FOTO P. Gregor Neonbasu SVD bersama Prof. James J. Fox di ANU, Canberra, Januari 2026.
Wawancara dengan Prof. Gregor Neonbasu SVD, oleh Dr Justin Wejak, Dosen dan Peneliti di Universitas Melbourne, Australia.
Pater Gregor Neonbasu SVD banyak dikenal di berbagai kalangan: akademisi, peneliti, penulis, politisi, birokrat, wartawan, dan lain-lain. Maklum beliau seorang dosen, peneliti dan penulis yang tak kenal lelah berkarya dalam dunia keilmuan, khususnya antropologi. Sejak akhir November 2025 hingga akhir Januari 2026, Pater Gregor, berada di Australia untuk menghadiri upacara penerimaan kewarganegaraan Australia dari adik kandungnya, Romo Joseph Neonbasu, di Canberra, ACT. Romo Joseph kini bekerja sebagai pastor paroki di Tumut, sebuah kota kecil di negara bagian New South
Wales (NSW), lebih kurang sejam naik mobil dari Canberra. Selain itu Pater Gregor juga bertemu dengan mantan pembimbing disertasi doktoralnya dulu di Universitas Nasional
Australia (ANU), Prof. James J. Fox, untuk berdiskusi tentang kerjasama dalam bidang penelitian dan penerbitan. Saya beruntung mendapatkan kesempatan mewawancarai Pater Gregor tentang masa kuliah S3-nya dulu di ANU, Canberra pada akhir 1990an hingga awal 2000an. Beliau menjawab semua pertanyaan saya dengan penuh minat dan gairah. Selamat menyimaknya.
Jelaskan sedikit tentang latar belakang bahasa dan budaya asal Pater di Timor?
Saya lahir dalam kultur Atoin Meto (Atoni Pah Meto), kelompok ethnic terbesar di wilayah Timor bagian barat. Bahasa ibu tentu Bahasa Indonesia, namun bahasa lokal yang selalu memberi inspirasi bagi studi saya dalam bidang Antropologi adalah Uab Meto atau Bahasa Dawan. Latar belakang Atoin Meto dan Uab Meto inilah yang di kemudian hari membuat minat saya dalam Antropologi berkembang sangat pesat. Semenjak kecil, dan terlebih ketika saya berada pada Sekolah Menengah Atas (Seminari Menengah St. Maria Imakulata Lalian, Atambua, Belu, 1977-1981), secara diam-diam saya mempelajari Uab Meto dan etnik Atoin Meto secara mandiri. Seingat saya, salah seorang pemberi inspirasi adalah guru Bahasa Indonesia Seminari Lalian, Bapak Rafael Kiik, BA, yang menekankan kepada siswa-siswa Seminari ketika itu untuk ‘boleh belajar Bahasa asing’, semisal Bahasa Latin, Inggris dan
Jerman, namun juga harus berakar pada kekayaan bahasa lokal sendiri. Ujian akhir SMA (1980) kami siswa-siswa mendapat tugas Ujian Akhir Les Bahasa Indonesia, menulis karangan ilmiah.
Saya menyusun sebuah makalah mengenai para petani desa Luniup (Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Propinsi Nusa Tenggara Timur) setelah melakukan wawancara mendalam. Pokok tulisan itu sangat kuat mendorong saya, dan bahkan masih bergema ketika sampai perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Katolik (STFTK) Ledalero. Sebagai mahasiswa, saya aktif menulis pada bulletin Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero WISMA, dan Majalah STFK Ledalero yakni VOX. Selain itu saya menjadi wartawan Surat Kabar Mingguan DIAN milik Serikat Sabda Allah (SVD) yang terbit di Ende, Flores.
Selain itu, saya juga menjadi wartawan freelance Mingguan HIDUP Jakarta, Forum Pemuda, Buletin SOLIDARITAS milik Yayasan KASIMO dan lain sebagainya. Saya masih ingat, tulisan-tulisan saya selalu tertuju pada penekanan mengenai pentingnya tradisi lisan, adat-istiadat, bahasa, budaya setempat, dan kisah-kisah masyarakat, dan betapa pentingnya usaha mencari akar kehidupan. Hal-hal ini, hemat saya, menjadi landasan atau dasar dari usaha untuk mengakarkan diri pada tradisi lisan, kisah, cerita, dan budaya Timor Barat, yang selanjutnya justeru berkembang
dengan sendirinya dalam kegiatan akademik saya hingga saat ini.
