Tiga Jam Bersama Ratu Kontroversial; Perempuan Tangguh dari Sumba Barat Daya

oleh -428 Dilihat

Sabtu, 25 Oktober 2025. Dalam suasana hangat di Restoran Hotel Sotis Kupang, tiga Jurnalis NTT; Joey Rihi Ga, Andyos Manu dan Yos Diaz Beraona, berbincang akrab dengan Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla. Obrolan yang mengalir penuh kehangatan itu tak sekadar tentang pembangunan daerah, tetapi juga tentang harapan, cinta tanah kelahiran, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hati yang tulus melayani. Berikut catatan bersama Sang Ratu Kontroversial.
——————–

KETIKA hasil pemilihan legislatif diumumkan pada awal 2024, nama Ratu Wula kembali mencuri perhatian publik NTT, khususnya Sumba Barat Daya. Perempuan yang lima tahun sebelumnya duduk di Senayan sebagai anggota DPR RI dari Partai NasDem itu, lagi-lagi memperoleh dukungan luar biasa.
Suara rakyat mengalir deras dari pelosok desa dan kecamatan; dari ladang-ladang di Kodi hingga pesisir Wewewa. Ratu Wula kembali menang dengan selisih suara yang tak terbantahkan. Bagi masyarakat, kemenangannya bukan sekadar hasil politik, melainkan bentuk kepercayaan.

Selama periode 2019 – 2024, Ratu Wula dikenal sebagai wakil rakyat yang bekerja tanpa banyak kata. Ia tak suka tampil di layar televisi atau bersuara lantang di ruang parlemen, tetapi ia selalu hadir di tengah rakyatnya. Ratu Wula  membawa banyak program pembangunan untuk Sumba, memperjuangkan infrastruktur dasar, air bersih, beasiswa, dan bantuan ekonomi rakyat kecil. Karena itu, ketika ia kembali terpilih, rakyat Sumba Barat Daya merasa bangga, seolah kemenangan itu milik mereka bersama.

Namun beberapa bulan kemudian, kabar yang tak disangka-sangka datang. Ratu Wula memutuskan mundur dari keanggotaannya di DPR RI, bahkan sebelum masa jabatan barunya dimulai. Keputusan itu mengejutkan. Rakyat marah. Dukungan yang dulu diberikan dengan penuh cinta berubah menjadi tanda tanya besar. Mengapa Ratu Wula mundur? Mengapa ia menyerahkan kursi yang diperjuangkan dengan suara rakyat, dan digantikan oleh sosok lain yang justru dulu menjadi lawan politiknya?

Rakyat di Sumba Barat Daya bereaksi keras. Spanduk protes muncul di beberapa sudut kota Tambolaka. Media lokal menurunkan berita berjudul tajam: “Ratu Wula Mundur, Rakyat Merasa Dikhianati?” Namun di tengah gelombang kekecewaan itu, Ratu Wula memilih diam. Bungkam. Ia tak membela diri, tak menulis klarifikasi, tak juga mencari panggung. Hanya senyum tenang yang ia tunjukkan setiap kali ditanya.

“Kadang diam itu juga bentuk kasih,” katanya, singkat, sambil tersenyum.

Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah forum besar yang dihadiri ribuan warga di Tambolaka, Ratu Wula akhirnya bicara terbuka. Suasana hening ketika ia melangkah ke podium. Dengan nada lembut, Ratu berkata: “Saya mundur bukan karena saya lelah. Saya mundur karena saya ingin pulang. Saya ingin bekerja langsung di tanah ini, bersama bapak mama semua.”

Kata-kata itu membuat lapangan bergemuruh. Banyak yang meneteskan air mata, banyak pula yang mengangguk pelan. Tiba-tiba, keputusan yang dulu dianggap kontroversial, mulai bisa dimengerti.

Ternyata, di balik langkah yang mengejutkan itu, Ratu Wula sudah menyiapkan agenda politik yang lebih besar: ia akan maju sebagai calon Bupati Sumba Barat Daya untuk periode 2024–2029. Ia ingin memimpin dari tanah sendiri, bukan dari jauh.

“Saya tidak pernah menyesal mundur dari DPR. Justru di sanalah saya belajar arti sesungguhnya dari pengabdian. Karena kadang, untuk maju, kita harus berani melangkah pulang,” tutur Ratu Wula.

Ratu Wula maju Pilkada SBD tandem dengan Dominikus Alphawan Rangga Kaka, yang akrab disapa Angga Kaka. Keputusan yang semula tampak sebagai mundur, sebenarnya adalah langkah maju dengan arah yang lebih dalam; pulang untuk membangun.

Sejak saat itu, perjalanan politik Ratu Wula berubah menjadi perjalanan spiritual. Ia berkeliling kampung, menyapa rakyat satu per satu, mendengarkan mereka dengan telinga dan hati yang terbuka.

“Kalau bapa mama tidak ragu-ragu mendukung dan memilih saya,” katanya di setiap pertemuan, “maka saya juga tidak akan ragu memperjuangkan aspirasi bapa mama.”

