Melki Dorong Ekonomi Kerakyatan dari Ladang hingga Laut di Sumba Timur

oleh -88 Dilihat

WAINGAPU, mediantt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan penguatan ekonomi kerakyatan menjadi strategi utama untuk menanggulangi kemiskinan dan stunting di daerah.

Hal itu disampaikan Gubernur Melki saat menggelar pertemuan bersama para Ketua Tim Percepatan Pembangunan NTT di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Melki, pembangunan daerah saat ini difokuskan pada dua agenda besar, yakni penguatan ekonomi kerakyatan dan percepatan penurunan stunting. Kedua agenda tersebut saling berkaitan erat karena kesejahteraan ekonomi keluarga sangat menentukan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat.

“Sumba Timur memiliki potensi besar. Ini harus kita kelola secara optimal agar mampu menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan,” ujar Melki.

Ia menekankan pentingnya peningkatan produktivitas sektor pertanian, peternakan dan perikanan, penguatan akses pasar bagi petani dan nelayan, serta pengembangan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat.

Penguatan ekonomi kerakyatan, lanjutnya, mencakup perencanaan produksi, pengaturan dan pengendalian produksi, hilirisasi produk, serta pendampingan pelaku usaha. Selain itu juga didukung literasi keuangan, akses permodalan, distribusi, dan pemasaran.

Untuk mempercepat pelaksanaan program prioritas, Pemerintah Provinsi NTT telah membentuk Tim Percepatan Pembangunan NTT yang terbagi dalam lima bidang utama, yakni penguatan ekonomi kerakyatan, komunikasi pemerintahan, implementasi Dasa Cita, optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta penataan dan penanggulangan kemiskinan.

“Melalui tim ini diharapkan koordinasi dan sinergi program semakin kuat sehingga berbagai kebijakan pembangunan benar-benar memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali mengungkapkan tren kemiskinan di daerahnya terus mengalami penurunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di Sumba Timur pada 2025 sebesar 25,64 persen atau sekitar 70.350 jiwa, turun dari 27,04 persen pada 2024.

“Meskipun menurun, kita harus jujur bahwa angka ini masih menempatkan Sumba Timur sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di NTT,” ujarnya.

Ia juga menyebut prevalensi stunting masih menjadi perhatian dengan angka sekitar 14,9 persen atau sebanyak 3.303 balita.

Di sisi lain, Sumba Timur memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Produktivitas padi sawah pada 2024 mencapai 4,02 ton per hektar dan jagung 3,45 ton per hektar. Komoditas unggulan perkebunan antara lain jambu mete, kelapa, kemiri dan pinang dengan total produksi 7.640 ton.

Sektor peternakan juga cukup kuat dengan populasi sapi 41.202 ekor, kerbau 38.976 ekor, kuda Sumba 33.352 ekor, kambing 58.379 ekor, dan babi 45.512 ekor. Sementara produksi perikanan tangkap mencapai 10.202 ton dan rumput laut 38.731 ton pada 2024.

“UMKM menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Sumba Timur, dengan produk unggulan seperti tenun ikat Sumba, madu Sumba, kerajinan tangan, dan berbagai olahan pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Ia menilai program One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP) yang digagas Gubernur NTT sejalan dengan program pembangunan daerah Humba Sejahtera, Humba Mandiri, dan Humba Cerdas.

“Harapan kami, pertemuan ini menjadi titik awal memperkuat gerakan ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal, dari ladang, kandang, laut, hingga tangan-tangan terampil masyarakat Sumba,” tegasnya. (*/jdz)