Setelah ditahbiskan menjadi imam pada 21 September 1989, saya mendapat penugasan untuk menjadi pastor pembantu di Timor-Leste (1989-1992, pertama di Oekusi dan kedua di Uatolari Viqueque). Saat itu saya memiliki catatan harian yang sangat teratur mengenai pastoral ke kampung kampung dan desa, yang di kemudian hari menjadi fundasi studi Antropologi, yang saya geluti di ANU.
Catatan-catatan itu berupa usul-asal suku-suku, mitologi, kisah dan cerita masa silam yang menghubungkan tempat yang satu dengan yang lainnya, bukan saja nama-nama tempat di Timor bagian barat melainkan juga Timor-Leste. Yang menarik dari kisah-kisah, ada tentang mitologi dalam bermacam-rupa jenis dan bentuk. Di sini saya banyak berguru pada para pakar kampung yang ada di desa-desa terpencil.
Tahun 1992 saya pindah dari Timor-Leste ke Kupang dan bekerja pada Radio Tirilolok Suara Verbum, mengasuh Unit Naskah. Kisah dan cerita, dan catatan-catatan dari desa dan kampung sebelumnya sering menjadi bahan program siaran radio dalam acara ‘CAKRAWALA KITA’ dan ‘Renungan Pagi’. Ada sekian banyak kegiatan selama 1992-1997 di bidang publikasi.
Mengapa Pater memutuskan berkuliah doktoral di Australia, tepatnya di ANU? Faktor apa yang sesungguhnya membuat Pater memilih Australia dan ANU?
Rencana untuk melanjutkan studi di ANU telah melewati jalan panjang. Awalnya tahun 1994 saya ditawarkan untuk studi Ilmu Komunikasi di Philipina, namun saya menolak oleh karena perhatian saya lebih tercurah pada ilmu-ilmu sosial. Dua tahun berikutnya (1996), saya ditawarkan pimpinan Provinsi SVD Timor untuk studi etnologi di Eropa, belum tahu persis negara mana yang dimaksud. Namun tawaran ini juga saya tolak oleh karena saat itu saya sedang menjalin kerjasama dengan Timor-Leste yang saat itu masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, NKRI. Tahun 1997 saya ditawarkan untuk studi lanjut, namun belum jelas apakah etnologi atau komunikasi. Awal tahun 1997 saya ke Surabaya, dan bertemu dengan konfrater senior Prof. Dr. Habil Yosef Glinka SVD. Dia katakan kepada saya: Gregor, saya akan perkenalkan kamu dengan Prof. Dr. James J. Fox di ANU Australia, yang pandai mengarahkan mahasiswa. Karena itu, tegasnya, bawa semua bahan kumpulan data-data budaya yang Gregor kumpulkan selama ini. Serta merta saya tertarik pada anjuran Prof. Glinka, oleh karena selain beliau sebagai mantan dosen saya di STFTK Ledalero, juga selama ini saya banyak curhat dan diskusi ilmiah dengan beliau, setiap kali saya ke Surabaya.
Di ANU Canberra ketika itu juga P. Philip Tule SVD sedang menyelesaikan program PhD-nya di bidang Antropologi di bawah bimbingan Prof. James J. Fox. Bantuan dan kreativitas akademik yang sangat cerdas saya terima dari Dr. Philip Tule SVD. Antara lain, semua surat menyurat untuk melamar masuk ANU untuk studi Antropologi diatur oleh Pater Philip. Memang Pater Philip melakukan banyak hal akademik menarik bagi saya di ANU. Terima kasih, Pater Philip.
Mei 1997, saya ke Sydney mengkuti Kursus Bahasa Inggris di Macquarie University. Oktober 1997, saya ke Canberra, diawali dengan program 3 bulan kursus Bahasa Inggris di ANUTEC, lalu kuliah program Master karena biaya studi dan dana terbatas hanya untuk dua tahun. Namun, selanjutnya, saya diberi kesempatan untuk mengambil program PhD dengan tiga orang pembimbing. Supervisor utama Prof. Dr. James J. Fox, dan dua yang lain yakni A/Prof. Dr. Andrew MacWilliam dan seorang linguist, Dr. John Bowden.
