TOLIKARA – Konflik sosial terus berlangsung di Distrik Gika dan Distrik Panaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, sejak 9-24 April. Akibat konflik ini 2 orang warga tewas dan 95 unit rumah terbakar. Ini dikatakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolikara, Feri Kagoya yang dihubungi Beritasatu.com, Minggu (24/4) malam.

Diungkapkan, penyebab konflik sosial adalah persoalan pembagian bantuan dana Rencana Strategis Pengembangan Kampung (Respek) yang dinilai tidak adil antara kedua distrik. “Kasus terjadi sejak 9 April lalu karena masyarakat merasa pembagian bantuan dana desa tidak adil, sehingga terjadi perang dan pembakaran rumah yang menyebabkan ada korban luka berat dan luka ringan,sementara warga lainnya mengungsi ke kampung lain,”ujarnya.

Dikatakannya, akibat konflik ini 2 orang meninggal dunia, 17 orang luka berat dan 15 orang luka ringan dan 95 unit rumah terbakar. Saat ini BPBD Tolikara, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), TNI dan Polri telah berada di lokasi konflik dan berusaha melakukan pendamaian antara kedua belah pihak. Namun konflik masih tinggi karena ada dendam di kedua belah pihak.

BPBD dan pemerintah daerah telah melakukan penanganan darurat, namun APBD Tolikara yang terbatas membuat bantuan tersendat, selain itu kendala di lapangan adalah medan yang sangat berat. “Kendaraan roda empat tidak dapat menjangkau daerah konflik karena medan sangat berat. BPBD Tolikara telah meminta agar bantuan diberikan melalui udara dengan menggunakan pesawat terbang atau helikopter, “katanya.

Kepala Pusat Data Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan pihak BNPB telah meminta bantuan dan sudah dilakukan upaya perdamaian. Namun potensi konflik masih tinggi karena ada dendam antara kedua pihak.
“BPBD dan Pemerintah Daerah telah melakukan penanganan darurat, namun APBD Tolikara yang terbatas membuat bantuan tersendat,” ujarnya.

Menurut data BNPB, kerugian materi meliputi 95 unit rumah yang terbakar. Selain itu, terjadi juga kerusakan pertanian, penjarahan ternak dan kehilangan harta benda. “Kerugian keseluruhan masih dalam penghitungan,” kata Sutopo. (sp/jk)

Foto : Ilustrasi konflik sosial di Papua.