MERANTAU DI NEGERI SENDIRI

oleh -230 Dilihat

Oleh : Drs. Ignatius Sinu, MA
Antropolog, pensiunan Dosen Ilmu Sosial pada Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana

TULISAN ini terinspirasi dari catatan-catatan perkembangan pembangunan pertanian di Kabupaten Lembata dari rekan-rekan yang suka memberitakan pembangunan pertanian di sana. Beberapa gelar yang saya sebutkan untuk Kabupaten Lembata, seperti Kabupaten Porang, Kabupaten Mente. Porang yang diperkenalkan kepada petani untuk dibudidaya melalui gerakan porangnisasi di Kabupaten ini sekitar tahun 2022, dan sejak tahun 2024 mulai memberikan hasil yang cukup berarti untuk pendapatan petani.

Dengan mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lembata, petani di Desa Meluwiting, Kecamatan Omesuri, tahun 2024 terus bergerak di sektor pertanian hortikultura dengan budidaya salak. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, kala itu terus hadir untuk memberikan dorongan kepada para petani melalui pendekatan kelompok tani untuk terus berusaha tani di sektor usahatani hortikultura dengan menanam salak dan naga.
Beberapa petani di desa ini sudah berpengalaman bercocok tanam salak dan cukup berhasil. Sedangkan tanaman Naga baru mulai menjadi inovasi baru bagi petani di desa ini. Untuk salak ditargetkan 15.000 pohon.

Harian Umum Pos Kupang, 15 Maret 2024 mewartakan, petani di Desa Meluwiting sudah menanam Salak sejak tahun 2022. Kala itu ditanam 5.100 anakan, berhasil hidup dan sedang berbuah sebanyak 2.600 pohon. Jika rata-rata per pohon menghasilkan 8 kilogram per tahun maka setiap tahun Desa Meluwiting menyumbangkan 20.800 kilogram Salak atau 20,8 ton. Dan jika diuangkan dengan harga Rp 15.000 per kilogram, maka setiap tahun rupiah mengalir masuk ke desa ini sebesar Rp 312.000.000. Pos Kupang menulis, rata-rata per pohon menghasilkan Rp 30.000 per musim, dan petani salak meraup Rp 91.000.000 per tahun dari memanen salak, jauh lebih rendah daripada perhitungan berdasarkan produksi terendah per pohon dengan harga jual Rp 15.000. Atau besar kemungkinan harga jual di tingkat petani Rp 4.375 perkilogram.

Tahun 2023, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata membantu ekspansi lahan seluas satu hektar untuk pengembangan salak, juga membantu Desa Meluwiting tiang panjat tanaman naga. Tahun 2024 memberikan bantuan yang sama dan jalan usahatani (Jut), mendorong penyuluh (PPL) untuk melakukan pendampingan. Pemerintah desa diminta mengalokasikan 20% dari dana desa untuk mendukung program meningkatkan ketahanan pangan di desa.

Musim tanam tahun 2025 petani jagung di Lembata antusias dengan kehadiran PT SMJ yang mengajak dan membantu petani menanam jagung di lahannya masing-masing. Beberapa petani di beberapa tempat di Lembata sepakat ikut ambil bagian dalam program menanam jagung difasilitasi PT SMJ. Terdata seluas 500 hektar lahan yang diserahkan petani untuk ditanami jagung.

Relawan koordinator dengan bangga memaparkan keberadaan PT SMJ bersama beberapa petani di beberapa lokasi di Lembata. Program bertani jagung bersama PT SMJ sangat diminati petani, namun pada kesempatan musim tanam tahun 2025, hanya beberapa petani di beberapa tempat yang terlibat, karena masih ragu-ragu. Ketika itu terdata petani menyerahkan lahan seluas 500 hektar untuk ditanami jagung dengan pola yang ditawarkan PT SMJ. Namun terealisasi 220 hektar, dengan kendala sarana produksi. Traktor milik Pemda yang disewa perusahaan bersamaan membajak lahan petani lainnya. Karena itu lahan seluas 280 hektar tidak dibajak dan tidak ditanam. Petani yang lahannya tidak dibajak dan tidak ditanam sangat menyesal. Hanya 220 hektar yang dibajak dan ditanami.

