Derita di Atas Papan Kayu: Jembatan Ebaksrikan Paubokol Menanti Negara Turun Tangan

oleh -22 Dilihat

Jembatan Ebaksrikan Paubokol, urat nadi Wulandoni yang memprihatinkan.

PAUBOKOL, mediantt.com – Derit kayu basah kembali terdengar setiap kali ban sepeda motor dan mobil melintas. Di Desa Paubokol, Kabupaten Lembata, jembatan darurat Kasih Ebaksrikan selebar kurang lebih dua meter itu berdiri kaku. Beberapa papan mulai melengkung, seolah menunggu kendaraan berikutnya sebagai pemicu runtuhnya.

Setiap hari, jembatan itu dipaksa menopang mobil bak terbuka pembawa hasil bumi: ubi, kelapa, sayur, pisang dan hasil komoditi lainnya. Tak ada alternatif lain.

Di sinilah denyut ekonomi selatan Lembata lewat, melewati struktur rapuh yang memikul lebih dari sekadar berat kendaraan.

“Kalau jembatan ini putus, habis kami,” kata seorang petani yang meminta namanya tak dicatat. “Kami mau jual apa, lewat mana?” lanjutnya.

Di tepi jembatan, beberapa warga bergantian menambah sekeping papan, mengganjal sisi yang tergerus banjir. Sembari memasang, mereka merekam kondisi itu dengan telepon genggam lalu mengirimkannya ke grup WhatsApp.

Pesan yang menyertainya singkat dan getir: “Pemerintah tolong buka mata dulukah, lihat kami, kasihan leh!”

Jembatan Kasih: Monumen Gotong Royong yang Terabaikan

Ironi itu semakin dalam bila menengok sejarahnya. Jembatan Kasih Ebaksrikan bukan proyek pemerintah. Ia lahir dari puasa bersama, doa, dan swadaya warga tiga stasi gereja, Bakalerek, Paubokol, dan Uruor di bawah Paroki St. Arnoldus Jansen Waikomo.

Pada 2019, saat musim aksi puasa paroki, warga menggotong balok kayu, menancapkan tiang, merakit papan satu per satu. Seorang pejabat kecamatan waktu itu mengingat, ia menyaksikan sendiri semangat warga lalu mengikuti misa pemberkatan jembatan setelah tuntas dibangun.

Enam tahun berlalu. Jalur tengah menuju Wulandoni sebagian sudah beraspal mulus, tetapi jembatan Kasih tetap tua, rapuh, dan sendirian menopang lalu lintas komoditas.

Inilah pintu tunggal keluar-masuk umbi-umbian, kelapa, dan sayuran yang menghidupi pasar Lewoleba sekaligus tulang punggung ekonomi rumah tangga desa.

Infrastruktur Prioritas yang Tak Diprioritaskan

Pemerintah Kabupaten Lembata memahami risiko jembatan sementara itu. Namun alasan klasik muncul: keterbatasan anggaran. Sementara curah hujan meningkat, menambah tekanan pada struktur darurat yang kian renta.

Padahal, perannya strategis, ia bukan hanya jalur ekonomi, tapi akses pelayanan dasar: pendidikan, kesehatan, bahkan ibadah. Sebagian warga menyebutnya urat nadi Wulandoni.

Semakin sering video warga beredar, semakin keras desakan agar pemerintah pusat ikut turun tangan. Tanpa dukungan fiskal skala besar, jembatan Paubokol sulit beralih dari papan kayu ke konstruksi permanen.

Menunggu Negara Hadir

Di Paubokol, harapan terdengar sederhana: sebelum ada korban jatuh, sebelum panen tak bisa keluar, sebelum roda ekonomi macet, negara diharapkan hadir.

Bagi warga, ini tak lagi soal papan baru. Ini soal pengakuan bahwa daerah yang menopang kebutuhan kota layak hidup aman.

Jembatan Paubokol bukan sekadar potret kerentanan infrastruktur, ia metafora tentang bagaimana daerah produktif bisa tersisih dari radar kebijakan.

Di ujung papan yang basah itu, para petani menunggu. Menunggu suara mesin alat berat menggantikan derit kayu. Menunggu keputusan politik mengganti ketidakpastian. Menunggu negara benar-benar melihat ke arah selatan Lembata. (Lakonawa)