Apa yang dikatakan Prof. Yosef Glinka SVD waktu memperkenalkan saya kepada Prof. Fox, ternyata sangat benar. Prof. Fox meminta saya untuk menyampaikan bahan-bahan mentah yang saya miliki, lalu meminta saya untuk memusatkan perhatian pada Gunung Mutis. Namun, usul itu kemudian saya tolak dan memilih untuk memusatkan perhatian hanya pada Biboki. Pilihan itu saya tekuni dengan baik dan menghasilkan disertasi (2005) yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul, We Seek Our Roots (2011).
Bagaimana kehidupan di Canberra sebagai mahasiswa kala itu?
Pertanyaan ini sangat menarik. Sebagai Imam Katolik, mestinya saya harus tinggal di biara, namun oleh karena SVD tidak memiliki biara di Canberra, maka saya hidup di kos (sewah kamar dan kemudian sewah rumah). Saya hidup sebagai mahasiswa miskin, benar-benar pusatkan diri untuk studi: pindah dari kos yang satu ke kos yang lainnya. Pada hari minggu sebagai seorang imam, saya membantu di paroki dan stasi, dan itu tergantung pada permintaan dari beberapa teman imam (baik teman imam dari Indonesia, maupun dari negara lain) yang ada di paroki. Saya ingin membagi pengalaman mengenai hidup akademik di ANU yang, hemat saya, ‘sungguh-sungguh luar biasa’. Mengapa? Lazim bahwa semua mahasiswa MA dan PhD untuk antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya diberi ruang di Coombs Building, dan setiap mahasiswa PhD mendapat satu kamar, dengan ukuran besar. Kamar itu bisa diisi dengan ratusan buku pinjaman dari Perpustakaan Induk (Menzies Library) untuk jangka waktu 6 bulan, lalu ditukar lagi dan seterusnya. Ini satu hal yang, menurut saya, sangat membantu mahasiswa untuk menekuni bidang studi yang telah dipilih. Selain itu saat diskusi akademik di antara mahasiswa diatur dengan sangat rapi dan amat bagus; para pembimbing selalu menyiapkan waktu untuk melakukan pendampingan pribadi atau konsultasi akademik. Mahasiswa diberi waktu seluas-luasnya untuk memaparkan makalah dan mencari masukan informasi serta refleksi dan input dari para pakar dan juga teman-teman lainnya. Iklim persaudaraan tercipta dengan indah; tidak ada yang menganggap diri lebih pintar dan tidak juga yang merasa inferior oleh karena kreativitas para dosen dan pembimbing yang sungguh mempesona. Saya merasa sangat senang dengan para dosen dan teman-teman seperjuangan selama menekuni ilmu di ANU dan kemudian juga kunjungan ke beberapa perguruan tinggi lain semisal Sydney Uni, Maquarie Uni, dan UNSW di Sydney; kemudian juga ke beberapa perguruan tinggi lain di Melbourne dan Adelaide.
Pater menulis disertasi S3 tentang ‘Tradisi Lisan di Biboki, Timor Barat’. Disertasi itu rampung dan diserahkan pada April 2005. Jelaskan intisari disertasi itu?
Tesis ini, sesuai judul, berkiprah tentang tradisi lisan, kisah dan cerita-cerita lepas. Di dalamnya ada kisah panjang dan kelok berliku mengenai seorang tokoh kultural yang selalu disebut-sebut dalam setiap perayaan ritus, yakni LAKLAO BNANI, yang adalah leluhur saya sendiri. Jadi dengan tokoh ini, saya menempatkan tradisi lisan sebagai jembatan untuk mencari akar kehidupan suku kami (Neonbasu dan suku-suku tetangga lainnya). Tokoh ini dapat ditemukan dalam sekian banyak tradisi lisan, dan saya dengan tekun mempelajarinya, sampai juga menemukan kuburannya; beliau wafat sekitar abad XIII. Konteks refleksi dari kisah perjalanan tokoh ini dari barat ke timur seirama dengan proses rehabilitasi Kerajaan Biboki, yang ada di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Studi tentang tokoh ini memampukan saya untuk membuat sebuah sketsa perjalanan suku-suku di daratan Pulau Timor secara keseluruhan, dan bukan saja suku saya sendiri. Temuan yang menjadi inti deklarasi (novelty) dalam disertasi ini adalah teori mengenai tradisi lisan, dan beberapa sudut pandang ‘Orang Biboki’ yang dapat disari dari refleksi tuntas mengenai tradisi lisan, folklife, folkstyle, kisah, cerita dan bahkan mitos-mitos. Refleksi struktural mengenai bahasa dalam bingkai tradisi lisan dengan mendarat pada analisis konteks Biboki inilah, yang kemudian menjadi alasan cukup masuk akal bagi Institut Anthropos di Jerman untuk menerbitkan disertasi saya menjadi buku pada tahun 2011. Prof. Fox menulis prolog buku itu.
