Bidik Komoditas Unggulan, Bupati Lembata Tanam Perdana Jagung Hibrida di Tapobaran

oleh -87 Dilihat

TAPOBARAN, mediantt.com – Pemerintah Kabupaten Lembata mulai merumuskan kembali arah investasi sektor pertanian dengan menjadikan jagung hibrida sebagai komoditas unggulan baru.

Penanaman perdana jagung Hibrida di Desa Tapobaran, Kecamatan Lebatukan, pada Rabu, (10/2) dipimpin Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, bukan sekadar agenda seremonial, melainkan penanda masuknya pola investasi desa berbasis lahan ekspansi.

Program ini menempatkan para purna migran sebagai tenaga produksi kunci, sebuah strategi yang dinilai mampu menggerakkan modal kerja desa tanpa mengandalkan investasi eksternal dalam jumlah besar.

Pemerintah daerah menghadirkan perangkat teknis dari Dinas Pertanian, Nakertrans, PMD, hingga Kominfo sebagai bentuk orkestrasi kebijakan lintas sektor.

Kelompok Tani Harapan, pemegang lahan garap seluas 3,3 hektare, menjadi pionir model investasi mikro berbasis kelompok. Mereka menanam jagung hibrida Pioner varietas P88 dengan jarak tanam 20 sentimeter, metode intensif yang diproyeksikan memberi yield tinggi per hektare, sebuah rasio yang menjadi indikator penting bagi keberlanjutan investasi komoditas.

Dalam arahannya, Bupati Kanis Tuaq menolak menjadikan kegiatan ini sekadar simbol politik. Ia menegaskan pentingnya kepastian eksekusi sebagai ‘jaminan stabilitas investasi’ bagi petani.

“Tidak boleh tanam simbolis. Tanam harus sampai habis, karena kita tidak mau merugikan petani,” ujar Bupati.

Bupati Tuaq juga mendorong pola tanam ganda dengan memasukkan kacang hijau. Strategi ini dianggap sebagai mekanisme risk diversification yang lazim dalam investasi agro.

“Supaya pendapatan dari kacang hijau dan jagung bisa berjalan bersamaan,” katanya.

Dari perspektif ekonomi daerah, langkah ini menunjukkan upaya pemerintah menggeser struktur pertanian Lembata dari pola subsisten menuju produksi berbasis nilai tambah.

Dengan memanfaatkan tenaga purna migran yang sebelumnya menjadi bagian dari arus kerja keluar daerah, pemerintah mencoba membalik aliran produktivitas menjadi masuk kembali ke desa.

Pemerintah menjanjikan dukungan berupa benih unggul, pendampingan teknis, dan perluasan akses pasar.

Paket dukungan ini menyusun fondasi yang biasa disebut investor sebagai enabling environment: lingkungan yang memberi kepastian produksi, distribusi, dan stabilitas harga.

Desa Tapobaran kini diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan jagung hibrida yang dapat menarik minat kolaborasi investasi, baik dari swasta lokal maupun koperasi desa.

Jika produktivitas sesuai target, model Tapobaran berpotensi menjadi prototipe investasi pertanian terintegrasi yang mampu menggerakkan ekonomi desa dan meningkatkan kontribusi sektor pangan bagi Lembata.

Program ini memperlihatkan perubahan cara kerja pemerintah daerah: dari sekadar menyalurkan bantuan menuju merancang skema pembangunan yang menghitung risiko, potensi keuntungan, dan keberlanjutan. Sebuah arah kebijakan yang semakin mirip dengan pendekatan investasi modern meski dijalankan melalui tangan petani desa. (Lakonawa/prokompimkablembata)