Peluk Gubernur Sambil Menangis, Ayah dr. Icha Mohon Keadilan: Tolong Usut Tuntas Kematian Anak Kami

oleh -358 Dilihat

Gubernur Melki Laka Lena dan Ibu Asty melayat ke rumah duka dr Icha.

KUPANG, mediantt.com – Suasana duka menyelimuti rumah almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha) di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Minggu (28/6/2026). Tangis keluarga pecah saat Gubernur NTT Melkiades Laka Lena bersama Ketua TP PKK NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena datang melayat.

Di hadapan gubernur, ayah dr. Icha tak kuasa menahan air mata. Sambil memeluk Gubernur Melki, ia memohon agar kematian putrinya yang diduga berkaitan dengan intimidasi diusut hingga tuntas.

“Bapa Gubernur, saya minta penegakan keadilan, kebenaran, perlindungan keamanan dan kenyamanan, bukan hanya untuk anak saya, tetapi juga bagi seluruh tenaga kesehatan. Anak kami ingin mengabdi untuk daerah ini, tetapi hidupnya berakhir seperti ini. Tolong kami, Bapa,” ujarnya dengan suara bergetar.

Tangis juga datang dari ibunda dr. Icha. “Bapa Gubernur, lihat anak ini. Terlalu cantik. Hidupnya untuk TTU, tetapi dia juga mati untuk TTU,” katanya.

Suasana semakin mengharukan ketika adik dr. Icha menyampaikan cita-citanya menjadi dokter seperti sang kakak.

“Bapa Gubernur, beta juga mau jadi dokter seperti kaka. Tolong bantu beta,” ucapnya.

Menanggapi permintaan keluarga, Gubernur Melki menyampaikan belasungkawa sekaligus menegaskan Pemprov NTT akan mengawal penuh proses hukum hingga seluruh fakta terungkap.

Ia mengungkapkan telah menerima laporan mengenai dugaan intimidasi terhadap dr. Icha sejak awal dari seorang dokter spesialis toksikologi. Saat itu, dirinya langsung meminta Bupati TTU dan Ketua DPRD TTU memberi perhatian serius terhadap persoalan tersebut.

“Saya tidak menyangka persoalan ini berujung pada meninggalnya dokter Icha. Saya bahkan sempat meminta agar masalah ini diselesaikan secara baik-baik melalui dialog. Namun kemudian saya mendapat kabar dokter Icha meninggal dunia. Ini sangat memukul kita semua,” katanya.

Melki menegaskan, proses hukum harus berjalan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap dugaan keterlibatan tiga anggota DPRD Kabupaten TTU.

“Kita proses semuanya tanpa kecuali. Kita kawal agar proses hukum berjalan sampai terang benderang siapa saja yang harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Ia juga memastikan surat wasiat yang ditinggalkan dr. Icha dan kini telah berada di tangan penyidik akan menjadi bagian penting dalam pengungkapan perkara. Menurutnya, penyidik perlu mendalami seluruh rangkaian peristiwa, termasuk kemungkinan adanya faktor lain yang turut berkontribusi terhadap kasus tersebut.

Gubernur kembali mengingatkan bahwa Undang-Undang Kesehatan memberikan perlindungan kepada tenaga medis yang menjalankan tugas sesuai standar profesi.

“Dokter, perawat, bidan maupun tenaga kesehatan yang bekerja sesuai prosedur tidak boleh mengalami intimidasi atau kekerasan dalam bentuk apa pun. Siapa pun pelakunya, setinggi apa pun jabatannya, tetap dapat diproses secara hukum,” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, dr. Icha telah menjalankan seluruh prosedur medis dengan benar, termasuk berkonsultasi dengan dokter spesialis toksikologi, dan pasien yang ditangani telah dinyatakan sembuh.

Selain mengawal proses hukum, Pemprov NTT akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten TTU, DPRD TTU, Dinas Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta psikolog untuk memberikan pendampingan kepada tenaga kesehatan.

“Kita ingin memastikan seluruh dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan di NTT dapat bekerja dengan tenang. Pemerintah harus hadir memberikan perlindungan dan rasa aman bagi mereka,” tutup Gubernur Melki. (*/jdz)