Disertasi Pater kemudian diterbitkan sebagai buku oleh Anthropos di Jerman pada tahun 2011. Apakah Pater membuat banyak revisi untuk tujuan penerbitan itu mengingat target pembaca yang lebih luas?
Mestinya demikian, dalam arti setiap disertasi selalu harus disesuaikan dengan pola pemikiran pembaca umumnya, baru kemudian diterbitkan. Memang ada sedikit perubahan, tapi tidak banyak: dari bahasa disertasi ke pola bahasa buku, dan hanya beberapa bagian disertasi saya potong. Saya berharap, potongan-potongan itu di kemudian hari dapat terbit menjadi buku lagi. Saya mengerjakannya sendiri, tanpa meminta bantuan konfrater atau orang lain, kemudian saya sendiri ajukan kepada Institut Anthropos di Jerman. Saya gembira ketika mendengar feedback dari Anthropos: “Disertasi anda menarik dan akan segera terbit!” Saya hanya sesuaikan beberapa terminologi akademik agar dapat dipahami oleh pembaca umum. Sekarang buku itu sedang diproses terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia.
Pater dikenal konsisten, aktif dan produktif meneliti dan menulis, bahkan jauh hari sebelum menyelesaikan S3 pada tahun 2005. Bisakah Pater menjelaskan sedikit tentang karya-karya tulis Pater khususnya usai S3 dengan menyoroti kontribusi dari karya-karya Pater itu dalam dunia keilmuan dan kemasyarakatan?
Pertanyaan ini menarik di satu pihak, namun membuat hati saya gundah oleh karena selesai studi Antropologi saya memang menangani sebuah pusat studi yakni Pusat Penelitian SVD Timor MANSE NSAE. Namun dua tahun sedang menangani pusat penelitian tersebut, secara sepihak, saya didaulat oleh para pembina yang adalah Uskup-Uskup Se-Nusa Tenggara dan Provinsial SVD se-Indonesia yang meminta saya (dengan desakan untuk tidak menolak) menjadi Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan St. Arnoldus (YAPENKAR) selama dua periode, 2008-2018, untuk menangani kehidupan setiap hari Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang. Saya seakan berenang di medan tugas yang tidak saya ketahui terlebih dahulu. Saya sadar bahwa walau saya antropolog, namun saya sebagai imam-biarawan maka saya tidak boleh menganggap sepele keputusan para Uskup dan Provinsial SVD se-Indonesia untuk menangani pola hidup YAPENKAR. Saya merasa sebagai bos, namun tetap mencintai Antropologi.
Sementara itu, saya diberi kesempatan untuk mengajar Antropologi pada FISIP, selain Etnologi, Politik dan Gender, serta Antropologi Pemerintahan. Kesibukan menangani YAPENKAR tak pernah membuat kecintaan saya terhadap Antroplogi menjadi padam. Awal 2014, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Kacung Marijan mengundang saya ke Jakarta. Mulailah dikusi mengenal Melanesia, dan saya kebetulan sekali memiliki banyak data (dan bahan) mengenai Melanesia, yakni materi dari Antropolog Roger M. Keesing yang diperoleh dari ayahnya Antropolog kondang Feliks Kessing. Diskusi ini meluas, dan Dirjen Kebudayaan meminta teman-teman antropolog dan sosiolog dari UI, UGM, UNAIR, UNHAS dan beberapa dari Indonesia Timur dengan nahkoda Prof. Taufik Abdulah dan Muklis PaEni. Nampaknya saya ditempatkan untuk menjadi pembahas utama dan kemudian hasil diskusi kami diproses untuk penerbitan buku tentang Melanesia. Saya masih ingat ada Dr. Ninuk Kleden dan rekan-rekannya yang meminta kesediaan saya waktu itu untuk
menghubungi pihak Gramedia dan Penerbitan Buku KOMPAS.
