Retret Alumni PMKRI Regio Timor: Dari Ruang Sunyi Menuju Keterlibatan Baru

oleh -132 Dilihat

KUPANG, mediantt.com – Setelah rangkaian retret alumni PMKRI Regio Flores berlangsung lancar di Ruteng pada 5–7 Desember, Forum Komunikasi Alumni (Forkoma) PMKRI Nusa Tenggara Timur kini bersiap melanjutkan kegiatan serupa untuk Regio Timor. Retret akan digelar pada 12–14 Desember 2025 di Biara Susteran SSpS Bello, Kupang.

Ketua Panitia, Paskalis Angkur, mengungkapkan bahwa hingga H-1, sekitar 300 alumni telah memastikan kehadiran. Jumlah itu terdiri dari 230 peserta yang mendaftar secara daring dan 70 peserta melalui pendaftaran luring.
“Kita pastikan besok peserta mencapai 300 orang,” ujar Paskalis saat meninjau persiapan akhir di lokasi kegiatan, Kamis (11/12) malam.

Paskalis didampingi Sekretaris Panitia, Ronald Raya, bersama Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT, Aloysius Min, serta mantan Ketua PMKRI Cabang Kupang, Johni Kaunang. Forkoma Pusat juga mengonfirmasi kehadiran Sekretaris Umum Herry Soba dan tokoh alumni nasional Christofel Nugroho. Kehadiran para tokoh ini menandai luasnya jejaring alumni dan keragaman lintas generasi yang ingin dirangkul melalui ruang kontemplasi ini.

Meneguhkan Mandat Moral

Retret Regio Flores dan Regio Timor mengusung tema “Mari Kita Memulai Lagi untuk Berbagi”, terilhami dari spiritualitas St. Fransiskus dari Asisi—sebuah ajakan untuk kembali membangun “Rumah Tuhan”.

Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT, Aloysius Min, menilai tema ini sangat relevan bagi alumni yang kini berkecimpung dalam berbagai profesi, dinamika politik, dan panggilan hidup masing-masing.
“Retret ini mengingatkan siapa kita, dari mana kita berangkat, dan untuk apa kita dipanggil. Dengan berbagi pengalaman dan tanggung jawab, alumni dapat kembali memainkan peran strategis bagi masyarakat dan daerah,” katanya.

Ia menegaskan, tiga nilai dasar PMKRI—kristianitas, fraternitas, dan intelektualitas—menjadi dasar refleksi. Karena itu, retret dirancang bukan sebagai forum ceramah, melainkan ruang dialog partisipatif. Pemantik hanya membuka percakapan, sementara ruang utama diberikan kepada peserta untuk berbagi pengalaman dan membaca ulang panggilan hidup.

Untuk Regio Timor, sejumlah pemantik telah dijadwalkan hadir, termasuk Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakenoni, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, akademisi RD Dr. Leo Mali, serta para tokoh alumni baik dari pusat maupun daerah.

Kembali ke Akar

Secara filosofis, retret ini diposisikan sebagai “ruang sunyi” bagi para alumni—tempat mengambil jeda dari ritme kehidupan profesional dan politik yang semakin cepat. Dalam dokumen pengantar retret disebutkan bahwa alumni diajak “kembali ke dusun”, sebuah metafora untuk kembali ke ruang hening, menata ulang perjalanan hidup, dan menemukan kembali energi batin untuk berbagi.

Retret menegaskan tiga pilar refleksi:

Kristianitas

* Mengidentifikasi tantangan etis dalam profesi.
* Menyegarkan panggilan menghadirkan nilai Kristiani dalam kehidupan sosial.
* Menghidupkan kembali semangat solidaritas.

Fraternitas

* Mempertemukan visi alumni dari berbagai profesi.
* Membangun kolaborasi lintas generasi.
* Memperkuat rasa memiliki dalam peran publik.

Intelektualitas

* Mendorong alumni menjadi rujukan pemikiran kritis bagi Gereja dan masyarakat.
* Menegaskan tanggung jawab intelektual dalam pembangunan daerah dan bangsa.

Harapan Akan Keterlibatan Baru

Paskalis Angkur menegaskan bahwa retret tidak berhenti pada temu kangen. “Kerinduan bertemu itu penting, tetapi refleksi atas perjalanan hidup dan panggilan publik jauh lebih penting. Di sini alumni menata ulang kompas nilai yang lama mereka pegang,” ujarnya.

Ia berharap retret menjadi momentum memperkuat kontribusi alumni PMKRI bagi Gereja, masyarakat, dan negara. Para alumni, katanya, perlu kembali menghadirkan keberanian moral dan kejernihan intelektual di tengah perubahan sosial dan politik yang cepat.

Dengan terkumpulnya ratusan alumni dari dua wilayah besar, Forkoma PMKRI NTT berharap retret ini menjadi pintu masuk untuk keterlibatan yang lebih sistematis: mulai dari karya sosial, advokasi publik, pendidikan politik warga, hingga penguatan pembangunan daerah.

Pada akhirnya, retret ini meneguhkan kembali komitmen alumni PMKRI untuk hidup dan berkarya seturut motto Pro Ecclesia et Patria: demi Gereja dan Tanah Air. (jdz)