Mgr Hironimus Pakaenoni memimpin misa perayaan 25 tahun membiara para suster RVM.
KUPANG, mediantt.com – Air mata syukur, senyum bahagia, dan doa yang khusyuk menyatu dalam Perayaan Pesta Perak 25 Tahun Hidup Membiara 15 suster Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM) Distrik Indonesia di Gereja Santa Maria Assumpta, Kota Baru, Kupang, Jumat (21/8/2026).
Bagi para suster, 25 tahun bukan sekadar hitungan waktu. Seperempat abad itu adalah kisah panjang tentang panggilan, pengorbanan, jatuh-bangun, dan terutama tentang kesetiaan Allah yang terus menuntun langkah mereka sejak pertama kali memasuki masa postulan pada 1998 di SoE hingga mengikrarkan kaul kekal: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan.
Perayaan Ekaristi Syukur dipimpin Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, Pr., yang mengajak para suster untuk terus menghayati panggilan dengan sukacita dan tetap hadir secara nyata bagi mereka yang menderita.
“Jika dahulu Tuhan berkata, ‘Mari, ikutlah Aku’, hari ini para suster kembali menjawab, ‘Ya Tuhan, saya tetap milik-Mu. Gunakanlah hidup saya bagi kemuliaan-Mu dan keselamatan sesama’,” ujar Mgr. Hironimus.
Menurutnya, perjalanan 25 tahun hidup membiara adalah bukti nyata bahwa panggilan religius hanya dapat dijalani karena kasih karunia Tuhan yang tak pernah berhenti bekerja dalam hidup manusia.
“Dua puluh lima tahun telah berlalu, semuanya karena kasih karunia Tuhan. Dan perjalanan yang masih terbentang di depan pun akan tetap berlangsung karena kasih karunia Tuhan,” katanya.
Salah seorang suster yang merayakan Pesta Perak mengungkapkan bahwa perayaan syukur ini menjadi momen untuk mengenang jejak-jejak kasih Allah yang menyertai seluruh perjalanan panggilan mereka.
“Kesetiaan Allah selalu mendampingi kami sejak masuk postulan tahun 1998 di SoE. Tuhan terus berkarya, membentuk dan memulihkan panggilan kami hingga hari ini. Semua terjadi karena kasih karunia Tuhan,” tuturnya.
Ia mengatakan, dalam perjalanan hidup membiara, para suster belajar meneladani Bunda Maria yang dengan penuh iman menjawab kehendak Allah melalui ungkapan, ‘Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu’. Keteladanan Maria yang setia mendampingi Yesus hingga di kaki salib menjadi sumber inspirasi dalam menjalani panggilan religius.
“Menjadi suster berarti belajar menyerahkan diri secara total kepada kehendak Allah, apa pun jalan yang harus dilalui,” ungkapnya.
Mgr. Hironimus berharap, para suster RVM terus menjadi saksi kasih Tuhan melalui kehidupan yang sederhana, penuh iman, dan pelayanan yang tulus kepada sesama.
Perayaan Pesta Perak ini menjadi penanda penting bahwa di tengah perubahan zaman, masih ada pribadi-pribadi yang dengan setia menjawab panggilan Tuhan selama puluhan tahun. Sebuah kesaksian bahwa kasih karunia Allah tetap bekerja, memelihara, dan menguatkan mereka untuk terus menjadi tanda harapan bagi Gereja dan masyarakat.
Adapun 15 suster yang merayakan 25 tahun hidup membiara yakni Sr. Maria Kristina Uba Bataona, RVM; Sr. Maria Marselina Yenny Gambe, RVM; Sr. Maria Angelina Kero, RVM; Sr. Maria Agnes Laa, RVM; Sr. Maria Justina Jose Lopes, RVM; Sr. Maria Rosina Manbait, RVM; Sr. Maria Amanda Nahak, RVM; Sr. Maria Ludgardis Namang, RVM; Sr. Maria Yuliana Natun, RVM; Sr. Maria Rofina Inna Papa, RVM; Sr. Maria Marta Pau, RVM; Sr. Maria Agustina Mariana Rona, RVM; Sr. Maria Monika Seran, RVM; Sr. Maria Dorothea Tlaan, RVM; dan Sr. Maria Ernailinda Ukat, RVM.
Seperempat abad telah mereka lalui dalam doa, pelayanan, dan pengabdian. Dan hingga hari ini, mereka tetap mengucapkan satu jawaban yang sama kepada Tuhan: “Ya, kami tetap milik-Mu.” (jdz)


