Dari Kebun ke Dapur MBG: Gerakan Marthen Dira Tome Bangun Kemandirian Pangan Sabu Raijua

oleh -101 Dilihat

SEBA, mediantt.com – Sebuah kebun sederhana di Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, menjelma menjadi lebih dari sekadar lahan pertanian. “Kebun Masa Depan” milik Bupati pertama Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, kini menjadi ruang belajar, sumber pangan, sekaligus contoh nyata bagaimana potensi lokal dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.

Sebuah kebun sederhana di wilayah Sabu Barat kini menjelma menjadi ruang belajar sekaligus sumber pangan bagi masyarakat. Kebun yang diberi nama “Kebun Masa Depan” (Future Gardens) milik Bupati pertama Sabu Raijua, Marthen Dira Tome, mulai memasok buah untuk kebutuhan dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sabu Raijua.

Pasokan perdana yang telah disalurkan dari kebun tersebut adalah buah semangka, yang menjadi bagian dari kebutuhan dapur MBG dalam mendukung penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat.

Namun, kebun ini tidak sekadar menjadi tempat produksi. Kebun Masa Depan juga difungsikan sebagai ruang pembelajaran praktis bagi generasi muda. Di lahan tersebut ditanam berbagai komoditas quick yielding atau tanaman cepat panen, seperti tomat, lombok (cabai), semangka, serta beragam jenis sayuran.

Menariknya, para pekerja di kebun ini bukan buruh tani profesional, melainkan pelajar mulai dari tingkat SD hingga SMA. Mereka datang setiap sore sepulang sekolah untuk belajar sekaligus bekerja.

Di bawah koordinasi Andro Riwu Rohi, para pelajar dilibatkan dalam seluruh proses pertanian, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen hasil kebun.

Bagi Marthen, keterlibatan pelajar bukan sekadar membantu pekerjaan, tetapi menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kecintaan terhadap sektor pertanian sejak dini.

“Anak-anak ini lebih memilih berkebun dan mendapatkan hasil dari kerja mereka daripada hanya menghabiskan waktu bermain game online atau menonton di ponsel,” ujar Marthen.

Sejak awal, kebun ini memang dirancang sebagai sarana belajar terbuka bagi siapa saja yang ingin memahami praktik pertanian secara langsung.

Tak hanya pelajar, dua guru sekolah dasar di Sabu Raijua, William Huma dan Kusel Kore, juga turut terlibat. Seusai mengajar, keduanya ikut bekerja di kebun bersama para siswa.
Kehadiran mereka tidak hanya menambah tenaga, tetapi juga menjadi teladan tentang pentingnya kerja keras dan kemandirian.

Selain itu, Marsel Bola, seorang sarjana peternakan, juga memilih terjun langsung ke kebun. Ia ingin menunjukkan bahwa gelar akademik tidak membatasi seseorang pada satu bidang pekerjaan, melainkan bisa menjadi bekal untuk berkontribusi di berbagai sektor.

“Keterlibatan tenaga pendidik dan lulusan perguruan tinggi ini mencerminkan semangat kolaborasi dalam membangun kemandirian ekonomi lokal,” kata Marthen.

Ia menilai program MBG seharusnya dilihat sebagai peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya petani.

“Kehadiran MBG harus disikapi dengan baik. Dengan menanam tanaman cepat panen, masyarakat punya peluang meningkatkan ekonomi keluarga,” ujarnya.

Marthen juga mengkritik kebiasaan sebagian pemimpin daerah yang dinilai terlalu bergantung pada bantuan pemerintah pusat.

“Saya heran kalau pemimpin daerah terlalu suka meminta ke pusat, padahal banyak hal yang bisa dikerjakan untuk menguatkan ekonomi masyarakat. Menunggu bantuan itu merendahkan harga diri kita,” tegasnya.

Ia meyakini Nusa Tenggara Timur tidak miskin, selama pemerintah daerah mampu menjadi motor penggerak dalam mengelola potensi yang ada. Sebagai contoh, Kebun Masa Depan kini telah menghasilkan berbagai komoditas, dengan ribuan tanaman tomat dan lombok yang siap panen.

Menurutnya, kebutuhan dapur MBG yang besar seharusnya menjadi peluang usaha bagi masyarakat di berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, hingga perikanan.

“Kalau kebutuhan dapur MBG tidak disiapkan oleh masyarakat kita, jangan heran kalau diambil pihak luar yang punya pasokan,” ujarnya.

Bagi Marthen, kunci kemajuan daerah terletak pada keberanian pemimpin untuk turun langsung menggerakkan sektor produktif.

“NTT tidak akan miskin jika darat dan laut digerakkan. Pertanyaannya, apakah pemimpin mau melakukan itu atau hanya safari sambil menadahkan tangan,” katanya.

Ia menegaskan, pemimpin tidak boleh hanya hadir di podium atau ruang rapat, tetapi harus berada di tengah masyarakat—bersama petani, peternak, dan nelayan.

Di tengah tantangan ekonomi dan efisiensi anggaran, menurutnya, daerah membutuhkan pemimpin yang mampu menggali dan mengelola potensi lokal secara nyata.

Marthen pun mengaku telah membuktikan bahwa hal yang dianggap sulit bisa diwujudkan.

“Saya sudah membuktikan, di daerah yang sangat sulit seperti Sabu Raijua, kita bisa melakukan hal yang menurut orang lain tidak mungkin,” ujarnya.

Melalui Kebun Masa Depan, ia berharap gerakan ini dapat menginspirasi masyarakat untuk mulai mengelola lahan mereka dengan tanaman cepat panen, sehingga ekonomi keluarga dapat tumbuh dari potensi tanah sendiri. (jrg/jdz)