Dukungan pun mengalir deras. Rakyat yang sempat kecewa kini justru semakin solid. Dalam pilkada 2024 itu, Ratu Wula dan pasangannya berhasil meraih kemenangan meyakinkan, dengan perolehan suara sebanyak 74.559 atau 48,11% dari total suara sah.

Rakyat bersorak, bukan hanya karena kemenangan itu, tapi karena mereka tahu, pemimpinnya telah kembali ke rumah.

Begitu dilantik, Ratu Wula tidak menunggu waktu. Ia langsung “tancap gas”. Dia Gercep; gerak cepat. Di tengah keterbatasan fiskal daerah, ia menjalankan pemerintahan dengan prinsip efisiensi dan kehadiran langsung. Setiap pagi, ia memimpin rapat koordinasi bersama wakil bupati, sekda, dan para kepala dinas. Setelah itu, ia turun ke lapangan; meninjau desa, pasar, sekolah, dan rumah warga.

“Saya lebih suka ada di tengah rakyat,” ujarnya.

Dan itu bukan sekadar kata. Dalam sehari, ia bisa menghadiri rapat pagi di kantor bupati, menandatangani berkas penting, lalu menempuh perjalanan jauh ke pelosok untuk melihat kondisi rakyatnya.

Setiap dua minggu, ia membuka “Rabu Rakyat”, hari di mana masyarakat bebas datang ke rumah jabatan untuk menyampaikan keluhan, aspirasi, atau sekadar curhat. Ia menerima semuanya dengan sabar, tanpa jarak. Bagi rakyat, Ratu Wula bukan sekadar bupati, ia adalah Mama Ratu, tempat mengadu dan berharap.

Ratu Wula juga hadir di setiap hajatan rakyat, baik suka maupun duka. Ia tak pernah bersembunyi di balik protokol. “Kalau rakyat butuh, saya datang,” katanya.

Bagi Ratu Wula, kepemimpinan bukan tentang pencitraan. Ia tampil apa adanya, tanpa rekayasa, tanpa kampanye pencitraan di media sosial. Setiap foto, setiap video yang tersebar tentang dirinya, selalu natural, karena semuanya terjadi begitu saja, apa adanya. “Lebih baik saya tidak populer, daripada mengkhianati kepercayaan rakyat,” ujarnya.

Ketika ditanya mengapa ia memilih jalan yang berbeda, ia hanya tersenyum dan berkata: “Saya mau Sumba Barat Daya maju. Saya mau kita semua melompat lebih jauh. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?”

Langkahnya yang dulu disebut kontroversial kini menjadi teladan. Ratu Wula bukan hanya pemimpin perempuan pertama yang berani menantang arus politik, tapi juga simbol keberanian untuk memilih nurani di atas kepentingan pribadi.

Dari seorang ibu rumah tangga menjadi anggota DPR RI, lalu mundur untuk pulang menjadi bupati; kisahnya adalah bukti bahwa cinta tanah kelahiran mampu mengalahkan logika politik.

Dan sejak hari itu, rakyat Sumba Barat Daya tahu: Ratu Wula mereka bukan hanya seorang pejabat, tapi seorang perempuan yang benar-benar mengabdi.

Kini, setiap kali Ratu Wula berkeliling ke desa-desa, ia tak lagi disambut sebagai pejabat. Ia disambut sebagai “Mama Ratu”. Anak-anak berlarian memanggil namanya, para ibu datang menyalaminya dengan air mata haru, dan para petani bercerita tentang sawah mereka yang kini lebih mudah dialiri air.

Di pasar, ada pedagang yang bangga menunjukkan lapak baru hasil program pemberdayaan ekonomi lokal. Dulu, ada yang jualan di tanah, sekarang sudah punya kios sendiri. Semua karena Mama Ratu. Ratu Wula pun selalu membalas dengan kalimat sederhana: “Kalau rakyat bekerja dengan hati, pemerintah harus hadir dengan kasih.”

Makna Pulang yang Sebenarnya

Ratu Wula telah menempuh perjalanan panjang; dari seorang ibu rumah tangga, menjadi wakil rakyat di Senayan, lalu kembali ke kampung halaman untuk memimpin Sumba Barat Daya.

Ia telah melewati pujian dan kritik, kemenangan dan kehilangan, namun satu hal tidak pernah berubah: hatinya yang selalu ingin pulang.

Baginya, pulang bukan sekadar kembali ke tanah kelahiran. Pulang adalah menemukan panggilan sejati; melayani dengan sepenuh hati di tempat di mana dirinya dibentuk, dibesarkan, dan dicintai.

Keputusannya untuk mundur dari kursi DPR RI dulu dianggap langkah kontroversial. Tapi kini, setelah waktu berjalan, rakyat mengerti: ia tidak mundur karena menyerah, melainkan karena ia ingin melangkah lebih dekat ke rakyat.

Ia tidak mencari kekuasaan; ia mencari makna. Dan dalam pengabdiannya, ia menemukannya; di mata para ibu yang tersenyum, di tangan-tangan petani yang berterima kasih, di tawa anak-anak yang kini bisa bersekolah tanpa takut hujan karena atap kelas mereka tak lagi bocor. Ah… (jdz)