Spiritualitas dan Kritik Diri Saat Penutupan Gema Ramadan di Buyasuri

oleh -72 Dilihat

ATUWALUPANG, mediantt.com – Wakil Bupati Lembata, H. Muhamad Nasir, resmi menutup rangkaian perlombaan menyongsong Idulfitri 1447 Hijriah di Lapangan Bola Bianana, Desa Atu’walupang, Kecamatan Buyasuri, Jumat, 20 Maret 2026.

Dalam seremoni tersebut, Wabup Nasir menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan intelektual dan fondasi spiritual dalam mengelola daerah.

​”Pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan rasio atau kecerdasan intelektual semata. Harus ada sandaran spiritual yang kuat,” ujar Wabup Nasir dalam sambutannya di hadapan warga dan tokoh masyarakat setempat.

Wabup ​Nasir menyoroti konsep Iqra yang menurutnya sering kali hanya dimaknai secara sempit.

Dalam konteks pembangunan yang lebih luas, ia menyebut Iqra sebagai perintah untuk melakukan riset dan penelitian, namun tetap dalam koridor Bismi Rabbik, menyandarkan ilmu pengetahuan kepada Tuhan.

​Ia merinci tiga manfaat utama literasi Al-Qur’an bagi masyarakat: Enlightenment (pencerahan spiritual).
​Enrichment (pengayaan pemahaman fenomena alam). ​Empowerment (pemberdayaan potensi berpikir).

​”Integrasi iman dan ilmu pengetahuan adalah kunci membentuk manusia yang berintegritas,” tambahnya.

​Di luar aspek religius, Nasir menyelipkan pesan politik yang cukup lugas mengenai praktik demokrasi di Kabupaten Lembata.

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan harus dijalankan dengan kerendahan hati dan kesiapan untuk menerima koreksi dari rakyat.

​”Demokrasi itu dari, oleh, dan untuk rakyat. Pemimpin punya tanggung jawab moral untuk selalu mengutamakan kepentingan publik di atas segalanya,” tegas Wabup Nasir.

​Menjelang akhir masa Ramadan, Wabup Nasir yang didampingi sejumlah anggota DPRD dan pimpinan OPD juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Buyasuri.

Ia mengakui adanya kekurangan dalam menjalankan amanah kepemimpinan bersama Bupati Lembata.

​Ketua Umum PHBI Kabupaten Lembata, Ismail Usman, menambahkan, seluruh rangkaian lomba ini bertujuan membentuk insan kamil atau pribadi yang paripurna.

Menurutnya, keberhasilan Ramadan diukur dari perubahan karakter seseorang menjadi lebih indah dalam perkataan dan benar dalam sikap.

​”Idulfitri adalah momentum untuk membersihkan diri dari residu dendam dan dengki. Kita kembali ke titik nol, kembali ke kesucian,” kata Ismail.

​Acara yang berlangsung dengan antusiasme tinggi ini dihadiri oleh Ketua MUI Lembata, unsur TNI/Polri, serta tokoh agama dari berbagai desa di Kecamatan Buyasuri.

Penutupan ini sekaligus menandai dimulainya persiapan puncak perayaan Idulfitri yang diharapkan mampu mempererat ukhuwah di wilayah tersebut. (Lakonawa/Prokompimkablembata)