Yang menguntungkan saya dari diskusi nasional ini, di kemudian hari saya dipercayakan BIN untuk mengikuti beberapa kali perjalanan resmi Pemerintah RI ke beberapa negara Pasifik: Fiji, Tonga dan Solomon Islands (2015), Vanuatu (2016); kemudian dilengkapi dengan perjalanan rombongan RI ke Cape Town (2016) dan Exhibisi perdana Oceania di Aucland (2019). Pada perjalanan-perjalanan ini selain memberikan makalah (termasuk wawancara radio di Port Villa, Vanuatu), saya juga mengumpulkan banyak bahan mengenai Melanesia dan Oceania. Saya akhirnya memutuskan untuk membuat penelitian sendiri tentang Melanesia
mulai tahun 2018 usai menyelesaikan tugas pengabdian sebagai Ketua YAPENKAR hingga kini. Yang juga membantu saya di Kupang adalah Institut Agama Kristen Negeri Kupang (IAKN) yang semenjak tahun 2009 meminta saya menjadi dosen Antropologi, Metode Penelitian Kualitatif untuk program S2 dan S3. Saat itu saya menjadi pembimbing dan penguji S2 pada UNKRIS UKAW Kupang, UNDANA Kupang, pembimbing dan penguji S3 tidak saja sebatas IAKN, melainkan juga UKSW Salatiga, dan menjadi penguji S3 di UNAIR Surabaya dan UNHAS Makasar.
Kesibukan membimbing mahasiswa S1, S2 dan S3 tidak menutup pintu bagi saya untuk meneliti, aktif menulis dan menerbitkan buku. Ada buku-buku yang terbit sebelum studi S3 di Canberra, Agenda Budaya Pulau Timor (edisi 1 tahun 1990, edisi kedua 1992), Sejarah Raja Raja Timor (1997), Peta Politik dan Dinamika Pembangunan Timor Timur (1997) keempat buku awal ini banyak dikutip oleh para peneliti tentang Timor (Indonesia) dan Timor-Leste (RDTL). Langkah berikut saya mengedit beberapa naskah untuk kemudian diterbitkan di antaranya Multikulturalisme Pembangunan (2015), Prospektif Pembangunan (2016), yang merupakan lanjutan dari suntingan buku Dinamika Pembangunan NTT (tahun 1996, editornya saya bersama Prof. Dr. Alo Liliweri). Tahun 2020 naskah bahan kuliah Ilmu Antropologi terbit di KOMPAS, dengan judul Sketsa Dasar Mengenal Manusia dan Masyarakat, Pintu Masuk Ilmu Antropologi, yang saat ini sedang diedit untuk proses terbit-ulang. Kemudian tahun 2021 terbit lagi Etnologi, Gerbang Memahami Kosmos (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia) yang sudah siap diterbitkan ulang atas permintaan banyak pihak. Tahun yang sama saya mengedit beberapa terbitan, antara lain Ekologi dan Kosmologi (karya Dr. H. Ataupah), Fedhy Legi dan Injil Yohanes (Dr. Markus Ture OCD, 2023), lalu tahun 2025 Mambai dan Dunianya, Perspektif Filosofis-Religius Masyarakat Timor Loro Sae (Kanisius, penulis Pe. Miguel Arcanjo da Costa). Hasil Seminar Internasional di Maliana, Timor-Leste (RDTL) dirangkum dan kemudian diterbitkan dengan judul Penguatan Budaya dan Rekonsiliasi (Kanisius, 2025, editor saya bersama Dr. Fritz Meko SVD dengan prolog yang sangat gemilang dari Antropolog Prof. Dr. James J. Fox).
Ada satu hal menarik, semenjak tahun 2017, saya bersama mantan Rektor UNWIRA P. Dr. Philip Tule SVD dan teman-teman berusaha mendirikan Program Studi (Prodi) Antropologi pada FISIP UNWIRA. Namun hasil dari perjuangan selama 4 hingga 5 tahun ini nihil, gagal total. Ini yang membuat hati saya jadi sangat gusar, dan frustrasi akademis berat. Sedang mengidap perasaan kesal, sebelumnya tahun 2022, Direktur Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Prof.
Yohanes Usfunan SH, MH meminta saya mengajar Antropologi Hukum, dan serentak membuka program studi Antropologi Hukum di kampus STIKUM. Dengan demikian perasaan kesal tadi dibayar kembali dengan hiburan mengajar antropologi di STIKUM. Pada bulan November 2025, saya mendapat dua (2) buah SK dari YAPENKAR, yakni (1) SK Pensiun sebagai Dosen UNIKA, dan (2) SK Dosen Kontrak untuk UNIKA.
