Dari Lamalera Cahaya Kasih dan Doa Mama-Mama Santa Anna Terus Menyinari Gereja

oleh -532 Dilihat

Vikjen bersama para imam konselebran foto dengan mama-mama St Anna usai ekaristi.

LAMALERA – Dari pesisir Lamalera, tempat benih Serikat Santa Anna pertama kali ditanam seabad silam, kembali memancar cahaya iman, kasih, dan harapan. Sebanyak 805 mama-mama anggota Serikat Santa Anna dari 19 paroki se-Dekenat Lembata berkumpul dalam Perayaan Satu Abad Serikat Santa Anna yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026, di Paroki St Petrus dan Paulus Lamalera.

Lebih dari sekadar reuni iman, perayaan ini menjadi ungkapan syukur atas karya Tuhan yang terus hidup melalui doa, kesetiaan, dan pelayanan para perempuan Katolik bagi Gereja dan masyarakat Lembata.

Suasana syukur sudah terasa sejak hari pertama ketika para peserta disambut secara adat di gerbang Desa Lamalera B dan diarak menuju Gereja Santo Petrus dan Paulus Lamalera. Mereka kemudian diterima di rumah-rumah umat sebagai keluarga sendiri, menghadirkan wajah Gereja yang hidup dalam persaudaraan dan keramahtamahan.

Selama empat hari, para mama Santa Anna mengikuti triduum, pendalaman iman, seminar, aksi sosial, napak tilas sejarah, hingga Perayaan Ekaristi sebagai puncak syukur. Delapan kelompok pendalaman iman yang didampingi para imam menjadi ruang refleksi untuk memperbarui panggilan sebagai ibu, pendidik iman, dan pelayan kasih di tengah keluarga serta masyarakat.

Perayaan semakin bermakna dengan kehadiran Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD Adeodatus Hendrikus Leni. Bersama Deken Lembata, Vikjen disambut secara adat melalui prosesi unik menggunakan pledang, perahu tradisional Lamalera. Penyambutan di bibir pantai oleh ratusan mama-mama Santa Anna menjadi simbol indah perjumpaan antara iman, budaya, dan sejarah yang telah menyatu selama seratus tahun.

Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Lamalera, RD Fransiskus Xaverius Hewen, menegaskan, perayaan satu abad bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga memperbarui semangat pelayanan dan kesetiaan dalam iman.

“Sebanyak 805 ina-ina Santa Anna dari 19 paroki berkumpul di Paroki Lamalera untuk merayakan 100 tahun kehadiran Serikat Santa Anna di Lembata yang bermula dari Lamalera,” ujarnya.

Momentum ini juga dipadukan dengan peringatan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia VI bertema “Aku tidak akan pernah melupakan engkau” (Yesaya 49:15). Dalam seminar yang dibawakan Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Larantuka, RD Ben Belawa, para lansia diajak melihat masa tua sebagai panggilan untuk terus menjadi saksi kasih Tuhan melalui doa, kebijaksanaan, dan keteladanan bagi anak cucu.

Salah satu momen paling menyentuh adalah Perarakan Seribu Lilin pada Sabtu malam. Ribuan cahaya yang bergerak dari tepi pantai menuju gereja menjadi lambang iman yang tak pernah padam. Cahaya itu seakan membawa pesan bahwa doa para mama Santa Anna akan terus menerangi perjalanan Gereja, sekaligus menjadi harapan bagi masa depan Lembata.

Puncak syukur dirayakan dalam Ekaristi yang dipimpin Vikjen Keuskupan Larantuka bersama Deken Lembata dan para imam konselebran. Dalam homilinya, Vikjen mengajak seluruh umat menjaga warisan iman sebagai mutiara yang tak ternilai dan terus mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Ia memberikan penghargaan kepada para mama Santa Anna yang selama seratus tahun menjadi penjaga api iman dalam keluarga. Dari keluarga-keluarga Santa Anna, lahir banyak imam dan pelayan Gereja. Karena itu, mereka diminta untuk terus mendoakan para imam, biarawan-biarawati, serta tumbuhnya panggilan hidup bhakti di Keuskupan Larantuka.

Bertepatan dengan Hari Kakek-Nenek dan Lansia Sedunia, Vikjen juga mengingatkan bahwa usia lanjut bukanlah akhir dari pelayanan. Selama Tuhan masih memberikan kehidupan, setiap orang tetap dipanggil menjadi saksi iman, pembawa damai, dan pendoa bagi Gereja serta masyarakat.

Perayaan satu abad ini menjadi penanda bahwa benih iman yang ditanam misionaris Pater Bernardus Bode, SVD, seratus tahun lalu, terus bertumbuh dan berbuah. Dari Lamalera, doa-doa sederhana para mama Santa Anna tetap mengalir, menguatkan keluarga, melahirkan panggilan hidup bakti, dan menjaga nilai-nilai kasih di tengah masyarakat.

Dari Lamalera, cahaya kasih itu belum padam. Ia terus menyala dalam doa para ibu, dalam ketulusan pelayanan, dan dalam iman yang diwariskan dari generasi ke generasi; menjadi terang bagi Gereja dan seluruh Tanah Lembata. (jdz)

Tulisan ini dikompilasi dari laporan KOMSOS Keuskupan Larantuka.