LEVA NUANG: Tradisi Yang Terus Bertahan dengan Adat, Iman dan Kearifan Lokal

oleh -12 Dilihat

Foto kolase Misa arwah dan misa Leva di Pantai Lamalera, Jumat 1 Mei 2026.

Malam itu sunyi dan terasa keramat. Di bawah langit Pantai Lamalera, nyala lilin berpendar di depan Kapela Santo Petrus dan Paulus. Umat larut dalam doa dan Ekaristi Kudus, memohon istirahat kekal bagi para nelayan yang gugur di laut; mereka yang diyakini kembali ke pangkuan Ina Leva, ibu kehidupan.

Nama-nama mereka dipanggil satu per satu. Angin laut berembus pelan, seolah membawa doa menuju samudra luas, tempat mereka pernah berjuang. Bagi masyarakat Lamalera, para arwah bukan sekadar kenangan, melainkan penjaga dan perantara, yang diyakini turut menentukan keberhasilan musim melaut, Leva Nuang, tahun ini.

Rangkaian sakral itu diawali dengan ritual adat Ie Gerek, sebuah upacara memanggil roh ikan paus yang dilakukan oleh suku Lango Wujon. Prosesi dimulai dari Batar, sebuah bukit sekitar 1,5 kilometer dari kampung, yang dipercaya sebagai tempat tinggal leluhur.

Perjalanan menuju Batar tidak mudah. Jalan mendaki dan berliku harus ditempuh selama hampir dua jam. Di sana, sesajen dipersembahkan: tembakau dibakar, tuak dituangkan, beras jagung ditabur, dan telur ayam dipecahkan. Syair adat dikumandangkan, diiringi denting gong yang menggema di antara bukit.

Empat orang menjadi tokoh utama ritual: dua memegang tombak, dua lainnya membawa gong. Kepala mereka dihiasi dedaunan, tubuh berbalut kain sarung. Dari Batar, mereka berjalan turun tanpa boleh menoleh ke belakang; sebuah simbol keteguhan dan kesetiaan pada leluhur.

Perjalanan berlanjut ke Fato Koteklema, batu hitam besar menyerupai paus. Di titik ini, ritual kembali dilakukan sebelum rombongan bergerak menuju laut, singgah di beberapa titik yang diyakini sebagai tempat peristirahatan leluhur.

Setibanya di pantai, empat orang menceburkan diri ke laut, memanggil “roh” paus dari kedalaman. Ritual Ie Gerek pun mencapai puncaknya; menghubungkan gunung, darat, dan laut dalam satu garis kosmologis yang utuh.

Damai Sebelum Melaut

Sehari sebelumnya, masyarakat Lamalera menggelar Tobu Neme Fate, ritus perdamaian antar-suku. Semua konflik, sekecil apa pun, harus diselesaikan sebelum musim berburu dimulai.

Bagi orang Lamalera, harmoni di darat menentukan hasil di laut. Relasi manusia dan alam bukanlah sesuatu yang terpisah, melainkan saling memengaruhi. Tanpa damai, laut diyakini enggan memberi.

Puncak inkulturasi iman Katolik dan tradisi lokal tampak dalam misa arwah. Usai perayaan, umat menghadap laut sambil memegang lilin menyala, diikuti penaburan bunga ke laut.

Hari itu, Lamalera hening. Tak ada perahu melaut, tak ada bunyi riuh. Masyarakat percaya, saat itulah arwah leluhur datang berkunjung, ditandai aroma khas terumbu karang yang tercium di udara.

Sejak 1970, tercatat sekitar 50 nelayan meninggal di laut. Namun bagi warga, mereka tidak pernah benar-benar pergi.

***

Pagi 1 Mei menjadi penanda dimulainya Leva Nuang. Misa Leva digelar, diikuti pemberkatan laut dan perahu tradisional, peledang. Sebanyak 37 naje berjajar di sepanjang pantai, menjadi pusat aktivitas para nelayan.

Ritual mencapai puncaknya saat perahu Praso Sapang didorong ke laut. Pelepasan ini bukan sekadar simbol, melainkan pesan kepada penghuni laut bahwa manusia datang dengan kebutuhan, meminta rezeki dalam keseimbangan. Orang Lamalera sebut Tena Fule.

Saat layar terkembang sekitar 50 meter dari bibir pantai, musim berburu paus resmi dimulai. Teriakan “baleo… baleo… baleo…!” akan segera menggema ketika semburan paus terlihat di cakrawala.

Perburuan paus di Lamalera tetap bertahan dengan cara-cara tradisional. Senjata utama hanyalah tempuling, tombak sederhana dengan tali. Setiap awak memiliki peran: lamauri sebagai nakhoda, lamafa sebagai penombak, breung alep penjaga tali, dan para pendayung. Tak ada teknologi modern. Yang ada hanyalah keberanian, keterampilan, dan doa.

Menariknya, semua nelayan, termasuk remaja, boleh bergabung. Tradisi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan hidup yang diturunkan lintas generasi.

Jejak Leluhur dari Timur

Sejumlah studi etnografis menyebut nenek moyang Lamalera berasal dari Luwuk, Sulawesi, yang bermigrasi melalui jalur Maluku hingga tiba di Lepan Batan dan akhirnya menetap di Teluk Lamalera.

Syair kuno Lie Asa Usu masih dinyanyikan hingga kini, menjadi penanda ingatan kolektif tentang perjalanan panjang itu. Kisah lisan juga menyebut perpindahan dari Wulandoni hingga akhirnya menetap di Lamalera setelah berjumpa dengan tuan tanah setempat.

Kini, terdapat 19 suku yang masih mempertahankan tradisi berburu paus, dengan tiga suku utama sebagai pilar: Bataona, Blikololong, dan Lewotukan.

Bagi masyarakat Lamalera, laut bukan ruang eksploitasi. Ia adalah ruang hidup yang dijaga melalui adat, iman, dan kearifan lokal. Paus bukan sekadar buruan, melainkan simbol pemberian leluhur; yang “memberi diri” untuk kehidupan manusia.

Di tepian selatan Lembata, tradisi ini terus hidup: mengikat masa lalu, meneguhkan masa kini, dan menjaga masa depan.

Leva Nuang bukan sekadar musim berburu. Ia adalah perjumpaan antara manusia, alam, dan yang ilahi, dalam satu tarikan napas yang sama. (jdz)