Tanam Padi Serentak di Manusak, NTT Tancap Gas Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan

oleh -87 Dilihat

MANUSAK, mediantt.com – Di tengah tantangan iklim dan ancaman krisis pangan global, Nusa Tenggara Timur memilih tidak tinggal diam. Dari hamparan sawah Desa Manusak, Kabupaten Kupang, Pemerintah Provinsi NTT menggerakkan tanam padi serentak sebagai penanda tekad besar: NTT harus berdiri di atas kaki sendiri dalam urusan pangan.

Sektor pertanian kembali ditegaskan sebagai fondasi kedaulatan dan ketahanan pangan Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen itu diwujudkan melalui Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi NTT yang dipusatkan di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Senin (16/2/2026).

Kegiatan ini dihadiri Gubernur NTT Melki Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Bupati Kupang Yosef Lede, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, perwakilan Kementerian Pertanian RI, unsur TNI/Polri, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta Rektor Undana Jefri Semuel Bale bersama mahasiswa.

Gubernur Melki menegaskan, gerakan tanam serentak ini merupakan wujud komitmen bersama pemerintah daerah, petani, penyuluh, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjadikan pertanian sebagai fondasi utama perekonomian masyarakat.

“Di bawah langit Desa Manusak hari ini kita menanam padi secara serentak untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan di NTT dan Indonesia. Saya yakin kita semua ingin NTT benar-benar swasembada pangan,” tegasnya.

Menurutnya, gerakan ini juga menjadi momentum untuk memuliakan petani sebagai pahlawan pangan. “Petani adalah pejuang yang memastikan kita bisa makan setiap hari. Karena kerja keras merekalah, berbagai menu tersaji di meja makan kita. Petani adalah pahlawan bagi kita semua,” ujarnya.

Gubernur Melki juga memaparkan capaian produksi gabah kering giling (GKG) NTT tahun 2025 yang hampir menyentuh angka 1 juta ton. “Tahun 2025 produksi GKG mencapai 968.324 ton. Ini meningkat 260.532 ton atau 36,81 persen dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara produksi beras tahun 2025 tercatat sebesar 567.178 ton, naik 152.602 ton atau 35,38 persen dari tahun 2024 yang sebesar 414.576 ton. Peningkatan ini turut berdampak pada naiknya penyerapan beras oleh Perum Bulog NTT sebanyak 6.056 ton.
Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman atas dukungan maksimal bagi sektor pertanian di
NTT.

“Saya bersama para bupati dan wali kota sudah tiga kali bertemu Menteri Pertanian. Semua usulan terkait alsintan, traktor, pompa air, bibit hingga pupuk direspons dengan sangat baik. Ini bukti nyata dukungan terhadap Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Johni Asadoma menekankan pentingnya strategi adaptasi pertanian berbasis potensi daerah. Ia mencontohkan Kabupaten Sabu Raijua yang memiliki potensi besar untuk pengembangan sorgum dan jagung.

“Kita tidak harus terpaku pada beras. Sorgum dan jagung sangat cocok di lahan kering seperti Sabu. Ini bisa menjadi substitusi beras yang efektif,” kata Johni.

Menurutnya, lahan-lahan yang tersedia harus dimanfaatkan secara optimal agar ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada satu komoditas.

Target 100 Ribu Ton

Bupati Kupang Yosef Lede menargetkan produksi padi tahun 2026 mencapai 100.000 ton, meningkat dari 87.000 ton pada tahun sebelumnya. “Kami optimistis tahun ini bisa mencapai 100 ribu ton,” ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, Pemkab Kupang menerapkan sistem brigade alat dan mesin pertanian (alsintan), program cetak sawah rakyat, serta optimalisasi lahan tadah hujan. Selain itu, tengah disiapkan regulasi pembentukan BUMD Agrobisnis guna menjamin stabilitas harga hasil panen petani.

Langkah ini diharapkan mampu memastikan kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Kupang dipenuhi dari produksi lokal.

Target Luas Tanam Naik 7,9 Persen

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan, pada tahun 2026 Pemprov NTT menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90 persen menjadi 273.800 hektare dari sebelumnya 253.700 hektare.

Target produksi padi dipatok sebesar 1.186.456 ton GKG atau setara 694.944 ton beras, untuk memenuhi kebutuhan beras NTT yang rata-rata mencapai 650.000 ton per tahun. Atas capaian peningkatan produksi tersebut, NTT meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian RI pada Januari 2026.

“NTT termasuk lima provinsi penerima Pin Swasembada bersama Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan Papua Selatan. Kami juga memberi apresiasi kepada tiga kabupaten dengan produksi padi tertinggi, yakni Manggarai Barat, Kupang dan Sumba Timur,” tutup Joaz. (meldo/jdz)