KUPANG, mediantt.com – Senator atau anggota DPD RI asal NTT, Hilda Riwu Kore-Manafe, SE, MM, Selasa (27/11), menggelar Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kepada kaum milenial, khususnya mahasiswa, juga kepada aktifis cinta damai yang tergabung dalam Komunitas Peace Maker Kupang (Kompak).

“Empat Pilar Kebangsaan adalah Soko Guru (tiang penyangga yang kokoh) bagi Rumah besar Indonesia dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan kemerdekaan, sekaligus menjadi pedoman dalam penyelenggaraan seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Senator Hilda.

Ia juga mengajak kaum muda mahasiswa dan para aktifis Kompak untuk selalu membawa misi damai dalam membangun kerukunan antar agama dan etnis di NTT dan khususnya Kota Kupang.

“Semua ini harus sesuai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Orang muda adalah pemimpin bangsa ke depan, jadi Kompak harus terus melakukan kegiatan-kegiatan positif,” imbuh Senator Hilda.

IDi tengah makin maraknya isu sara, intoleran dan radikalisme di Indonesia, namun di Kota Kupang masih ada yang peduli dan cinta damai, yang terus bergerak memberantas paham tersebut.

Salah satunya adalah Komonitas Peace Maker Kupang (Kompak). Organisasi kecil ini terus menyuarakan kedamaian dan juga memberi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya toleransi.

Ketua Peace Maker Kupang Sarniel Woleka saat sosialisasi 4 Pilar Kebangaaan di Gedung DPD.RI NTT Selasa (26/11/2016), mengatakan, banyak intoleran yang terjadi di Indonesia, karena itu Peace Maker Kupang (Kompak) ingin menyampaikan bahwa ada damai di NTT, khususnya Kota Kupang. Dalam kiprah juangnya, Kompak yang beranggotakan berbagai agama dan etnis itu membingkai diri dalam moto : ”Dari Kupang untuk Indonesia Damai”. Mereka akan terus berjuang untuk menjaga toleransi antar umat beragama. ”

“Kami hanya ingin sampaikan ke seluruh Indonesia kalau ada damai di NTT,” tegasnya.

Ia menyebutkan ada berbagai kegiatan yang dilakukan Kompak, antara lain, menggelar sosialisasi, menjalin kerja sama antar pimpinan agama dan berbagai kegiatan lainnya.

Sementara itu, Winston Rondo dalam pemaparan materinya menjelaskan, bahwa hasil survei menunjukkan adanya peningkatan angka Intoleransi di Indonesia. Ia juga mengatakan, yang terjadi saat ini para politisi menggunakan isu “Sara”. Dan, mayoritas komunitas agama, yang cinta damai masih terkesan diam. “Ada proses yang sengaja dan sistematis,” ujar mantan anggota DPRD NTT ini.

Ia juga menyatakan media masih menyediakan ruang yang luas bagi para penyebar hoax dan juga penyebar intoleransi. “Kerja perdamaian membutuhkan energi dan fisalitas tinggi sehingga harus ada optimisme dalam diri,” tegas Winston.

Ia juga berharap Kompak mendukung lahirnya Peraturan Walikota (Perwali) tentang Kerukunan Beragama di Kota Kupang.

“Jika itu terwujud, maka itu Perwali pertama di Indonesia bagian timur. Jadi Kompak harusnya mendukung Pemkot untuk melahirkan Perwali soal kerukunan beragama,” katanya. (jdz)