LEWOLEBA, mediantt.com – Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq secara terbuka mengakui masih adanya persoalan strategis yang menghambat pembangunan di wilayah Lembata.
Pengakuan itu disampaikan Bupati di hadapan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena saat peresmian Galeri NTT Mart by Lembata di kota Lewoleba, Kamis (5/1).
Dua masalah utama yang disorot Bupati adalah belum beroperasinya Pelabuhan Feri Waijarang serta keterbatasan dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kerap melanda Kabupaten Lembata.
Menurut Bupati, kondisi tersebut berdampak langsung pada mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta aktivitas nelayan, petani, dan pelaku usaha.
Dikatakan Bupati, pelabuhan Waijarang selama ini menjadi pusat distribusi orang dan barang. Ketika tidak berfungsi, perputaran ekonomi masyarakat langsung terganggu.
Persoalan BBM juga dinilai memperberat beban ekonomi masyarakat karena sering terjadi kelangkaan dan stok yang terbatas.
Situasi ini membuat biaya produksi dan distribusi meningkat, terutama bagi nelayan dan petani.
Bupati berharap, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat memberi perhatian serius dan dukungan berkelanjutan terhadap pembangunan infrastruktur dasar dan ketersediaan energi di Lembata.
Di sisi lain, Bupati Kanis Tuaq menilai kehadiran NTT Mart sejalan dengan arah pembangunan daerah berbasis Nelayan, Tani, dan Ternak. Menurutnya, tantangan utama ekonomi daerah terletak pada hilirisasi dan akses pasar.
Saat ini beberapa produk unggulan khas Lembata, mulai dilirik di pasaran. Dengan kehadiran NTT Mart, akan semakin membuka peluang akses pasar yang lebih besar.
“NTT Mart menjadi jawaban atas keterbatasan akses pasar produk lokal,” kata Bupati Kanis.
Meski demikian, Bupati menegaskan keberhasilan program ekonomi daerah tetap bergantung pada penyelesaian persoalan mendasar, terutama pelabuhan feri dan ketersediaan BBM di wilayah kepulauan. (Lakonawa/Prokompimkablembata)