Melalui WA Group disajikan tahapan pengolahan lahan hingga panen dan pasca panen. Pengolahan lahan menggunakan mesin sensor pohon yang disedikan PT SMJ, lalu lahan dibajak, dan ditanami ketika musim hujan tiba. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan drone yang juga disiapkan PT SMJ. Teknologi drone menjadi tontonan menarik buat petani dan anak-anak ketika drone terbang melayang-layang menyebarkan pupuk menyuburkan tanaman jagung. Jagung tumbuh subur, petani dan petugas terus memantau dan merawat. Pada akhirnya jagung siap dipanen, menghasilkan bulir-bulir jagung yang panjang dan gemuk dengan butir-butir jagung menempel merata pada tongkol-tongkol. Petani memanen, memisahkan tongkol dari kelobot lalu dengan mesin pipil yang disiap perusahaan di ladang-ladang petani; jagung dipipil, ditimbang dan petani mendapatkan ringgit pada saat itu juga.

Berdasarkan ubinan yang dibuat PPL dari Dinas Pertanian Kabupaten Lembata, produktivitas 6,7 ton per hektar dengan kadar air 14%. Berdasarkan hitungan PT SMJ pada lahan seluas 1 hektar produktivitasnya 7,1 ton per hektar dengan kadar air 17%. Perhitungan didasarkan panen dan pipil pada lahan seluas 1 hektar. Lahan seluas 220 hektar yang ditanami dan dipanen tahun 2026 milik 170 keluarga tani. Tersebar pada lima kecamatan: Ile Ape, Ile Ape Timur, Lebatukan, Nubatukan, Nagawutun. Kecamatan Ile Ape sendiri seluas 100 hektar.

Harga jagung dengan kadar air 17% dihargai oleh PT SMJ dengan Rp 3.800 pada tingkat petani. Harga sedikit ditekan karena masalah transportasi. Salah hitung sewa container. Dalam perhitungan dihitung satu container berkapasitas 25 ton, ternyata satu container berkapasitas 20 ton. Perhitungan awal Rp 4 juta per container naik menjadi Rp 6 juta per container. Naiknya harga container juga sebagai akibat dari jalur kapal ferry ke Lewoleba yang kurang pasti.
Dengan dasar perhitungan 6,7 ton per hektar, petani jagung mitra PT SMJ di Kabupaten Lembata yang menanam jagung pada lahan seluas 220 hektar memperoleh produksi jagung sebanyak 1.474 ton. Produksi jagung yang sangat fantastis untuk petani ladang di Lembata berkat inovasi bercocok tanam jagung yang diperkenalkan PT SMJ. Lalu ketika jagung ditimbang dengan harga Rp 3.800 per kilogram, maka ringgit yang diraup petani jagung Lembata mitra PT SMJ sebesar Rp 5.601.200.000, jumlah yang tentunya sangat mencengangkan.

Seorang petani yang adalah pensiunan PNS dan tokoh masyarakat yang terlibat sebagai petani mitra PT SMJ dengan bangga mengatakan hasil dari menjual jagung; “langsung kredit mobil untuk pergi pulang kebun urusi kebun jagung”.

Saya membayangkan sebagaimana pemikiran yang saya lepaskan melalui media Group WhatsApp, jika Pemda mengalokasi anggaran setiap tahun untuk membeli hasil pertanian dan hasil laut dari petani dan nelayan sebesar Rp 5 miliar, maka pada panen jagung tahun 2026 Pemda membeli jagung dari petani mitra PT SMJ dengan harga sedikit lebih tinggi Rp 4.200, dan dua tiga bulan kemudian menjual dengan harga Rp 6.000 per kilogram dengan penyusutan 5%, atau menyusut 73.700 kilogram, maka akan dijual jagung sebanyak 1.400.300 kilogram dengan harga Rp 4.200 per kilogram, maka akan didapatkan uang sebanyak Rp 5.881.260.000. Hitungan bergaya antropologi ekonomi yang sangat pesimistis ini saja, uang Rp 5 miliar yang disiapkan Pemda berhasil dikembalikan ditambah Rp 881.260.000.

