Menenun Identitas: Literasi Lembata Berakar dari Laut, Tanah, dan Kandang

oleh -143 Dilihat

Penyerahan hadiah kepada peserta oleh Bunda Literasi Lembata Ny Ursula Surat Bayo.

LEWOLEBA, mediantt.com – Semangat literasi kembali bergema dan menancapkan akarnya lebih dalam di Kabupaten Lembata. Festival Literasi Kabupaten Lembata Tahun 2026 resmi dibuka di Halaman Dinas Kearsipan dan Perpustakaan setempat, Minggu (10/5/2026), menandai perjalanan empat tahun upaya membumikan budaya baca di tengah masyarakat.

Mengusung tema yang sarat makna lokal, ‘Dari Laut, Tanah dan Kandang, Kita Menenun Literasi Sebagai Nafas Kehidupan,’ tahun ini menjadi catatan sejarah tersendiri.

Antusiasme masyarakat melonjak signifikan, terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 580 orang yang berasal dari 41 sekolah berbagai jenjang. Angka ini merupakan partisipasi tertinggi sejak festival pertama kali digelar, membuktikan bahwa gairah literasi bukan sekadar wacana, melainkan gerakan yang kian masif.

Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah, Yohanes Berchmans Daniel Dai, yang mewakili Bupati Lembata, menegaskan paradigma baru dalam memaknai literasi.

Pemerintah daerah menolak mempersempit definisi literasi hanya sekadar kemampuan baca-tulis. Lebih dari itu, literasi dimaknai sebagai kemampuan memahami kehidupan, membaca tanda zaman, dan menyaring informasi di era digital yang serba cepat.

“Literasi harus tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Laut, tanah, dan kandang bukan sekadar sumber mata pencaharian, melainkan kelas terbuka yang mengajarkan kerja keras, ketekunan, dan kearifan lokal yang harus terus dijaga,” demikian inti pesan Bupati yang disampaikan.

Pendekatan yang mengakar pada kearifan lokal ini menjadi kunci agar generasi muda tidak kehilangan identitas di tengah modernitas.

Ketua Panitia, Frans Sabaleku melaporkan, festival ini adalah bagian dari strategi besar dinas untuk menaikkan indeks minat baca masyarakat.

Tidak hanya berhenti pada acara seremonial, Pemkab Lembata juga konsisten menjalankan program berkelanjutan seperti ‘Goris Keraf Go To School’ yang menjangkau langsung institusi pendidikan.

Rangkaian kegiatan yang digelar pun dirancang untuk mengasah daya kritis dan kreativitas. Mulai dari Parade Literasi yang memukau, lomba bertutur, resensi buku, hingga diskusi mendalam mengenai ecoliteracy berbasis budaya lokal.

Kehadiran Bunda Literasi Kabupaten Lembata, Ny. Ursula Surat Bayo, serta berbagai elemen mulai dari tokoh adat, pendidikan, hingga pemerintahan, menunjukkan sinergi penuh dalam mendukung gerakan ini.

Di tengah hiruk-pikuk kegiatan, Festival Literasi 2026 hadir bukan hanya sebagai agenda tahunan, melainkan bukti komitmen Lembata dalam mencetak generasi yang cerdas, kritis, namun tetap berpegang teguh pada akar budaya dan jati diri daerah. (Lakonawa/Prokompimkablembata)