Musafir dari Pakistan dan Jejak Spiritual Ramadhan 1987 di Kupang

oleh -75 Dilihat

Haji Malik Mahboob Ahmad

KUPANG – Ramadhan 1987 menjadi penanda sebuah perjalanan spiritual yang hingga kini masih hidup dalam ingatan sebagian warga Kota Kupang.
Tahun itu, seorang musafir asal Pakistan, Haji Malik Mahboob Ahmad, singgah dan menetap sementara di Kota Kasih ini, meninggalkan jejak persaudaraan dan pengalaman batin yang tak mudah dilupakan.

Di Kupang, perjumpaan pertamanya terjadi di sebuah masjid dengan Usman Siddin, tokoh Muslim setempat yang kelak akrab disapa Abah Usman. Dari pertemuan sederhana itulah terbangun hubungan yang begitu dekat. Haji Malik diterima bukan sekadar sebagai tamu, melainkan seperti anggota keluarga sendiri.

Haji Malik kemudian menetap di rumah Abah Usman. Dalam waktu singkat, kabar tentang kehadiran seorang musafir asing yang tinggal di rumah tokoh Muslim Kupang itu menyebar dari mulut ke mulut. Rumah Abah Usman pun berubah menjadi tempat persinggahan banyak orang. Tamu datang silih berganti, mengantri sejak pagi hingga malam.

Beragam latar belakang orang hadir: pejabat, pedagang, hingga masyarakat biasa. Mereka datang untuk berkonsultasi tentang jabatan, keuangan, kesehatan, bahkan keturunan. Semua dijalani dengan cara yang sederhana; doa, zikir, salat tahajud, dan sedekah. Tanpa ritual yang rumit, tanpa janji apa pun.

Peristiwa itu menjadi bagian dari sejarah batin yang disaksikan langsung oleh masyarakat setempat. Banyak yang menilai, fenomena tersebut juga menunjukkan kecerdasan sosial dan spiritual Abah Usman, yang mampu membuka rumahnya sebagai ruang perjumpaan, doa, dan pengharapan.

Namun, masa tinggal Haji Malik di Kupang tidak berlangsung lama. Upaya untuk memperpanjang visanya tidak membuahkan hasil karena jenis visa yang dimiliki tidak memungkinkan perpanjangan. Ia sempat ditahan pihak imigrasi selama beberapa hari, sembari menunggu proses kepulangan. Permohonan dari berbagai pihak pun mengalir, termasuk dari Gubernur Nusa Tenggara Timur saat itu, Ben Mboi. Akhirnya, Haji Malik diberangkatkan melalui Pelabuhan Tenau menuju Jakarta.

Dari Kupang ke Istana Negara

Di Jakarta, nama Haji Malik dikenal sebagai pengusaha permadani rajutan tangan dengan nilai spiritual tinggi. Namun lebih dari itu, perjalanan hidupnya mempertemukannya dengan banyak tokoh nasional. Ia tercatat pernah melayani enam Presiden Republik Indonesia, mulai dari Presiden Soeharto hingga Joko Widodo.

Ia dikenal dekat dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada 1995, di Ciganjur, Haji Malik memberikan hadiah sebuah permadani kepada Gus Dur. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan bahwa karpet tersebut adalah hadiah kecil dari seorang muhajir asal Pakistan, dan suatu hari nanti, karpet itu akan “bercerita” sendiri. Bertahun kemudian, Gus Dur benar-benar menjadi Presiden.

Kisah serupa terjadi pada masa Joko Widodo masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. Haji Malik mengirimkan surat doa dan ucapan selamat, disertai permadani bergambar kuda. Dalam surat itu terselip harapan agar kuda-kuda tersebut dapat “mengantarkan” ke kursi kepresidenan. Sejarah kemudian mencatat, harapan itu menjadi kenyataan.

Ia juga dikenal lantang menyampaikan pandangan spiritualnya. Pernah, di hadapan orang-orang terdekat Prabowo Subianto, ia menyebut bahwa Prabowo belum beruntung pada masanya. Di kesempatan lain, ia menyampaikan keyakinan bahwa Jokowi akan memimpin Indonesia selama sepuluh tahun, sebuah pernyataan yang kemudian terbukti.

Menjelang Pemilu 2024, Haji Malik bahkan sempat menyampaikan kepada sejumlah media bahwa Prabowo akan menang dalam satu putaran. Alasannya sederhana: doa dan ikhtiar spiritual yang ia lakukan dengan caranya sendiri.

Beberapa waktu lalu, Haji Malik kembali ke Kupang. Ia dijemput sahabat-sahabat lamanya untuk doa bersama, dan diminta hadir pada deklarasi calon gubernur Melki Laka Lena. Namun ia memilih sikap yang sama seperti dahulu: berdoa secara pribadi, tanpa bertemu kandidat, tanpa fasilitas, dan tanpa terlibat politik praktis. Sikap itu menegaskan prinsip hidupnya; berpegang pada spiritualitas, kemanusiaan, dan jarak yang jelas dari kepentingan kekuasaan.

Hingga kini, kehadiran Haji Malik Mahboob Ahmad masih dikenang sebagian warga Kupang sebagai bagian dari perjalanan sejarah spiritual kota ini. Sebuah kisah tentang musafir, persaudaraan lintas batas, dan ketenangan yang pernah singgah, lalu pergi, namun meninggalkan makna. (roy)