Membaca Peta Politik Jokowi di NTT: Pulang Kampung atau Pemanasan Menuju 2029?

oleh -314 Dilihat

Kerumunan massa menyambut Jokowi di arena car free day, Sabtu (1/8/2026).

KEDATANGAN Presiden ketujuh RI Joko Widodo ke Kota Kupang sejak Jumat, 31 Juli 2026, bukan sekadar kunjungan nostalgia ke daerah yang pernah berkali-kali ia datangi saat menjabat kepala negara. Safari tiga hari itu telah berubah menjadi panggung politik nasional mini yang memperlihatkan satu hal penting: Jokowi masih menjadi magnet elektoral yang kuat, terutama di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di tengah sorotan nasional terkait isu dugaan ijazah palsu dan tarik-menarik pengaruh politik pasca-berakhirnya masa jabatan presiden, Jokowi memilih hadir sebagai warga negara biasa, sekaligus pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Namun, realitas politik menunjukkan bahwa setiap langkah Jokowi sulit dipisahkan dari kalkulasi kekuasaan.

Warga selfi bersama Jokowi di arena CFD.

Sejak mendarat di Bandara El Tari, Jokowi disambut ribuan warga yang berjejer di sepanjang jalan menuju lokasi kegiatan pertama di Pantai Oesina, Kabupaten Kupang. Antusiasme itu berlanjut saat ia bertemu petani rumput laut, meninjau gudang di Jalur 40, hingga menghadiri Car Free Day (CFD) di Jalan El Tari, Sabtu pagi.

Puncak simboliknya terjadi di CFD. Lautan manusia memadati kawasan itu. Teriakan “Terima kasih Jokowi” menggema, ratusan telepon genggam terangkat, dan warga berebut swafoto. Agenda jalan santai Jokowi pun terpaksa dipersingkat karena desakan massa.

Secara politik, kerumunan tersebut bukan sekadar keramaian spontan. Ia adalah demonstrasi simpati publik yang mengirim pesan bahwa popularitas Jokowi belum surut, setidaknya di NTT. Dalam politik modern, citra dan kedekatan emosional sering kali lebih menentukan daripada struktur partai.

Jokowi bersama Chris Widodo dan Aurum Titu Eki.

***

Ada alasan mengapa Jokowi diterima seperti “pulang kampung” di NTT. Selama dua periode pemerintahannya, daerah ini menjadi salah satu wilayah yang paling sering ia kunjungi. Tercatat sekitar 18 kali.

Jejak pembangunan yang masih diingat masyarakat antara lain: tujuh bendungan; pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi super premium; perluasan Bandara Komodo; peningkatan Bandara El Tari Kupang, Jalan Sabuk Merah perbatasan RI – Timor Leste; program Tol Laut; dan pembangunan pos lintas batas negara di Motaain, Motamasin dan Napan.

Bagi banyak warga, pembangunan tersebut bukan data statistik, melainkan pengalaman konkret. Karena itu, ketika Jokowi datang kembali, yang muncul bukan hanya memori politik, tetapi juga memori kesejahteraan.

Rakorda PSI: Titik Berat Safari Politik

Agenda yang paling strategis sebenarnya bukan CFD dan Karnaval Gajah, melainkan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI NTT. Di sinilah safari Jokowi memperoleh makna politik yang paling jelas.

Ketua DPW PSI NTT sekaligus Wali Kota Kupang, Christian Widodo, tampil mendampingi Jokowi hampir di setiap agenda publik. Kemunculan “Duo Widodo” menjadi simbol bahwa PSI sedang berupaya menempelkan identitas partai pada figur Jokowi.

Bagi PSI, kehadiran Jokowi adalah suntikan legitimasi dan energi elektoral. Partai yang selama ini identik dengan pemilih urban dan generasi muda, ingin memperluas basis dukungan ke daerah-daerah yang memiliki ikatan emosional kuat dengan Jokowi.

Pertanyaan besarnya: mampukah PSI mengonversi popularitas Jokowi menjadi suara nyata pada Pemilu 2029?

