Melki Dorong KUR Jadi Motor Ekonomi Rakyat, Integrasikan OVOP, OSOP dan OCOP di NTT

oleh -68 Dilihat

WAIKABUBAK, mediantt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat sekaligus instrumen untuk menekan kemiskinan dan stunting di daerah.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan melalui bank Himbara seperti BNI, BRI, Mandiri, BTN serta Bank NTT untuk memperkuat ekonomi masyarakat.

Hal itu disampaikan Gubernur Melki dalam pertemuan bersama para pemangku kepentingan Kabupaten Sumba Barat bertema Pengembangan Ekonomi Kerakyatan untuk Menanggulangi Kemiskinan dan Stunting, Minggu (15/3/2026), di Aula Kantor Bupati Sumba Barat.

“KUR adalah salah satu pola untuk menggerakkan ekonomi rakyat melalui perbankan. Melalui KUR kita bisa membentuk usaha-usaha produktif,” ujar Melki.

Menurutnya, pengembangan usaha tersebut dapat diperkuat melalui konsep One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP). Tiga pendekatan ini akan menjadi penopang pengembangan NTT Mart sebagai ruang pemasaran produk lokal.
Ia menegaskan, skema penyaluran KUR pada 2026, khususnya melalui Bank NTT dan bank Himbara, perlu diintegrasikan dengan program OVOP, OSOP, dan OCOP sesuai ketentuan penyaluran KUR dan akan dievaluasi secara berkala.

Gubernur Melki juga memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT yang menunjukkan tren penurunan kemiskinan. Pada September 2024 angka kemiskinan di NTT tercatat 19,02 persen, dan turun menjadi 17,5 persen pada September 2025, atau berkurang 1,52 persen.

“Penurunan ini terjadi saat pemerintah pusat melakukan efisiensi dana transfer daerah. Karena itu kita harus memastikan program pengentasan kemiskinan berjalan tepat sasaran,” katanya.

Ia meminta Ketua Tim Pendataan dan Penanggulangan Kemiskinan Terpadu, Johny E. Ataupah, mempercepat penyelesaian data kemiskinan agar program bantuan lebih akurat.

“Program ini akan semakin efektif jika Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kabupaten/kota terhubung dan bekerja secara terintegrasi,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Sumba Barat Yohanes Dade mengatakan kemiskinan dan stunting masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Pemerintah Kabupaten Sumba Barat telah melakukan sejumlah langkah strategis, antara lain intervensi terhadap kelompok rentan gizi, memastikan alokasi sumber daya untuk program prioritas, memperkuat kerja sama lintas sektor, serta mengalokasikan anggaran dalam APBD 2025/2026 untuk penanganan stunting.

Menurutnya, angka kemiskinan di Sumba Barat juga menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

“Dalam periode 2021–2025, tingkat kemiskinan di Kabupaten Sumba Barat turun sebesar 1,92 persen,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata, terutama lewat berbagai event budaya yang melibatkan pelaku UMKM dan IKM, sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Kehadiran NTT Mart di Kabupaten Sumba Barat juga dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas pemasaran produk lokal masyarakat.

“Melalui NTT Mart, produk-produk lokal hasil karya masyarakat dapat dipasarkan lebih luas,” ujar Yohanes.
Usai pertemuan, Gubernur Melki bersama rombongan juga menyempatkan diri mengunjungi dan berbelanja di NTT Mart by Dekranasda Sumba Barat. (*/jdz)