Catatan dan pikiran lepas datang lagi dari usatani porang di Lembata. Tahun 2021, sering tukar pikiran dengan Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Lembata mengenai program budidaya porang di Kabupaten Lembata, sebuah inovasi teknologi pertanian. Program itu sangat ambisius, yakni menjadikan Lembata, kabupaten porang. Pemerintah Daerah membangun kerjasama dengan petani untuk menanam porang sebagai sebuah gerakan pembangunan di sektor pertanian. Dalam setiap kesempatan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lembata meyakinkan para petani untuk bercocok tanam porang.

Tanaman porang sangat cocok dengan tanah dan iklim di Kabupaten Lembata. Karena itu porang pasti tumbuh subur dan dengan sedikit perawatan, pada waktunya akan memberikan hasil yang melimpah. Sosialisasi dilakukan sejak 2021, dan pelaksanaannya 2022. Tahun 2022 dengan dukungan dana APBD, petani di Lembata digalang menanam porang pada lahannya masih-masing. Dicanangkan budidaya porang masuk dalam program Pertanian Inti Rakyat (PIR),. dan porang menjadi komoditi mahkota. Tahun 2022 dimulai dengan menanam porang pada lahan seluas 25 hektar, mendukung perbenihan atau menyediakan benih bagi pengembangan 500 hektar pada 2024.

Tanaman porang sudah sejak lama diminati petani di beberapa tempat di Nusa Tenggara Timur. Di Timor, tidak ada petani porang, yang ada adalah peramu porang. Porang tumbuh liar di dalam kawasan hutan dan belukar di daerah ini. Ketika permintaan pasar akan porang kering (chips) datang, para petani di pedesaan Timor keluar masuk hutan dan belukar meramu porang, yang selanjutkan diolah, dikeringkan, dan dibawa ke pasar-pasar lokal, dan dijual kepada pengepul yang datang setiap pasar.

Hal yang sama juga dilakukan
beberapa petani di beberapa desa di Kabupaten Lembata. Lantaran porang bisa dibudidaya, petani Lembata sudah tertarik menanam porang di lahan pertanian miliknya sejak tahun 2018. Beberapa petani menjelaskan, sebagaimana diberitakan media online, saat itu, di beberapa desa di Kabupaten Lembata petaninya sudah membudidayakan porang sejak tahun 2019, atau dua tahun sebelum Pemda Lembata menggencarkan program budidaya porang. Luas lahan budidaya porang per petani tidak kurang dari 1 hektar, ada petani yang menanam porang mencapai 3 hektar.

Petani di Lembata yang menanam porang pada tahun 2018, tahun 2022 mulai memanen porang. Para petani porang ini dengan bangga menjelaskan bahwa dari hasil memanen porang mereka mendapatkan puluhan juta rupiah, yang digunakan untuk mendapatkan berbagai keperluan, seperti membeli kendaraan bermotor roda dua yang sangat bermanfaat bagi dinamika ekonomi mereka di desa; memperbaiki bahkan membangun rumah tinggal.

Data yang diambil dari media online menggambarkan tahun 2024 sebanyak 3.446 petani porang di NTT. Ada empat kabupaten yang tidak punya petani porang. Kabupaten Lembata dan Flores Timur masing-masing punya petani porang hanya 4 dan 3 petani. Petani porang terbanyak di Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1.123 petani, kabupaten TTU sebanyak 673 petani, Alor sebanyak 467 petani dan SBD sebanyak 337 petani.

Menurut data itu, Kabupaten Lembata hanya tercatat 4 petani, jumlah yang mengagetkan karena budidaya porang masuk dalam program Pertanian Inti Rakyat (PIR), dan porang adalah salah satu komoditi mahkota untuk Lembata. Berdasarkan gerakan yang digalang Pemerintah Kabupaten Lembata pada tahun 2022 petani menanam porang pada lahan seluas 25 hekat, dan pada tahun 2024 petani menanam porang lagi pada lahan seluar 500 hektar. Tahun 2025 media online memberitakan antar pulau porang mentah dari Lembata dengan truck. Volumenya puluhan ton. Ketika di tempat tujuan ada yang ditolak karena tidak masuk kategori jenis yang dibutuhkan. Mudah-mudahan antar pulau porang mentah dari Kabupaten Lembata pada tahun 2025 itu menjadi awal ceritera sukses menjadikan Lembata Kabupaten porang.

