Idul Adha di Waowala, Bupati Kanis Tekankan Solidaritas, Wabup Nasir Soroti Rehumanisasi Kehidupan

oleh -79 Dilihat

Perayaan halal bihalal Idul Adha di Waowala, Ile Ape.

WAOWALA, mediantt.com – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah di halaman Masjid Babussalam Waowala, Kecamatan Ile Ape, Rabu (27/5), tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi.

Di hadapan masyarakat dan jajaran pemerintah daerah, Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq dan Wakil Bupati H. Muhamad Nasir menyampaikan pesan yang lebih dalam, pentingnya menjaga solidaritas sosial di tengah perubahan dan dinamika masyarakat yang kian kompleks.

Dalam suasana Halal Bihalal yang berlangsung hangat, Bupati Kanis Tuaq menegaskan makna kurban tidak boleh berhenti pada ritual keagamaan semata.

Ia mendorong agar nilai pengorbanan diterjemahkan sebagai kesalehan sosial, kepedulian nyata terhadap sesama, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di tingkat lokal.

Pesan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pemerintah daerah menghendaki nilai agama hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari, bukan sekadar simbol.

Namun, di balik seruan tersebut, tersirat tantangan besar. Ajakan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, termasuk perbedaan pilihan politik, yang menunjukkan kohesi sosial di Lembata tidak sepenuhnya tanpa gesekan.

Dalam konteks ini, Idul Adha menjadi momentum refleksi, apakah nilai pengorbanan benar-benar mampu menembus batas kepentingan kelompok dan individu.

Wakil Bupati Muhamad Nasir menambahkan, dimensi lain melalui gagasan ‘rehumanisasi kehidupan’. Ia menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin terfragmentasi, baik oleh arus digitalisasi maupun dinamika sosial yang kian kompetitif.

Menurutnya, perayaan keagamaan harus menjadi ruang untuk mengembalikan manusia pada nilai dasar kemanusiaan, persaudaraan, empati, dan tanggung jawab bersama.

Kegiatan yang dihadiri berbagai unsur pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat itu ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang perlombaan.

Meski berlangsung meriah, pertanyaan yang tersisa justru lebih penting, sejauh mana pesan solidaritas dan rehumanisasi yang digaungkan dari Waowala dapat bertahan di luar panggung seremoni, dan benar-benar menjadi fondasi dalam kehidupan sosial masyarakat Lembata ke depan. (Lakonawa/Prokompimkablembata)