Sementara itu, ruang gerak saya di STIKUM, tidak saja sebagai dosen tetap, melainkan juga sebagai KOPRODI (Koordinator Program Studi), dan Ketua Pusat Studi dengan Jabatan Fungsional Lektor Kepala Ilmu Antropologi (Associate Professor), golongan IV/D. STIKUM Prof. Yohanes Usfunan SH, MH menjalin kerjasama dengan Universitas Mahendradatta dan
UDAYANA di Denpasar dalam menyelenggarakan program studi S2 dan S3. Kerjasama itu telah dibangun juga dengan beberapa perguruan tinggi di negara tetangga yakni Timor Leste. Sangat diharapkan agar segera mungkin terbuka peluang untuk menjalin kerjasama dengan
perguruan tinggi di Australia.
Sebagai orang nomor dua dalam lingkungan STIKUM, saya mengarahkan mahasiswa untuk studi tradisi lisan, kisah, cerita dan mitos serta budaya secara umum, yang menunjang kajian dan analisis mengenai hukum adat dan pengembangan studi Melanesia dan Oceania dalam konteks Nusantara.
Pater sudah lama menjadi dosen Antropologi di Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupamg dan di beberapa lembaga pendidikan tinggi di sana. Apa saja yang selalu Pater tekankan kepada para mahasiswa-mahasiswi?
Ada beberapa hal sudah disampaikan sebelumnya. Selama mengajar Antrologi di UNIKA, saya selalu arahkan mahasiswa untuk tidak saja memahami antropologi, melainkan mengajak mereka untuk kembali ke akar kehidupan mereka untuk mengenal jati diri sosial mereka. Hal itu secara akademik dilewati dengan memberi tugas untuk mencatat kisah-kisah, ceritera, dan mitologi dari kampung dan desa, berbagai kearifan lokal dan lain sebagainya. Dalam perspektif ilmu, hal-hal seperti ini biasa dan sangat sederhana, namun ke depan kupulan-kumpulan seperti ini menjadi dasar studi yang sangat penting untuk bergumul dengan temuan-temuan baru di bidang ilmu-ilmu pengetahuan.
Bagaimana Pater melihat masa depan kemitraan Australia dan Indonesia khususnya dalam ranah penelitian dan publikasi, pendidikan dan pengabdian masyarakat? Apakah ada hal-hal khusus yang seharusnya diutamakan karena dinilai lebih bermanfaat dalam hubungan kedua negara?
Pertanyaan ini sangat penting bagi saya. Australia tetap menjadi landasan anlisis dan studi saya selanjutnya mengenai Antropologi. Tentunya tidak saja dengan ANU, almamater tercinta, dan secara khusus Prof. Dr. James J. Fox. Saat ini saya sedang menyelesaikan sebuah buku mengenai Raja Biboki, dan Prof. Fox menerima permohonan saya untuk menulis Prolog dan mengoreksi beberapa istilah dalam bingkai studi tradisi lisan. Tentu ini salah satu bentuk kolaborasi dengan Australia, khususnya ANU.
Dalam pertemuan Oceania perdana di Aucland (2019) yang dihadiri 21 negara termasuk Australia dan Indonesia, ditekankan studi dan analisis budaya bersama negara-negara Oceania. Saya menekankan saat itu dalam makalah, Nusantara (Indonesia) adalah sentrum Oceania, yang disambut hangat oleh negara-negara Pasifik untuk mengadakan studi bersama.
Pertama, di bidang penelitian. Hampir sepuluh tahun terakhir pusat perhatian saya tercurah pada mengkaji relasi kultural dan bahkan etnik antara suku-suku di Oceania, Melanesia dan Nusantara atau Indonesia. Banyak data saya peroleh dari Prof Dr. James J. Fox tentang bahasa-bahasa Austronesia dan non-Austronesia, yang dapat dijadikan sebagai landasan dan dasar studi linguistik untuk mengkaji lebih jauh relasi antara penduduk Oceania dan Melanesia dalam kaitan dengan Nusantara (Indonesia). Seperti telah saya katakan sebelumnya bahwa ketika saya berada beberapa kali di beberapa tempat di Pasifik, terbersit kisah dan cerita (mesti dicari mitologi-mitologi juga) di kawasan-kawasan tersebut. Saya baru sadar akan kisah mengenai ‘telinga panjang dan telinga pendek’ yang ada di sekitar Pulau Paskah, dan beberapa kawasan Pasifik, yang ternyata juga diceritakan secara sangat rahasia di beberapa daerah di pedalaman Pulau Timor.
