Staf Ahli Gubernur Apresiasi Festival Muro; Harmoni Alam dan Manusia Itu Mutlak

oleh -604 Dilihat

Persiapan pembukaan Festival Muro di Lembata, Jumat (22/8).

LEWOLEBA, mediantt.com – Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTT, Linus Lusi, M.Pd mengapresiasi pelaksanaan Festival Muro di Lembata.

“Pemerintah Provinsi NTT memberikan apresiasi kepada Pememerintah Desa Kolontobo, Lembata, atas dukungan LSM Barakat dan donatur yang mendukung Muro agar tetap menjaga kelestarian alam. Ke depan Muro tidak hanya di Ohe tapi diberlakukan bagi seluruh desa di pesisir Lembata yang ada teluknya menjadi model bagi kabupaten lain di NTT,” kata Linus Lusi, di sela persiapan Muro di Lewoleba, Jumat (22/8).

Menurut putra asal Ile Ape ini, Muro atau larangan sementara berbasis kearifan lokal oleh masyarakat atau komunitas adat di suatu wilayah perdesaan tertentu, memiliki makna dan arti tertentu untuk memulihkan atau memberi ruang pemulihan alam agar dapat menghasilkan sesuatu berlimpah. Seperti muro/larangan di Desa Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, di sektor kelautan dan perikanan untuk tidak mengambil hasil laut sementara waktu atau durasi waktu dalam hitungan tahun agar ikan bertambah dan biota laut bisa berlipat ganda.

Menurut dia, pola ini tidak terlepas dari tradisi masyarakat adat “Lewohala” di kaki gunung Ile Ape area Kampung tua Lewohala, secara administrasi modern masuk Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur. Festival ini degan penamaan tersebut memberi pesan moral bahwa harmonisasi alam dan manusia mutlak untuk mencegah keserakahan disatu sisi dan di sisi lain meningkatkan kemakmuran perikanan, rumput laut lewat hasil melimpah untuk dijual dan lain sebagainya.

Kepentingan pemerintah provinsi NTT agar rakyat bisa sejahtera dengan potensi kelautan agar produksi perikanan yang ada, perlu hilirisasi dengan pengelolaan yang higines agar dipasarkan dengan kemasan yang sehat berkualitas. Sehingga Kolontobo lewat Bumdes-nya bisa menghasilkan produknya satu desa satu produk di sektor perikanan agar membangkitkan Ayo Beli NTT, Ayo beli produk dari Kolontobo untuk NTT.

Festival Muro Hari Pertama

Seperti dikabarkan, pembukaan Muro secara resmi dilakukan setelah ditutup selama dua tahun. Pembukaan kembali Muro merupakan bagian dari upaya pelestarian ekosistem laut dan pesisir yang berbasis pada kearifan lokal. Acara ini digelar dalam rangkaian festival Buka Muro I Desa Kolontobo, Jumat (22/8-Sabtu, 23/8).

Pada hari pertama, Jumat, 22/8, dilaksanakan rangkaian Ritual Gepa Lewotanah, prosesi liang menuju pantai. Menurut Ketua Panitia, Yoakim Sinung, ritual Gepa Lewotana dimaknai sebagai pemberitahuan kepada leluhur Lewotana akan adanya pelasanaan pembukaan Muro, setelah ditutup selama dua tahun. Ritual Gepa Lewotanah dilaksanakan di Lewu Kepuhure (pusat kampung) dengan menggunakan material adat seperti beraha (bulatan kapas), tuak (nira dari lontar), ike iku (ekor ikan putih), nehu wenger (segenggam beras yang ditumbuk halus). Setiap ketua suku, menerima (minum) tuak adat.

“Pada acara penutupan Muro tiga tahun lalu, telah dilaksanakan ritual dengan material yang sama, dengan hewan korban berupa satu ekor domba dan satu ekor kambing, yang meminta kepada leluhur untuk menjaga seluruh area yang ditutup dan memberikan sanksi kepada siapa saja yang melanggar Muro. Maka pada saat pembukaan Muro/larangan, harus disampaikan kepada leluhur bahwa akan dilaksanakan pembukaan Muro,” ujarnya.

Selanjutnya dilaksanakan prosesi liang menuju pantai. Prosesi dilakukan dengan oreng/liang namang atau nyanyian dengan syair adat yang dinyanyikan oleh penutur syair adat.
“Syair adat yang dilantunkan oleh penutur adat biasanya menceritakan situasi masyarakat, nasihat atau petuah untuk menjaga lingkungan,” kata Yoakim, yang juga menjabat anak suku Halimaking dan Kepala Dusun.

Selanjutnya dilaksanakan seremonial adat di pinggir pantai yang disebut Seremoni Buka Muro. Ritual ini bertujuan memohon kepada leluhur lewotanah agar memberikan hasil tangkapan yang memuaskan. Pada ritual ini dilakukan pemanggilan penguasa laut dari ujung Waijarang sampai ke ujung Tanjung. (yos/jdz)