JAKARTA – Perekonomian di tahun 2016 diperkirakan akan lebih baik ketimbang tahun ini. Tapi bisnis perbankan diramalkan masih berat.

Tinggal empat hari lagi tahun 2015 harus kita lepaskan. Mungkin  dengan nafas lega, karena satu periode berat telah berlalu. Apakah tahun 2016 akan serupa juga? Tampaknya begitu. Kelesuan ekonomi dunia, ditambah melambatnya pertumbuhan  ekonomi China, dan diperparah lagi oleh menguatnya nilai tukar dolar, adalah faktor eksternal yang dapat mengancam perekonomian Indonesia pada tahun 2016.

Namun, seberat apapun 2016, toh harus kita lewati juga. Pemerintah sendiri begitu optimis menghadapi tahun Monyet Api ini dengan menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5,8% – 6,2%. Kalaupun meleset, seperti dikatakan Agus Martowardojo, pertumbuhan sebesar 5,2% – 5,6% masih dalam jangkauan. “Kita memang perlu hati-hati dengan pelambatan ekonomi dunia, China, harga komoditi, dan The Fed rate,” ujar Gubernur Bank Indonesia ini, seperti dilansir indonesianreview.com.

Seberapa tepat perkiraan itu, tentu tergantung dari beberapa faktor yang bersifat ekonomi dan politik. Di bidang politik, misalnya, kita tidak boleh melupakan kasus perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia yang berpotensi memecah belah DPR dan Kabinet Kerja Jokowi – JK. Di bidang ekonomi, tentu tergantung kebijakan-kebijakan pemerintah yang bakal muncul di tahun 2016.

Sebenarnya, dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%, kondisi ekonomi Indonesia secara makro boleh dikatakan lumayan. Memang, banyak sudah pendapat dan diskusi yang menganjurkan agar kebijakan di sektor riil lebih dipacu lagi. Jika hal itu bisa diwujudkan, dan nilai tukar rupiah stabil, insyah Allah perekonomian tahun depan tidak akan lebih jelek dari 2015. Bahkan, lebih bagus sedikit.

Tapi sayang, banyak kalangan meragukan sektor riil bakal melaju kencang. Soalnya, tahun Monyet Api ini akan ditandai dengan kenaikan suku bunga The Fed. Setelah beberapa hari lalu mengerek suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) ke 0,5%,  The Fed diduga akan kembali mengulangnya di kuartal II dan IV 2016 masing-masing 25 bps. Dan, tahun berikutnya kembali naik 25 bps, sehingga pada 2017 suku bunga The Fed akan berada di level 1,25%.

Karena suku bunga The Fed diperkirakan akan terus naik, masuk akal kalau BI mempertahankan tingkat bunganya di level 7,5%. Tapi bukan berarti peluang penurunan BI rate sudah tidak ada. Kajian Citigroup Securities Indonesia menyebutkan, BI akan memangkas suku bunganya masing-masing sebesar 25 bps di kuartal II dan IV – 2016.

Menurut Ferry Wong, Direktur dan Kapala Riset  Citigroup Securities Indonesia, tahun depan kemungkinan BI rate turun 50 bps. Lantas, apa yang membuat Ferry begitu yakin? Ada beberapa faktor. Salah satunya adalah perkiraan Citigroup mengenai inflasi di 2016 yang akan berada di kisaran 4%. Sebab, selama ini, BI rate memang selalu berselisih 2,5% sampai 3,5% di atas tingkat inflasi. “Jarak antara BI rate dan inflasi saat ini masih lebar,” katanya.

Makin Meredup

Dengan suku bunga yang relatif tinggi, pertumbuhan  kredit di  tahun 2016 diperkirakan tidak akan terlalu besar. Namun, jangan salah, bukan hanya faktor   suku bunga yang membuat pertumbuhan kredit bakal tetap kontet. Kredit bermasalah (NPL) diperkirakan masih akan mengancam industri perbankan, sehingga memaksa para bankir untuk tetap bersikap hati-hati dalam mengucurkan kreditnya.

Menurut Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Keuangan dan Strategis Bank Mandiri, dampak kelesuan ekonomi masih akan terasa sampai kuartal I – 2016 sehingga NPL masih berpotensi naik. Itu sebabnya, tahun depan, Bank Mandiri  hanya menargetkan pertumbuhan kredit 13% – 15%. “Kredit akan tumbuh kencang baru tahun 2017,” ujar Kartika.

Selain persoalan suku bunga dan NPL, aturan Basel III juga bakal menghambat kucuran kredit bank. Soalnya, aturan yang  akan diterapkan secara bertahap mulai 2016 itu mengharuskan bank berdampak sistemik  menyediakan modal tambahan (capital surcharge) antara 1% – 2,5% dari aset tertimbang menurut risiko (ATMR). Semakin besar dan kompleks bank yang bersangkutan, semakin besar juga biaya tambahan yang harus disediakan.

Tidak hanya itu saja, bank juga harus menyediakan capital konservation buffer yang nilainya 0,65% – 2,5% dari ATMR. Lalu, bagi bank yang pertumbuhan kreditnya berlebihan, mereka wajib menyediakan biaya tambahan berupa countercyclical capital buffer antara 0% – 2,5% dari ATMR.

Aturan Basel III tak hanya akan mengekang kredit, tapi juga membuat pusing pemilik bank. Bank Bukopin, contohnya. Kendati rasio kecukupan modalnya (CAR) mencapai 14,5%, bank berlogo pohon beringin ini masih membutuhkan suntikan modal Rp 1,5 triliun – Rp 2 triliun agar bisa ekspansi. Itu sebabnya, seperti dikatakan Glen Glenardi, Direktur Utama Bank Bukopin, bank yang dipimpinnya berencana menerbitkan surat utang atau saham baru.

Tantangan yang dihadapi industri perbankan di 2016 memang tidak ringan. Di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih benar, suku bunga tinggi, NPL, dan aturan  Basel III, jelas makin mempersulit bank menjalankan roda bisnisnya. Paling tidak, beban yang mesti ditanggung akan semakin berat. Itu sebabnya, beberapa kalangan berpendapat gemerlap bisnis perbankan bakal makin meredup di 2016.

Tapi, bukan berarti masalah ini tidak bisa dipecahkan. Keberhasilan BCA dan BTN  mengalihkan dana mahal ke dana murah, mungkin pantas ditiru. BTN, misalnya. Di saat sejumlah bank mengalami penurungan laba bersih, bank yang fokus di sektor pembiayaan perumahan ini di kuartal III justru berhasil membukukan kenaikan laba bersih 61,8%.  (indrev/jk)

Foto : Ilustrasi