OBITUARI! Kornelis Kewa Ama, Jurnalis yang Menjaga Sunyi Fakta

oleh -61 Dilihat

Alm Kornelis Kewa Ama

DUNIA jurnalistik kembali kehilangan salah satu pewarta terbaiknya. Kornelis Kewa Ama, wartawan harian Kompas, meninggal dunia pada Rabu, 11 Maret 2026, di RS Leona Kupang.

Kepergian Kornelis meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas jurnalis yang mengenalnya sebagai sosok yang tenang, disiplin, dan setia menjaga integritas profesi.

Bagi banyak wartawan yang pernah bekerja bersamanya, Kornelis bukan hanya seorang reporter, tetapi juga kawan seperjalanan dalam profesi yang menuntut keberanian sekaligus ketelitian.

Bagi saya, kenangan tentangnya tidak bisa dilepaskan dari Timor Timur pada dekade 1990-an, masa ketika wilayah itu berada dalam situasi politik yang penuh ketegangan dan perhatian dunia tertuju pada setiap perkembangan yang terjadi di sana.

Pada tahun 1994, Kornelis telah lebih dulu bertugas di Dili sebagai wartawan Kompas. Ketika sebagai seorang jurnalis muda dari NUSA Tenggara, lalu akhirnya pindah ke Bali Post, pertama kali tiba untuk meliput di wilayah tersebut, kontrakan sederhana milik Kornelis menjadi tempat persinggahan pertama sebelum mendapatkan tempat tinggal sendiri.

Dari ruang sederhana itu, percakapan tentang situasi politik, dinamika masyarakat, dan tantangan liputan di daerah konflik sering mengalir panjang. Di tengah situasi yang tidak selalu mudah, hubungan antarjurnalis tetap terjalin dalam semangat saling menghormati profesi.

Sebagai wartawan Kompas, Kornelis dikenal memiliki disiplin tinggi dalam bekerja. Ia menjaga liputannya dengan cermat dan kerap mempertahankan eksklusivitas informasi yang diperolehnya. Namun di balik ketegasan profesional itu, ia tetap seorang sahabat yang terbuka berbagi pengalaman dan perspektif.

Perjalanan jurnalistik di Timor Timur berlangsung hingga peristiwa bersejarah tahun 1999, ketika referendum membawa wilayah itu menuju kemerdekaan sebagai Timor-Leste. Setelah periode tersebut, jalan tugas para jurnalis yang pernah bertemu di Dili pun berpisah.

Kornelis kemudian melanjutkan penugasannya ke Papua. Sementara saya dan rekan-rekan lainnya kembali ke berbagai daerah penugasan, termasuk Denpasar dan Kupang.

Waktu akhirnya mempertemukan kami kembali Kornelis dengan sejumlah sahabat lamanya di Kupang. Di kota ini pula ia menutup perjalanan panjangnya sebagai wartawan Kompas dan memasuki masa purnabakti.

Bagi mereka yang mengenalnya, Kornelis adalah jurnalis yang tidak banyak bicara, tetapi bekerja dengan ketekunan. Ia percaya bahwa berita yang baik lahir dari kesabaran mencari fakta dan keberanian menjaga kebenaran.

Kini, perjalanan itu telah sampai pada batas akhirnya. Namun seperti banyak jurnalis yang mengabdikan hidupnya pada profesi ini, jejak Kornelis tidak hanya tersimpan dalam kenangan sahabat dan keluarga, tetapi juga dalam catatan sejarah yang pernah ia liput; dari Dili hingga berbagai wilayah penugasannya.

Seorang jurnalis mungkin telah pergi, tetapi jejak pengabdiannya pada kebenaran akan tetap hidup dalam ingatan waktu.

Ia telah menutup buku tugasnya sebagai jurnalis. Namun seperti setiap pewarta yang pernah berjalan dekat dengan sejarah, Kornelis Kewa Ama tidak benar-benar pergi. Ia tetap tinggal dalam jejak berita yang pernah ia tulis, dalam ingatan sahabat yang pernah berbagi medan liputan, dan dalam sunyi profesi yang selalu membutuhkan orang-orang yang setia menjaga kebenaran.

Pada akhirnya, seorang jurnalis mungkin berhenti menulis, tetapi kebenaran yang pernah ia rawat akan terus berbicara melampaui waktu.

Selamat jalan, Kornelis Kewa Ama. (joze)