Lamalera Krisis Air Bersih

by -70 views

Ketika Desa Lelata, Lewotala, dan Dusun Lamamanu yang adalah bagian integral dari Desa Lamalera A, sedang kelimpahan air bersih, warga Lamalera A dan B sedang kesulitan bahkan krisis air bersih. Warga Lamalera selalu mengalami krisis air bersih, dan terpaksa membeli dari Lamamanu atau Lewotala. Mengapa?

 

LAMALERA yang adalah salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Lembata, karena tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional, selalu saja terjebak pada persoalan yang sama; air bersih. Sejak beberapa pekan lalu, warga Lamalera A dan B, sungguh merasakan kesulitan air bersih. Sumber air yang selama ini diambil dari wilayah Lewuka, Kecamatan Wulandoni, sering mengalami gangguan teknis seperti pipa yang patah atau bocor, entah itu di dekat mata air, atapun di sekitar Watobua. Dan, yang lebih fatal hingga warga Lamalera krisis air bersih adalah berkurangnya debit air sehingga tidak mampu melalui jalan berkilo-kilo hingga ke Lamalera. “Air sebenarnya ada tapi karena cuaca yang terlalu panas makanya debit air di mata air mengecil sehingga tidak bisa deras mengalir ke Lamalera. Itu yang menyebabkan selama dua pekan warga Lamalera kesulitan air bersih sehingga terpaksa harus beli ke Lamamanu atau ambil ke Lewotala,” jelas Kepala Desa Lamalera A, Yos Molan Dasion, ketika dihubungi mediantt.com ke ponselnya di Lamalera, Senin 13 Oktober 2014.

Ia mengatakan, air bersih yang selama ini dikonsumsi masyarakat Lamalera bersumber dari mata air yang dibeli dari Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni, yang sudah diritualkan dengan prosesi adat. Tapi selama ini selalu terkendala pada masalah teknis seperti pipa bocor atau patah. “Masalah yang paling sering terjadi adalah pipa bocor atau patah sehingga mengganggu kelancaran aliran air ke Lamalera. Setiap ada kerusakan kita diperbaiki, tapi beberapa saat kemudian bocor atau patah lagi. Mungkin karena sistem pemasangan pipa tidak sesuai dengan standarnya sehingga lebih sering bermasalah,” katanya.

Menurut dia, akibat krisis air selama kurang lebih dua minggu tersebut, masyarakat Lamalera harus membeli dari Dusun Lamamanu. Tak cuma itu, sebagian warga juga terpaksa minum air kongga yang diambil dari sumur di Faileu atau dari cela-cela batu di Faiblolo atau Failere. “Yang punya uang beli ke Lamamanu dengan harga per drom Rp 100.000 atau per jerigen 5 liter Rp 2000. Kalau Lewotala tidak jual, hanya pergi ambil saja,” sebut Yos Molan.

Mengatasi krisis air bersih di Lamalera, menurut dia, pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan Desa Lelata dan Dusun Lamamanu, tapi sampai saat ini belum ada kepastian kapan air bisa diambil dari kedua wilayah tersebut. “Sebagai aparat Desa, saya sudah bertemu langsung dengan pemilik air di Desa Lewotala, juga pemuka di Dusun Lamamanu, tapi belum ada jawaban pasti,” katanya.

Ia menuturkan, ke Desa Lewotala yang pertama dilakukan adalah permintaan maaf atas nama Desa Lamalera A dan B karena sikap tidak terpuji warga Lamalera yang pernah secara membabi buta membongkar pipa dari Lamalera hingga ke sumber air di Waibukabarek, beberapa tahun silam. Entah mengapa, saat itu seluruh anak muda dari Desa Lamalera membongkar seluruh pipa. Akibatnya, sejak saat itu Desa Lewotala tidak lagi memberikan air kepada warga Lamalera. “Kalau di Lamamanu itu kita langsung minta air. Saya bertemu langsung dengan Pak Baltasar Resing, dan dia mengatakan menerima kehadiran saya sebagai Kepala Desa, tapi ia berjanji akan bicarakan dulu masalah itu dengan keluarganya yang lain, termasuk warga Lamamanu. Tapi sampai saat ini juga belum ada kabar dari Pak Tasar Resing,” kata Dasion.

Ia juga mengungkapkan, tahun lalu (2013) juga pihaknya bersama tokoh-tokoh adat dan masyarakat juga sudah bertemu dengan Baltasar Resing untuk niat yang sama. Tapi jawaban Tasar saat itu, debit air tidak cukup untuk dibagikan ke Lamalera. Tapi sejumlah warga Lamamanu mengaku sejatinya debit air cukup untuk bisa diberikan ke Lamalera.