Tak dapat dipungkiri, kunjungan ini juga dibaca sebagai sinyal persaingan dengan PDIP, partai yang selama bertahun-tahun memiliki basis kuat di NTT. Sebagian kalangan melihat kehadiran Jokowi bersama PSI sebagai gangguan terhadap dominasi politik lama.

Narasi “menyeruduk banteng” mulai muncul dalam percakapan politik lokal. Namun, membaca situasi hanya sebagai pertarungan Jokowi versus PDIP terlalu menyederhanakan persoalan. Yang sedang dipertarungkan sebenarnya adalah siapa yang berhak mewarisi modal sosial Jokowi setelah ia tidak lagi menjabat presiden.

Jika PDIP gagal mempertahankan kedekatan emosional dengan pemilih Jokowi, ruang itu bisa diisi PSI. Sebaliknya, bila PSI hanya mengandalkan efek kerumunan tanpa kerja organisasi (partai) yang kuat, antusiasme publik bisa menguap begitu saja.

***

Safari Kupang berlangsung ketika Jokowi masih menjadi objek perdebatan nasional terkait isu ijazah palsu. Menariknya, di lapangan isu tersebut tidak tampak dominan. Sambutan warga justru menunjukkan bahwa serangan politik di tingkat elite belum tentu otomatis menggerus penerimaan publik di daerah.

Fenomena politik ini penting dibaca. Jokowi tampaknya sedang melakukan konsolidasi simbolik: memperlihatkan bahwa ia masih diterima rakyat dan masih memiliki daya pengaruh politik. Dalam konteks nasional, gambar ribuan warga Kupang yang berebut menyambut Jokowi memiliki nilai komunikasi politik yang sangat besar.

Anugerah penghormatan adat kepada Jokowi sebagai Sesepuh Raja Timor.

Politik Simbolik Adat Timor

Agenda menerima penghormatan adat sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor menambah dimensi lain. Penghormatan itu bukan sekadar seremoni budaya; ia memperkuat citra Jokowi sebagai tokoh nasional yang diterima oleh komunitas adat.

Dalam politik Indonesia, legitimasi adat sering kali menjadi sumber otoritas moral. Ketika tokoh adat memberikan penghormatan terbuka, pesan yang tersampaikan adalah bahwa Jokowi tidak hanya memiliki legitimasi elektoral, tetapi juga legitimasi kultural.

Safari Kupang juga memperlihatkan pola yang mungkin akan sering muncul menjelang 2029: Jokowi hadir di daerah dengan basis simpati kuat; PSI menjadi kendaraan politik yang menempel pada figur Jokowi; Isu pembangunan digunakan sebagai pengikat memori pemilih; juga Simbol budaya dan kedekatan personal dipakai untuk memperluas pengaruh.

Apakah ini awal dari mesin politik baru? Belum tentu. Popularitas pribadi tidak otomatis menjadi kemenangan partai. Banyak tokoh besar gagal mewariskan suara kepada partai yang didukungnya.

Namun satu hal jelas: Jokowi belum pensiun dari panggung politik. Ia mungkin tidak lagi memegang kekuasaan formal, tetapi masih memiliki kekuasaan simbolik yang besar.

***

Tiga hari Jokowi di Kupang menjadi semacam laboratorium politik yang memperlihatkan hubungan antara figur, memori pembangunan, dan strategi partai. Di satu sisi, ia menunjukkan bahwa Jokowi masih dicintai sebagian besar masyarakat NTT. Di sisi lain, ia menandai dimulainya perebutan warisan politik Jokowi menjelang Pemilu 2029.

Bagi PSI, kunjungan ini adalah investasi politik jangka panjang. Bagi lawan-lawan politiknya, ini adalah peringatan bahwa pengaruh Jokowi belum selesai. Dan bagi NTT, safari ini menegaskan posisi daerah tersebut sebagai salah satu kantong dukungan paling loyal bagi mantan presiden itu.

Pertanyaan akhirnya bukan lagi soal apakah Jokowi masih punya pengaruh, melainkan siapa yang paling berhasil memanen pengaruh itu ketika kontestasi 2029 benar-benar dimulai. (jdz)