LEWOLEBA, mediantt.com – Angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Lembata kembali menjadi perhatian utama Bupati P. Kanisius Tuaq, setelah hasil Audit Maternal Perinatal Surveilans Respons (AMPSR) menunjukkan 11 kasus kematian ibu dan berbagai faktor risiko pada bayi.
Dalam kegiatan pengkajian dan diseminasi hasil audit di Hotel Olympic Lewoleba, Rabu (10/12), Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Quintus Irenius Suciadi, mewakili Bupati Lembata P. Kanisius Tuaq menjelaskan, data dari AMPSR bukan sekadar laporan melainkan alarm yang harus mendorong semua pihak bertindak cepat dan tepat.
“Setiap kasus kematian ibu dan bayi adalah kerugian besar bagi generasi masa depan Lembata,” ujar Irenius Suciadi membacakan sambutan Bupati Lembata.
Lebih jauh dikatakan Bupati, “AMPSR membantu kita melihat akar masalahnya, mulai dari rendahnya pengetahuan masyarakat, pendampingan yang kurang optimal, hingga kapasitas tenaga kesehatan yang perlu ditingkatkan”.
Terlepas dari problematika ini, Bupati tetap mengapresiasi kerja keras Tim AMPSR dan tenaga kesehatan yang telah mengumpulkan data akurat sebagai fondasi perbaikan kebijakan.
Data yang akurat, bagi Bupati menjadi fondasi penting untuk merumuskan kebijakan dan langkah perbaikan yang tepat sasaran.
“Audit AMPSR bukan sekadar laporan, tetapi alat untuk memastikan setiap kasus memberikan pembelajaran dan memicu perbaikan layanan,” tegas Bupati Kanis Tuaq.
Sekretaris Dinas Kesehatan Lembata, dr. Bernardus Yosep Beda, mewakili Kadis Kesehatan, dr. Goerillya A. Huar Noning, menjelaskan, penyebab kematian ibu dan bayi disebabkan karena faktor medis dan non medis.
Faktor medis dan non medis itu seperti penyakit menular, rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi, hingga fasilitas kesehatan yang belum memadai. Sedangkan kematian pada bayi, dikarenakan faktor prematuritas, berat badan lahir rendah, dan infeksi.
Terhadap keadaan ini, dr. Bernard tegas mengungkapkan, kolaborasi belum berjalan efektif. Karena itu, ia menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor yang harus lebih diperkuat.
“Kita tidak bisa bekerja sendirian. Perlu kolaborasi lintas sektor dari desa hingga LSM untuk memperbaiki sarana prasarana dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Dengan langkah kolaborasi lintas sektor, diyakini persoalan kematian ibu dan bayi dapat dicegah sedini mungkin sekaligus meningkatkan keselamatan generasi masa depan Lembata.
Acara yang dihadiri oleh pengkaji eksternal dr. Irene K.L.A. Davidz, diharapkan menjadi wadah untuk mendapatkan masukan teknis meningkatkan layanan maternal dan neonatal.
Dinas Kesehatan menegaskan komitmennya untuk tetap menindaklanjuti hasil audit secara konsisten, agar setiap langkah bisa terukur dan benar-benar mengurangi angka kematian yang memprihatinkan. (Lakonawa/prokompimkablembata)
