Tak Punya TPS, Kelurahan Naikolan Bikin Strategi Angkut Sampah Door to Door Demi Kesehatan Warga

oleh -12 Dilihat

Lurah Naikolan, Redem Hardi.

KUPANG, mediantt.com – Pemerintah Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang terus berupaya menangani persoalan sampah meski belum memiliki Tempat Pembuangan Sampah (TPS).

Lurah Naikolan, Redem Hardi, menjelaskan strategi yang dilakukan yakni kerja sama dengan Dinas Kebersihan melalui layanan truk sampah yang rutin keliling masuk gang permukiman.

“Kalau sampah Kelurahan Naikolan tidak ada tempat pembuangan, tetapi masyarakat kerja sama dengan Dinas Kebersihan. Jadi sampah tetap di depan rumah masing-masing, kemudian mobil yang angkut,” jelas Redem, Kamis (10/9/2026).

Pengangkutan dilakukan setiap minggu. Mobil berkeliling keluar masuk gang mengambil sampah yang telah disiapkan warga. Untuk operasional, ada sedikit kontribusi warga untuk truk.

Selain itu, kelurahan berupaya mengaktifkan kembali bak sampah di kawasan Part Gunung Sinae. Bak tersebut hasil kerja sama dua gereja, namun belum memiliki kepengurusan resmi melalui SK.

“Dengan saya masuk ini belum dibuatkan SK-nya. Sehingga saya berinisiatif di masa saya ini, saya akan buatkan SK pengurus untuk bak sampah Part Gunung Sinae ini,” katanya.

Redem menyebut, ia bersama LPM, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Karang Taruna, tim kelurahan dan mahasiswa KKN telah meninjau langsung lokasi bak sampah yang sudah lama tertutup dan sempat dilaporkan ke DLH.

Volume sampah di lokasi tersebut masih sedikit, sebagian besar dari anak-anak dan orang tua di lingkungan part. Selama ini warga yang mengantar sampah tidak dikenakan biaya karena dianggap sebagai persembahan untuk gereja.

Untuk meningkatkan pengelolaan, kelurahan akan membangun kerja sama dengan sekolah untuk memilah sampah, khususnya plastik, sebelum diangkut ke bak Gunung Sinae.

“Saya janji keliling di sekolah-sekolah, saya bangun kerja sama dimana sekolah memilah memang sampah yang plastik, ditampung nanti yang jemput itu pengurus bak sampah,” ujarnya.

Kelurahan juga menyiapkan motor sampah untuk mendukung pengangkutan jika pengurus belum memiliki kendaraan.

Sejumlah sekolah telah menyatakan siap, yakni SD Oepura 1, SD Oepura 2, SD Naikoten, dan SMP Negeri 3. Mekanismenya, jika sampah pilahan sudah banyak, sekolah akan menginformasikan ke kelurahan atau pengurus bank sampah untuk diangkut.

Selain pengangkutan, kebersihan lingkungan di tingkat RW juga didorong lewat kerja bakti berbasis inisiatif warga yang diinformasikan melalui grup komunikasi.

“Kalau misalnya mereka mau kerja bakti, mereka info di grup. Kami dari kelurahan turun sama-sama dengan masyarakat di RW itu,” katanya.

Dengan strategi tersebut, Kelurahan Naikolan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis kolaborasi warga, sekolah, Karang Taruna, LPM dan perangkat kelurahan demi menjaga kesehatan lingkungan. (*)