Setelah itu tidak ada lagi berita tentang usahatani porang di Kabupaten Lembata. Sebagaimana diberitakan tahun 2024 dan 2025 tentang petani Lembata sukses meramu porang di hutan belukar dan memanen porang di lahan pertaniannya. Hasil dari menjual porang hingga ke Surabaya digunakan untuk membangun rumah. Biaya pendidikan anak sekolah, dan membeli kendaraan bermotor roda dua. Bayangkan porangnisasi di Kabupaten Lembata yang apabila berhasil, maka petani porang terus memanen porang pada lahannya masing-masing yang ditanam sejak tahun 2022 dan 2023 itu. Jika satu hektar menghasilkan 10 ton porang mentah (basah), maka sejak tahun 2024 petani porang Lembata memanen 5.000 ton porang mentah pada lahan seluas 500 hektar. Harga porang mentah sekarang tidak kurang dari Rp 8.000 per kilogram, maka petani porang di Kabupaten Lembata menarik masuk Rp 40.000.000.000 dari luar daerah hasil antar pulau porang mentah 5.000 ton.

Catatan pemikiran lepas ini memberikan gambaran betapa besar potensi tanah pertanian di atas tubuh pulau Lembata. Mente dapat tumbuh dengan subur, dibiarkan tumbuh bersaing bersama aneka tanaman belukar di dalam kawasan belukar saja, saatnya memberikan hasil yang diramu petani untuk menafkahi hidup. Dan manakala tanaman mente yang ditanam, yang tumbuh di atas tanah-tanah pertanian, dirawat, tidak dibiarkan bersaing dengan tanaman liar dalam kawasan belukar, maka produktivitasnya tinggi. Petani cukup merawat, tinggal merantau di negeri sendiri, dan tanah Lembata memberikan kepastian dan jaminan bahwa setiap saat rupiah mengalir masuk melalui aktivitas aneka usahatani yang dijalani petani di atas tubuh Pulau Lembata.

Program-program pemerintah di sektor pertaniann dengan dana APBD miliaran rupiah, begitu pula dengan dana pusat yang dialokasikan langsung ke desa Rp 1 miliar setiap tahun, seharusnya terus dirawat. Keinginan untuk menjadikan Lembata Kabupaten Porang hendaknya terus dirawat. Begitu juga dengan ide menjadikan one village for one comodity seperti Meluwiting Desa Salak, dan juga desa-desa lainnya berkarakter one village for one commodity. Desa Durian, Desa Naga, desa-desa yang dikitari dan dihiasi tanaman mente, kakao, kelapa, cengkeh, dan porang, tanaman pertanian yang bernilai ekonomi, ekologi, dan rekreasi. Desa-desa itu akan menjadi sangat indah untuk dikunjungi siapa saja untuk bertamasya, sambil mengambil hasil-hasil pertanian, salak, durian, mente, kakao, kopra, porang dan lain-lain.

Petani dengan ethos kerja yang terus ditingkatkan untuk merantau dan bekerja di negeri sendiri, menata tanah-tanah pertanian yang dimiliki menanam salak, naga, durian, rambutan, jeruk, mente, cengkeh, kelapa, kopi, dan lain-lain; lalu para penyuluh pertanian dan para ahli pertanian dari Perguruan Tinggi secara intensif bersama petani, mendampingi petani merawat, memelihara aneka tanaman itu secara berkelanjutan. Jauhi program pembangunan pertanian dengan pendekatan “hit and run” yang hanya demi rente jangka pendek.
Desa-desa itu hendaknya dipoles secara berkelanjutan menjadi desa wisata buah. Orang datang berekreasi di desa salak, desa rambutan, desa kopi, desa cengkeh, desa mente; menikmati alam kawasan kebun salak; menikmati buah salak yang diambil langsung dari pohon.

Saatnya pedagang buah datang membawa jutaan rupiah untuk ditinggalkan di desa salak, dan membawa salak untuk dipasarkan di pasar-pasar potensial, membagi-bagi salak kepada para konsumen dan mengambil uang dari konsumen lalu dibawa ke desa salak meninggalkan uang itu di sana dan mengambil salak lagi dan lagi. Maka yang terjadi adalah desa buah yang ekonominya sangat dinamis, petani buah selalu ceria bersama mereka yang setiap hari keluar masuk desa atas nama buah yang digandrungi yang tumbuh membentuk kawasan pepohanan buah yang indah untuk dinikmati dan dirindukan. (***)