Hal itu ada secara berbeda pula, yang dapat dikaji dengan cara dan pola tertentu dari orangorang Lamaholot di Kawasan Flores Timur dan Lembata, dan Keo bagian Ngada serta Pulau Alor-Pantar yang memiliki beberapa tarian lego-lego yang justru sangat populer di Kepulauan Solomon dan Fiji serta Tonga. Saya masih ingat saat Ekshibisi Oceania pertama di Aucland (2019) saat saya menyajikan makalah mengenai rumah Oceania di Indonesia, banyak penduduk Polinesia dan Micronesia spontan setuju ketika saya sebut beberapa butir tradisi lisan, yang langsung disambut hangat nun gembira oleh Orang Maori di New Zealand. Hemat saya, hal-hal seperti ini adalah kunci usaha untuk membuka jendela penelitian mengenai harta budaya yang masih tersembunyi di seluruh kawasan Pasifik dan Nusantara Indonesia.
Kedua, di bidang publikasi. Saya selama ini sangat teratur meminta keterlibatan Prof. Dr. James J. Fox dari ANU untuk memberi prolog mengenai buku-buku saya tentang Timor dan Indonesia dalam kaitan dengan Kajian Melanesia. Yang terakhir pada tahun 2025, Prof. Fox memberi prolog untuk buku hasil Seminar Internasional di Maliana (RDTL) yang di dalamnya termuat sambutan Presiden Jose Ramos Horta. Saya kira tidak saja publikasi ini melainkan juga apa yang selama ini dilakukan oleh Universitas Melbourne (UoM), dan perguruan-perguruan tinggi lain di Australia, yang terus menjalin kerjasama dengan Indonesia. Publikasi-publikasi itu hemat saya hendaknya ditingkatkan dengan target point tertentu: yakni mencari ‘harta karun’ relasi kultural antara Indonesia dan Australia serta Indonesia dan negara-negara Pasifik lainnya.
Ketiga, proses pengajaran atau tukar-menukar dosen dan mahasiswa yang selama ini telah berlangsung pada beberapa perguruan tinggi Indonesia dan Australia. Satu catatan khusus, proses pengajaran atau perkuliahan ini jangan saja terbatas pada Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, melainkan masuk lebih dalam untuk mempelajari bahasa-bahasa lokal yang sangat kaya. Prof. James J. Fox memiliki segudang mahasiswa yang mencurahkan perhatian sepenuhnya pada bahasa-bahasa Austronesia dan non-Austronesia. Rincian bahasa-bahasa tersebut, hemat saya, hendaknya diaktualisasi dengan menciptakan ruang akademik yang
terbuka: memberi dan memulai pendekatan akademik untuk masuk lebih dalam dengan mempelajari bahasa-bahasa daerah. Pintu gerbang untuk mempelajari dengan rinci kekayaan bahasa-bahasa Austronesia dan non-Austronesia adalah ‘dengan tekun mempelajari’ kisah, tradisi lisan, cerita,
mitos-mitos, sapaan-sapaan lepas, serta berbagai kearifan lokal. Ketika pertama kali berkunjung ke Port Villa (Vanuatu), saya diwawancarai media di negara itu, lalu saya bercerita tentang sebuah kisah dari Gunung Mutis di pedalaman Pulau Timor. Seorang pendengar setia di sana kemudian mengirim WA dan mencari tahu lanjutan dari kisah itu. Mestinya ini bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan sesuatu auchtoneus budaya mengenai dasar-dasar kultural dari penduduk yang menyebar pada lempeng Asia dan Australia serta lempeng lepas Pasifik.
Keempat, pertukaran komunitas untuk mempelajari ‘aura kosmologi’ dari masing-masing wilayah dan kawasan. Dari aspek yang satu ini, saya sangat percaya bahwa ada keuntungan sangat kaya dari usaha untuk mengadakan program-program pertukaran untuk mempelajari
kekayaan kosmologis yang ada pada masing-masing komunitas. (***)