Persoalan siapa yang menjadi dalang mengapa Lamamanu tetap bersikeras tidak memberikan air ke Lamalera, terungkap secara polos pada rapat umum (preta) di Desa Lamalera A, pada Minggu (5/10). Rapat yang khusus membahas masalah air itu, warga menyampaikan uneg-uneg dan kekesalannya terhadap Pemerintah Desa yang dinilai lamban merespon krisis air tersebut. Saat itu, mantan Sekretaris Desa, Feliks Oleona, mengungkapkan kalau yang menjadi penyebab adalah AK, mantan kepala desa. “Ini yang diungkapkan Bapak Feliks Oleona dalam rapat umum itu. Tapi kami sudah lakukan pendekatan sehingga kita menunggu saja kabar dari Lamamanu dan juga Lewotala,” ungkap Yos Dasi0n.

Asal tahu saja, sebelum berkelimpahan air saat ini, warga Lamamanu mengambil air dari Lamalera, yang bersumber dari Lewotala. Saban hari sejak subu warga Lamamanu dan warga Lamalera sudah antre untuk mendapat jatah air. Warga Lamamanu harus jalan kaki sekitar dua kilo meter dengan mendaki. Itu dilakukan setiap hari, entah itu pagi, siang atau sore, bahkan malam. Lantas, ketika Lamamanu memiliki sumber air sendiri, orang Lamalera (meski tidak semua), mulai berusaha menghambat. Dari cerita yang berhasil direkam, bahwa yang paling menyakitkan warga Lamamanu adalah ketika kapal motor yang membawa pipa dari Lewoleba, nyaris tidak bisa diturunkan hanya karena segelintir orang Lamalera yang tidak mau memuat pipa-pipa itu dari atas motor. Ini yang membuat warga Lamamanu terutama tokoh-tokoh masyarakatnya merasa tersinggung dan menyatakan tidak akan memberikan air kepada Lamalera. Buktinya, hingga saat ini Lamamanu menjadi ‘sangat pelit’ dengan air untuk Lamalera.

“Yang salah kan orang Lamalera sendiri. Kita ini selalu mengaku paling pintar, hebat dan menganggap mereka itu orang kwela (gunung), ya akibatnya seperti yang sedang dialami masyarakat kita di Lamalera saat ini. Sekarang kita gigit jari kan. Mestinya kita juga bisa merendah dan menghargai orang lain. Harus ada sikap legowo baru bisa,” kritik Nani Emangona Nivak, anggota Ikatan keluarga besar Lamalera (Ikabela) di Kupang, ketika membahas masalah air ini dalam pertemuan bulanan di kediaman Magdalena Gokok, Minggu (12/10).

Sementara itu, sesepuh Ikabela Kupang, Yos Emi Tukan, mengusulkan agar Pemerintah Desa Lamalera A dan B berusaha memediasi masalah ini dengan Lamamanu dan Lewotala agar ada solusi mengatasi krisis air minum ini. “Kalau bisa perlu adanya lembaga seperti perusahaan air minum yang bisa mengelola air dengan sumber air dari Lewotala atau Lamamanu, tinggal orang Lamalera membayar iuran bulanan,” saran dosen Unika Kupang ini. “Kita memang sangat prihatin dengan masalah air ini. Tapi kita juga berharap masalah air ini bisa segera teratasi dengan menunjukkan sikap kerendahan hati untuk bicara secara baik dengan Lamamanu dan Lewotala,” tambah Ketua Ikabela Kupang, Ataburan Clemens Kedang.

 

Alternatif dari Imulolong

Kepala Desa Lamalera A juga menjelaskan, potensi sumber air yang saat ini menjadi alternatif untuk Lamalera adalah dari Desa Imulolong, yang adalah proyek dari Dinas Pekerjaan Uumum (PU) Kabupaten Lembata. Menurutnya, seluruh infrastruktur sudah tersedia, baik itu bak penampung maupun pipa, tinggal mengalirkan air saja dari Imulolong. “Tapi karena para pekerja yang adalah orang Imulolong merasa belum dibayar sisa upahnya, makanya air belum bisa dialirkan ke Lamalera. Kita berharap Dinas PU segera mengatasi masalah ini. Kami hanya berharap air dari Imulolong ini, sambil menunggu hasil negosiasi dengan Desa Lewotala dan Dusun Lamamanu,” tegas Yos Dasion.

Ia menambahkan, sejak tidak mengalir selama dua minggu, saat ini air sudah mulai mengalir lagi dari Lewuka tapi masih juga ada kebocoran sehingga macet lagi. “Kita harapkan orang-orang Lamalera yang ada di luar Lamalera bisa memberi saran dan pikiran untuk mengatasi masalah air bersih di Lamalera ini,” pinta Kades Lamalera A.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Lembata, Paskalis Tapobali, belum berhasil dikonfirmasi soal proyek air minum dari Imulolong ke Lamalera tersebut. “Bapak lagi ada dinas keluar Lembata,” ujar seorang stafnya. (jdz)

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments