maka gaji yang kami peroleh ini, dikasih melalui sumbangan dari para siswa,” kata Adrianus yang diamini Petronela dan Meliana.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka membuka usaha kecil-kecilan di rumah orangtua angkat mereka di Desa Huetalan.
“Kami bertiga ini orang Kefa (TTU). Saya dan Petronela tamatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Timor (Unimor) Kefamenanu, sedangkan Meliana adalah tamatan FKIP Universitas PGRI Kota Kupang,” kata dia.
“Di desa ini kami tinggal bersama orangtua asuh yang dengan senang hati mau menerima kami. Setiap hari selain mengajar kami juga membuka usaha kios kecil-kecilan,” kata Adrianus lagi.
“Meski gaji kami kecil, tapi semangat kami hanya pengabdian untuk anak-anak di desa ini yang juga punya semangat yang sama untuk belajar. Kami tetap mengabdi karena daripada ilmu kami mati, mending kami transferkan kepada 45 murid di sekolah ini,” sambungnya.
Menurut Adrianus yang mengasuh mata pelajaran ekonomi, jumlah guru di SMK Kristen Huetalan ada sembilan orang.
Hanya satu orang guru yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yakni kepala sekolah. Sedangkan sisanya masih guru honorer dengan gaji sama dengan Adrianus.
“Selama satu bulan kalau kami hidup dengan Rp 100.000 memang tidak cukup. Kalau kami yang laki-laki mungkin masih mendingan, tetapi guru yang perempuan tentu mengalami kesulitan karena kebutuhan mereka terlalu banyak,” kata Adrianus.
“Harapannya sebagai guru yakni dengan keterbatasan gaji, kami dan juga bangunan sekolah kami yang belum permanen, kalau bisa pemerintah memberi perhatian serius,” kata dia. (kpc/st)

Ket Foto : Petronela Kenjam (kiri) dan Meliana Eba (kanan) dua orang guru SMK Kristen Huetalan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sedang mengajar di ruang kelas yang darurat.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments