Melki Dorong Kolaborasi Lintas Sektor, Program KITA SEHAT Jadi Pilar Penguatan Kesehatan NTT

oleh -56 Dilihat

KUPANG, mediantt.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat sistem kesehatan daerah melalui implementasi Program KITA SEHAT 2026, yang menitikberatkan pada layanan kesehatan terintegrasi dan perlindungan kelompok rentan.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat membuka Rapat Provincial Committee (PCC) KITA SEHAT Provinsi NTT di Aula Fernandes, Kantor Gubernur NTT, Selasa (14/4/2026).

Rapat ini dihadiri perwakilan pemerintah pusat dan mitra pembangunan, di antaranya Bappenas, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, serta DFAT Kedutaan Besar Australia.

Melki mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang dinilai mencerminkan komitmen kuat dalam membangun sistem kesehatan terintegrasi di NTT.

“Kehadiran pemerintah pusat dan mitra internasional menunjukkan pentingnya program ini sebagai fondasi sinergi antara pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Program KITA SEHAT dirancang untuk mendukung target kesehatan nasional dalam RPJPN 2025 – 2045 dan RPJMN 2025 – 2029, dengan empat fokus utama: penguatan layanan kesehatan primer, intervensi gizi inklusif, integrasi kesehatan manusia dan hewan, serta penguatan keamanan kesehatan.

Menurutnya, pendekatan terpadu, termasuk dalam pencegahan penyakit zoonosis, menjadi kunci menghadapi tantangan kesehatan ke depan.

“Implementasi program harus diperkuat melalui sinergi pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, termasuk melalui posyandu, intervensi gizi, dan percepatan penanganan stunting,” tegasnya.

Melki juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan iklim serta penguatan sistem data dan informasi kesehatan yang terintegrasi.

Ia berharap rapat PCC menghasilkan kesepakatan konkret, mulai dari struktur kelembagaan hingga penetapan daerah prioritas dan langkah implementasi yang aplikatif.

Sementara itu, Counsellor Governance & Human Development DFAT, Joanna O’Shea, menegaskan komitmen Australia dalam mendukung penguatan sistem kesehatan Indonesia secara inklusif dan berkelanjutan.

“Program KITA SEHAT merupakan kelanjutan upaya bersama dalam memperkuat layanan kesehatan primer,” ujarnya.

Ia menyebut, pertemuan PCC menjadi tahap penting untuk menetapkan struktur kelembagaan, lokasi prioritas, serta arah implementasi program tahun 2026, dengan fokus pada kelompok rentan seperti perempuan dan penyandang disabilitas.

Dari sisi perencanaan nasional, Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas, Diah Lenggogeni, menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor yang terintegrasi.

Menurutnya, program ini akan mendorong intervensi simultan pada kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, sekaligus memperkuat layanan primer, laboratorium, pengendalian penyakit, serta kesiapsiagaan terhadap ancaman kesehatan.

“NTT memiliki tantangan sekaligus peluang untuk menunjukkan keberhasilan pendekatan berbasis kebutuhan daerah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan pentingnya tata kelola yang jelas, termasuk pembagian peran dan mekanisme koordinasi agar program berjalan efektif dan terukur.

Rapat PCC turut membahas penentuan lokasi prioritas, rencana kegiatan 2026, serta penyelarasan program pusat dan daerah.

Pemerintah berharap, melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan mitra internasional, Program KITA SEHAT mampu menghadirkan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat NTT, terutama di wilayah dengan akses terbatas dan kelompok rentan. (*/jdz)